Menjadi Ruang Aman: Bagaimana WCC Dian Mutiara Membantu Pemulihan Psikologis Korban Kekerasan

Trigger warning: Artikel ini mengandung pembahasan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan tentang perilaku menyakiti diri sendiri.

Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis. Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), mengatakan perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga memiliki kecenderungan niat untuk mengakhiri hidup. Dalam hal ini, pendampingan psikologis menjadi elemen penting dalam proses pemulihan penyintas, terutama dalam situasi yang bisa mengarah ke trauma jangka panjang. 

Data Polres Malang menunjukkan terjadi peningkatan kasus bunuh diri sebanyak 52,38% dari tahun 2022 ke tahun 2023. Tahun 2022, ada 21 kejadian bunuh diri. Sedangkan tahun 2023 terdapat 32 kasus bunuh diri. Sementara data Polresta Malang Kota menyebut  ada 25 kasus bunuh diri tahun ini mulai Januari 2023 hingga 25 Desember 2023. WCC Dian Mutiara sebagai pengada layanan di kota Malang menjembatani kehadiran negara untuk untuk menjawab dan memberikan perlindungan pemenuhan hak serta pemulihan bagi perempuan dan anak korban kekerasan. 

Sepanjang 2024, Polres Malang menangani 248 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan 224 kasus berhasil diselesaikan. Penanganan kasus ini melibatkan kerja sama dengan lembaga perlindungan anak dan instansi terkait, termasuk pengada layanan. WCC Dian Mutiara sebagai pengada layanan membuktikan bahwa konseling dan terapi psikologis bisa jadi titik balik untuk perempuan korban kekerasan. Melalui sesi psikoedukasi dan dukungan psikososial yang dilakukan sepanjang April–Mei 2024, WCC Dian Mutiara telah menjadi ruang aman bagi korban kekerasan dengan dukungan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui Program Pundi Perempuan 2024.

Dukungan Pundi Perempuan dua tahun lalu memberikan kesempatan bagi WCC Dian Mutiara untuk menjalankan manajemen organisasi secara lebih sistematis dan profesional. Melalui dukungan ini, lembaga mampu melakukan pembagian peran administrasi yang lebih jelas serta merapikan sistem pendokumentasian untuk manajemen kasus yang lebih efektif. 

“Bagi kami, dukungan ini adalah kesempatan emas untuk berbenah internal. Kami belajar menjalankan manajemen organisasi yang lebih sistematis mulai dari kerapian administrasi hukum hingga dokumentasi kasus yang akuntabel. Ini penting karena setiap lembar kuitansi visum atau surat kuasa adalah senjata bagi korban untuk mendapatkan haknya,”

Penataan administrasi yang lebih rapi ini menjadi fondasi kuat dalam memastikan setiap langkah penanganan korban tercatat dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun medis.

Di tahun 2024, WCC Dian Mutiara menangani 60 kasus, di mana mayoritas adalah Kekerasan Seksual (KS) dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Gejala trauma yang ditemukan sering kali berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan, mulai dari gangguan kognitif hingga tindakan fisik yang ekstrem.

Seorang pendamping psikologis di WCC menceritakan pengalamannya:

“Kami sering menemui penyintas yang merasa dunianya runtuh; mereka mual, gemetar, bahkan merasa sangat jijik pada diri sendiri. Puncaknya, ada penyintas yang saking putus asanya melakukan tindakan menyayat tangan dan perutnya sendiri. Melalui terapi kognitif dan terapi seni (art therapy), kami mencoba membimbing mereka perlahan agar menyadari bahwa gejala tersebut bisa dikendalikan dan mereka berhak untuk merasa aman kembali.”,

Intervensi dilakukan secara individu melalui teknik seperti breathing square untuk stabilisasi emosi dan client-centered therapy untuk membangun kembali rasa percaya diri korban.

Dalam periode Pada periode 1 Juni – 30 Juli 2024, 8 orang mendapatkan layanan pendampingan psikologis. Dalam pendampingan psikologis yang dilakukan WCC Dian Mutiara Malang, berbagai gejala trauma teridentifikasi pada perempuan penyintas kekerasan. Dari sisi kognitif, banyak dari mereka menunjukkan kesulitan fokus, perhatian mudah teralihkan, serta pemikiran berulang mengenai ketidakadilan atas peristiwa yang mereka alami. Secara emosional, perasaan takut, marah, malu, sedih yang luar biasa, hingga merasa tidak berguna mendominasi. Salah satu penyintas bahkan mengungkapkan rasa jijik terhadap dirinya. Di samping itu, perilaku korban cenderung menunjukkan adanya tindakan menyakiti diri serta keluhan fisik seperti mual, muntah, dan gemetar indikasi dari gejala psikosomatik. – (Psikosomatik: kondisi di mana keluhan fisik dipengaruhi atau disebabkan oleh faktor psikologis, seperti stres, kecemasan, atau depresi).

Di tahun 2024, jenis kasus yang ditangani Dian Mutiara didominasi Kekerasan Seksual sejumlah 17 kasus, Kekerasan dalam rumah tangga sejumlah 15 kasus, dan Kekerasan seksual berbasis elektronik sejumlah 11 kasus. Total semua kasus yang ditangani adalah 60 kasus.

