Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra: Menuju Ekosistem Advokasi Iklim yang Berkeadilan

Perubahan iklim berdampak ke seluruh dunia, tapi beban terberat justru ditanggung oleh komunitas rentan yang paling sedikit berkontribusi terhadap terjadinya krisis iklim (Sumber: earth.org). Dari mata pencaharian yang terganggu hingga cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, mereka menghadapi dampak yang tidak sebanding- dan ketidakadilan ini membutuhkan aksi segera. Misalnya, di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, abrasi mengikis garis pantai Kabupaten Demak, sehingga berdampak pada peralihan fungsi lahan setempat; dari awalnya areal pertanian produktif, berangsur menjadi tambak ikan, bahkan sebagian telah menjadi perairan akibat kenaikan permukaan air laut disertai penurunan permukaan tanah (Sumber: Kompas.com). Sementara itu, musim kemarau juga berdampak besar bagi masyarakat Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di bulan September 2024 lalu, BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan 168.400 liter air bersih ke empat desa: Kampung Baru, Babirik, Muara Halayung, dan Haur Kuning (Sumber: radarbanjarmasin).

Upaya kolektif dan terorganisir menjadi semakin penting untuk memastikan komunitas terdampak tidak tertinggal dalam upaya adaptasi dan mitigasi. Menjawab kebutuhan tersebut, Pundi Hijau hadir sebagai inisiatif penggalangan dana dalam Catur Daya Indonesia untuk Kemanusiaan (dana, pengetahuan, kerelawanan, jaringan), sebagai aksi menanggapi tantangan lingkungan dan sosial yang kita hadapi saat ini. Pundi Hijau mengutamakan inisiatif kedaulatan pangan, keadilan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati dan pulau kecil dan pesisir, dengan fokus menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. 

Merespon situasi ini, Pundi Hijau didukung ClimateWorks Foundation (CWF) melalui program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” , atau ‘Program penguatan kemitraan keadilan iklim yang berbasis pada keadilan dan kesetaraan untuk mendukung kelompok rentan’ sejak tahun 2023. Pendekatan kemitraan ini bersifat partisipatif, dengan tujuan membangun pemahaman bersama tentang keadilan iklim, dengan mempertimbangkan keberagaman budaya dan wilayah di Indonesia. Dari pemahaman ini, lahirlah aksi nyata: IKa membentuk jaringan INCLINE (Indonesian Climate Justice Network) atau #JAGAINIklim (Jaringan Gerakan Indonesia untuk Keadilan Iklim) guna memperkuat gerakan yang lebih inklusif dan berdampak. Sebagai bagian dari inovasi digital, INCLINE terdiri dari aplikasi, situs web, dan akun media sosial yang difokuskan pada isu keadilan iklim. 

Uji coba INCLINE Apps telah berlangsung pada tahun pertama dan kedua, lalu IKa memandang penting untuk menyelenggarakan pertemuan tatap muka guna memperkokoh pemanfaatan perangkat ini. Pertemuan pun berlangsung pada tanggal 18-21 Maret 2025 di Kuta, Bali. Kegiatan bertajuk Lokakarya INCLINE #2 dan Temu Kolaborasi Mitra Pundi Hijau ini mempertemukan para Pemrakarsa Pundi Hijau lintas tahun (2023, 2024, 2025) bersama perangkat desa dampingan komunitas masing-masing. Keterlibatan perangkat desa memiliki peran strategis sebagai pihak yang memiliki kewenangan menentukan arah kebijakan desa, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses sekaligus memperkuat posisi komunitas dalam perencanaan pembangunan di tingkat lokal—dengan menjadikan data sebagai dasar pengambilan keputusan. 

Pemrakarsa Pundi Hijau 2023, yakni Perempuan Kobher, hadir bersama perangkat desa dari Desa Matanair. Sementara itu, dari Pundi Hijau 2024, turut berpartisipasi RUBEK PASI (bersama perangkat desa dari Telaga Gosong Utara), PAPHA Indonesia (bersama perangkat desa dari Desa Done, Sikka, Maumere, NTT), dan LSM Pelita Harapan (bersama perangkat desa dari Katakeja, Lembata, NTT). Seluruh pemrakarsa Pundi Hijau 2025 hadir dalam pertemuan yang berlangsung selama empat hari, yaitu Pusur Institute (Desa Pundungan, Klaten, Jawa Tengah), Yayasan Agro Sorgum Flores/YASORES (Desa Pajinian, Adonara Barat, Flores Timur, NTT), Lembaga Olah Hidup/LOH (Desa Balebrang, Sumbawa, NTB), dan Himpunan Maluku untuk Kemanusiaan/HUMANUM (Desa Liang, Ambon, Maluku). Selain itu, jaringan Akar Daya IKa juga turut serta melalui kehadiran Yayasan Wisnu dan komunitas dampingan mereka dari Desa Tigawasa, Bali. 

Lokakarya ini memotivasi komunitas untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi krisis iklim melalui pembelajaran bersama, mengenalkan teknologi berbasis data, dan menyusun strategi menghadapi potensi bencana iklim. Peserta tidak hanya mengumpulkan data menggunakan aplikasi INCLINE, tetapi juga menganalisis data tersebut dengan kerangka lima modal—alam, fisik, sosial, finansial, dan sumber daya manusia—untuk mengidentifikasi area rentan dan merumuskan strategi kolaboratif dengan pemangku kepentingan. Lokakarya selama empat hari ini menghasilkan rencana aksi lanjut berdasarkan data yang dianalisis. Seusai kegiatan, IKa akan mengadakan sesi pelatihan daring secara berkala guna menjaga kesinambungan rencana aksi. Melalui jaringan #JAGAINIklim dan platform Pundi Hijau, IKa terus mendorong terciptanya ekosistem advokasi iklim yang berpihak pada masyarakat, berbasis data, dan berakar pada kekuatan komunitas.

Pemahaman penting juga muncul dari lokakarya ini, seperti yang diilustrasikan oleh Pak Jalal—anggota Tim Pengarah Pundi Hijau—yang menyatakan bahwa “Sebuah botol tetap akan kosong meski diisi air sampai penuh, jika ada satu lubang kecil.” Artinya, aset yang paling lemah justru yang paling menentukan daya tahan komunitas. Sebaliknya, aset terkuat dapat menjadi tumpuan untuk memperkuat modal lainnya, khususnya modal alam. Wawasan ini membuka ruang bagi peserta untuk merumuskan solusi berbasis kekuatan dan kebutuhan spesifik wilayah mereka. Secara keseluruhan, lokakarya ini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun solidaritas lintas wilayah, meningkatkan kapasitas lokal, dan menyusun strategi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Dokumentasi video Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra bisa diakses melalui tautan ini

Sumber:

  • https://earth.org/climate-changes-unequal-burden-why-do-low-income-communities-bear-the-brunt/)
  • https://lestari.kompas.com/read/2023/11/24/150000586/perubahan-iklim-ancam-199-kabupaten-kota-pesisir-indonesia-40-sangat-rentan.)
  • https://radarbanjarmasin.jawapos.com/banua/1975076373/4-desa-di-kab-banjar-krisis-air-bersih
Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!