MERDEKA MENURUT UKURAN SIAPA?

Percakapan Yanuar Nugroho di FAJAR #12 membawa saya kembali pada pertanyaan yang sejak awal menggerakkan Akar Daya: jangan-jangan persoalan masyarakat sipil bukan hanya kekurangan sumber daya, tetapi cara kita melihat apa yang disebut sumber daya.

Selama ini, percakapan tentang resourcing civil society terlalu mudah menjadi percakapan tentang funding civil society: berapa dana tersedia, siapa donor berikutnya, dan proposal apa yang bisa diajukan. Padahal pengalaman komunitas menunjukkan bahwa sesuatu terus hidup bahkan ketika dana terbatas: pengetahuan, jejaring, kerelawanan, kepercayaan, keberanian, solidaritas, kegigihan dan mungkin bentuk-bentuk daya lain yang bahkan belum kita beri nama. Inilah mengapa bagi IKa, Catur Daya: Dana, Pengetahuan, Jejaring, dan Kerelawanan adalah teropong, bukan checklist.

Dari empat cerita Akar Daya, Yanuar menangkap satu energi yang terasa kuat: keresahan yang tidak berujung pada menyerah. Orang-orang yang resah, tetapi tetap berjalan.

Ini penting. Sebab kita sering mencari daya dalam sesuatu yang sudah rapi: organisasi yang kuat, pendanaan yang cukup, sistem yang mapan, atau program yang terukur. Padahal mungkin daya justru sedang bekerja dalam sesuatu yang jauh lebih sederhana dan messy: kegigihan untuk terus mencoba, pengetahuan yang lahir dari pengalaman, orang yang bersedia membantu, hubungan yang terus dirawat, atau keberanian untuk memulai meskipun belum tahu akan sampai ke mana.

Bagi IKa, justru di wilayah yang belum rapi inilah the emergence menarik untuk diperhatikan. Bukan untuk buru-buru membuktikan bahwa Akar Daya berhasil, atau mengubah pengalaman menjadi success story dan model baru, tetapi untuk bertanya: apa yang sebenarnya sedang tumbuh? Apa yang membuatnya hidup? Dan daya apa yang selama ini tidak kita lihat?

Pengetahuan atau kuasa untuk menentukan apa yang disebut pengetahuan?

Di sinilah pembacaan Yanuar menjadi lebih provokatif.

Ketika ditanya daya apa yang paling mendasar, ia memilih pengetahuan. Tetapi kemudian ia membawa pengertian pengetahuan jauh melampaui informasi, keahlian, atau sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam laporan. Menurutnya, sesuatu yang mendasar terjadi ketika:

“Kita berhenti membiarkan orang lain mendefinisikan siapa kita. Kita berhenti membiarkan orang lain mengukur siapa kita.”

Yanuar menyebutnya kemerdekaan epistemik: keberanian untuk tidak terus-menerus melihat diri melalui epistemologi, kategori, dan ukuran orang lain; untuk mempunyai cara sendiri dalam mengatakan apa yang penting, apa yang bermakna, dan apa yang bernilai.

Bagi kami di IKa, gagasan ini menyentuh jantung Akar Daya. Karena pertanyaan tentang sumber daya ternyata tidak pernah netral.

Siapa yang mempunyai kuasa untuk mengatakan sesuatu adalah “aset”?
Siapa yang menentukan pengetahuan mana yang dianggap sah?
Siapa yang menetapkan ukuran sebuah organisasi disebut kuat atau lemah?
Dan siapa yang akhirnya menentukan apa yang dianggap sebagai keberhasilan?

Ini pula yang membuat percakapan tentang Shift the Power tidak cukup berhenti pada pemindahan dana. Dalam perjalanan IKa, pertanyaannya memang lebih dalam: siapa yang mengetahui, siapa yang menentukan, siapa yang dipercaya, siapa yang mempunyai relasi, dan siapa yang mempunyai daya untuk bertindak?

Kalau uang berpindah tetapi definisi masalah, desain program, ukuran keberhasilan, dan pengetahuan yang dianggap sah tetap ditentukan dari luar, apakah power sungguh sudah bergeser?

Bagaimana kalau pengetahuan yang paling berharga justru tidak pernah masuk proposal?

Yanuar mengingatkan bahwa tidak semua pengetahuan dapat dikodifikasi. Ada pengetahuan yang bisa ditulis menjadi resep, panduan, modul, atau laporan. Tetapi ada pula pengetahuan yang hanya bisa diwariskan melalui praktik dan pengalaman.

Ini mengusik cara kita melihat komunitas.

Bisa jadi masyarakat memiliki pengetahuan yang sangat kaya tentang bagaimana bertahan, merawat relasi, membaca lingkungan, menyelesaikan konflik, mengorganisir solidaritas, atau menggerakkan orang. Tetapi karena pengetahuan itu tidak hadir dalam bahasa proyek, indikator, logframe, atau laporan, kita tidak mengenalinya sebagai sumber daya.

Bagaimana kalau yang selama ini kita sebut “komunitas kekurangan kapasitas” sebenarnya adalah kita yang kekurangan kemampuan untuk melihat kapasitas mereka?

Akar Daya mencoba memindahkan titik berangkat itu. Bukan hanya bertanya, “Apa yang kurang dan siapa yang bisa membantu?”, tetapi: “Apa yang sebenarnya sudah ada? Apa yang selama ini tidak kita lihat sebagai daya? Bagaimana daya itu dikenali, dihargai, dirawat, dihubungkan, lalu digerakkan?”

Keswadayaan bukan berjalan sendirian

Namun ada jebakan lain yang perlu dihindari.

Mengakui daya masyarakat bukan berarti mengatakan bahwa komunitas tidak membutuhkan pihak lain. Keswadayaan juga bukan jawaban murah ketika donor pergi: tidak ada dana, silakan mandiri.

Bagi IKa, keswadayaan justru berarti semakin mampu mengenali dan menggerakkan daya sendiri sambil membangun hubungan yang saling memperkuat dengan pihak lain. Agency yang tumbuh dari dalam seharusnya memungkinkan relasi yang lebih sehat dan setara bukan isolasi atau self-sufficiency.

Karena itu, jejaring tetap penting. Dana tetap penting. Pihak luar tetap penting.

Yang berubah adalah posisi dari mana hubungan itu dimulai.

Bukan lagi hanya:

“Kami kekurangan apa, dan siapa yang bisa memberikannya?”

Tetapi:

“Kami sudah mempunyai daya. Kamu juga mempunyai daya. Apa yang menjadi mungkin ketika daya-daya itu bertemu?”

Dan mungkin organisasi masyarakat sipil sendiri perlu berubah

Yanuar kemudian membawa percakapan ke wilayah yang lebih tidak nyaman: bentuk organisasi masyarakat sipil yang kita kenal mungkin juga sedang berubah.

Batas lama antara organisasi pelayanan, pembangunan, advokasi, pengetahuan, bahkan bisnis sosial semakin kabur. Cara kerja masyarakat sipil mungkin tidak dapat terus diasumsikan akan sama seperti sebelumnya.

Bagi IKa, ini bukan sesuatu yang perlu buru-buru dijawab. Ini justru pertanyaannya menarik:

Bagaimana kalau masa depan masyarakat sipil tidak hanya lahir dari memperkuat organisasi yang sudah ada, tetapi dari mengenali bentuk-bentuk baru masyarakat mengorganisir daya?

Mungkin ia belum mempunyai nama. Belum menjadi lembaga. Tidak mempunyai strategic plan. Bahkan mungkin tidak menganggap dirinya sebuah inovasi. Tetapi orang mulai saling terhubung. Pengetahuan mulai dihargai. Seseorang berani mengambil peran. Solidaritas bergerak. Jejaring terbentuk. Sesuatu mulai tumbuh. IKa ingin belajar melihat tanda-tanda kecil semacam itu tanpa buru-buru merapikan, memberi nama, mereplikasi, atau menginstitusionalisasikannya.

Dari daya menuju kemungkinan gerakan

Dan di sinilah FAJAR meninggalkan saya dengan pertanyaan yang lebih besar.

Kalau praktik-praktik seperti ini ternyata tumbuh di banyak tempat berbeda bentuk, berbeda konteks, berbeda bahasa apa yang terjadi ketika mereka mulai saling mengenali?

Gerakan keswadayaan tidak harus berarti memperbanyak “model Akar Daya”. Yang mungkin perlu terhubung justru nilai, pengetahuan, praktik, orang, dan jejaring yang sama-sama berangkat dari pengakuan bahwa masyarakat sudah mempunyai daya dan agency.

Maka mungkin pertanyaan kita ke depan bukan lagi:

“Bagaimana membawa lebih banyak sumber daya kepada masyarakat?”

Tetapi:

“Bagaimana kita menjadi jauh lebih baik dalam melihat daya yang sudah ada dan berhenti, tanpa sadar, mengambil alih kuasa masyarakat untuk mendefinisikannya?”

Karena mungkin keswadayaan dimulai bukan ketika masyarakat memiliki semuanya, tetapi ketika mereka menyadari bahwa mereka bukan ruang kosong yang menunggu untuk diisi.

Mereka sudah mempunyai daya.

Dan barangkali salah satu bentuk daya yang paling mendasar adalah kemerdekaan untuk mengatakan sendiri: siapa kita, apa yang kita ketahui, apa yang bernilai bagi kita, dan ke mana kita ingin bergerak.

Klik untuk informasi lebih lanjut tentang FAJAR

Dialog Temu Kenali Akar Daya Gerakan Masyarakat Sipil Bagian I

‘Fakduk pa ite falcilno

Fakduk e ite faisayang’

(Tak bertemu kita saling mengingat, dan

jika bertemu kita tetap saling menyayang)

Kalimat diatas terlontar dari Kak Awaluddin Iksan, anggota Perkumpulan Fakawele pada malam perkenalan pertemuan Dialog Temu Kenali Akar Daya Gerakan Masyarakat Sipilyang berlangsung dari tanggal 4 s.d  7 November 2024 di Ke:Kini Ruang Bersama, Jl. Cikini Raya No.43, Jakarta. Perkumpulan Fakawawele yang berasal dari Sagea, Halmahera Tengah, Maluku Utara, bersama lima lembaga lainnya: Wangsakerta  (Cirebon, Jawa Barat), Komunitas Ibu Jamu (Sragen, Jawa Tengah), Komunitas Taman 65 (Denpasar, Bali), Yayasan Wisnu  (Badung, Bali), PERMIN (Nanga, Banga, Kendari, Sulawesi Tenggara) berkumpul dan bereksperimen guna menemukenali sumber daya transformatif atau Akar Daya.

Eksperimen ini merupakan respon Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) terhadap Penyempitan ruang masyarakat sipil (shrinking civic space) yang terjadi di seluruh dunia juga menjadi tantangan bagi keberlanjutan gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Bersama CIVICUS & Local Leadership Labs (LLL, IKa bereksperimen Akar Daya yang berdasar pada upaya kolektif dan kolaboratif dalam membangun kemandirian, keberlanjutan dan resiliensi gerakan masyarakat sipil, melalui pengembangan sumber daya gerakan.

Dengan semangat kolektif dan kolaboratif ini, IKa mengajak kawan-kawan enam dari komunitas tersebut yang dipandang memiliki beberapa hal penting untuk menjalankan eksperimen bersama, yaitu memiliki nilai perjuangan komunitas yang berakar pada pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan, memiliki keresahan dan keinginan untuk mengelola sumber daya secara mandiri dan berkelanjutan,  juga terhubung dalam ekosistem gerakan organik yang saling mendukung dan memperkuat misi kolektif gerakan masyarakat sipil.

Malam perkenalan menjadi sebuah momen yang mencairkan suasana dan banyak meninggalkan kesan  terutama karena semua peserta berkesempatan untuk menjelaskan tentang lembaga masing-masing dengan cara unik. Misalnya Komunitas Ibu Jamu yang tanpa malu-malu langsung menawarkan jamu hasil para Ibu anggota komunitas saat menjejakkan kaki di tempat pertemuan. Yayasan Wisnu dan Komunitas Taman 65 juga membawa special item sebagai identitas lembaga. Hal ini tentu mendapatkan tanggapan positif dari tim IKa dan peserta pertemuan. IKa pun memberikan ruang bagi kawan-kawan untuk melakukan fundraising dengan menawarkan produk masing-masing dengan harga terjangkau. Selain itu, lembaga-lembaga pun memperkenalkan diri dengan cara khas masing-masing, salah satunya Perkumpulan Fakawele yang membuka perkenalan dengan kutipan mendalam di awal tulisan ini. Malam perkenalan pun menjadi semakin riuh.

Dialog dimulai dengan sesi refleksi bersama Roem Topatimasang, pendiri Indonesian Society for Social Transformation (INSIST). Ia menekankan bahwa transformasi sosial membutuhkan perubahan pola pikir, terutama terkait kepemilikan, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya seperti pangan, energi, dan air. Roem juga mengkritik program ekonomi masyarakat sipil yang kerap gagal karena terlalu menyederhanakan kemandirian ekonomi menjadi sekadar menghasilkan uang. Ia mengajak peserta untuk melihat kembali nilai dan cara pandang mereka terhadap kebutuhan dan hubungan dengan manusia maupun alam.

Pembicara berikutnya, Kamala Chandrakirana atau Mbak Nana, memperkenalkan konsep “Pancaroba” sebagai perumpamaan atas kondisi ruang gerak masyarakat sipil yang menyempit akibat situasi global, nasional, dan lokal yang tidak menentu. Ia menekankan pentingnya kemandirian dari ketergantungan donor serta kolektivitas untuk menguatkan Akar Daya.

Direktur Eksekutif IKa, Sita Supomo, memperkenalkan konsep Catur Daya, yang mencakup pendanaan, pengetahuan, jaringan, dan kerelawanan. Kerangka ini menjadi dasar strategi IKa dalam mendorong komunitas untuk mengelola sumber daya secara mandiri dan menciptakan kedaulatan.

Proses ini dilanjutkan dengan aktivitas menggambar “Sungai Kehidupan,” sebuah refleksi visual atas perjalanan pribadi dan kolektif komunitas. Peserta juga diajak menggunakan pendekatan Asset-Based Thinking, yang fokus pada potensi dan kekuatan yang sudah dimiliki, seperti pengalaman, pengetahuan, dan hubungan. Pendekatan ini memungkinkan komunitas untuk melihat peluang dalam mengembangkan gerakan secara berkelanjutan. Sebagai bagian dari refleksi ini, Risma dari PERMIN menekankan pentingnya ilmu yang luas dan fleksibel untuk diaplikasikan di berbagai konteks.

Eksperimen Akar Daya menjadi langkah awal IKa dan komunitas untuk menciptakan peta jalan baru, menata ulang kesadaran kolektif, dan membangun masa depan gerakan masyarakat sipil yang mandiri dan inklusif.