Intervensi psikologis dilakukan WCC Dian Mutiara Malang dengan pendekatan individu sesuai dengan kebutuhan masing-masing korban. Intervensi ini antara lain dengan psikoedukasi, yaitu memberikan pemahaman bahwa gejala yang dialami bisa dikendalikan; stabilisasi emosi melalui teknik relaksasi seperti breathing square; serta psikoterapi yang terdiri dari terapi seni, terapi kognitif, dan client-centered therapy. Pendampingan juga dilengkapi dengan konseling suportif, serta arahan dan bimbingan untuk membantu penyintas memahami kondisi dirinya dan membangun kembali rasa aman.

Sebagian besar penyintas menunjukkan perkembangan positif mereka mulai memahami apa yang mereka alami dan bagaimana menghadapinya. Namun, ada juga kasus di mana penyintas belum siap atau tidak kooperatif menguatkan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan pendekatan yang empatik.

Fenomena ini juga tercermin dalam temuan CATAHU Komnas Perempuan 2023, yang melaporkan adanya peningkatan kekerasan psikis pasca-pandemi dan setelah disahkannya UU TPKS. Di Kota Malang sendiri, tercatat 117 pengaduan sepanjang Januari 2024 hingga awal Desember 2024. Sayangnya, masih banyak aparat dan lembaga layanan yang memilih mediasi atas nama “harmoni keluarga”, tanpa memperhatikan kebutuhan korban. Tidak diwajibkannya program konseling juga menjadi hambatan besar dalam proses pemulihan.

Dalam situasi ini, kehadiran WCC atau pengada layanan seperti Dian Mutiara menjadi sangat penting untuk pemulihan perempuan korban kekerasan. Layanan pengada layanan memastikan perempuan korban kekerasan tidak hanya mendapat pendampingan hukum, tetapi juga layanan konseling dan terapi psikologis yang layak dan berkelanjutan. Pemulihan adalah hak dasar setiap korban kekerasan, dan konseling serta terapi psikologis menjadi titik balik yang esensial dalam proses pemulihan perempuan korban kekerasan.

Turning Pain into Power: Menjadi Penggerak Sosial Berdaya

Di tengah berbagai masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang semakin kompleks, kebutuhan akan penggerak sosial menjadi semakin penting. Namun, para penggerak komunitas sering kali sibuk membantu orang lain tanpa ruang untuk berhenti dan merefleksikan diri. Karena itu, Indonesia untuk Kemanusiaan mengadakan workshop bertajuk “Fasilitator Menjadi Berdaya untuk Transformasi Sosial”. Workshop yang dilaksanakan di Kekini:Ruang Bersama ini hadir sebagai ruang pembelajaran bersama. Di sini, para peserta diajak untuk mengeksplorasi pengalaman dan cara  pandang sebagai sumber daya dalam diri mereka.

Proses ini melalui tahapan yang unik, yaitu unlearning, imagining, dan becoming. Tahap unlearning melihat ke dalam diri masing-masing peserta cara pandang dan pemahaman tentang diri sendiri yang bertujuan membangun kesadaran, rasa aman, serta koneksi antara pikiran dan tubuh. Tahap imagining mengajak para peserta untuk mempertanyakan berbagai kemungkinan dan potensi dalam gerakan sosial. Terakhir, becoming  adalah suatu kesadaran untuk merawat suatu gerakan berkelanjutan dalam skala komunitas maupun individu. 

Workshop ini dimulai dengan proses perkenalan yang unik: masing-masing peserta membawa benda yang merepresentasikan dirinya. Berbagai benda muncul, dari buku kosong untuk belajar, kipas angin yang nyaring tapi menyejukkan, hingga minyak kayu putih yang hangat. Para peserta juga diminta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran mereka selama sesi workshop. Walaupun kekhawatiran seperti tantangan implementasi dan keterbatasan waktu muncul, kesempatan untuk memperoleh perspektif baru dan membangun jejaring justru menumbuhkan harapan para peserta. 

Peserta diajak melakukan sesi grounding dengan memperhatikan napas dan menjawab pertanyaan “What’s moving inside me?” Banyak pengalaman yang dibagikan, seperti bagaimana melambatkan diri membantu beberapa peserta mengenali emosi, kelelahan, dan harapan yang sudah lama terabaikan. Diskusi pun berkembang untuk membahas pentingnya presence atau kehadiran penuh dalam fasilitasi; kehadiran tidak hanya soal berada di ruangan yang sama, tetapi juga memberikan perhatian yang utuh kepada orang lain.

Sesi River of Life mengajak kita untuk mundur sejenak dengan meminta peserta menggambarkan alasan dan perjalanan mereka sebagai penggerak sosial. Berbagai kata muncul, di antaranya: cinta, kesadaran, kepedulian, feminisme, dan kebermanfaatan. Beberapa peserta juga menyadari bahwa kesulitan, ketidakadilan, dan rasa sakit justru menjadi sumber motivasi mereka alasan untuk terus bertahan. Dalam sesi ini, muncul refleksi penting: bagaimana pengalaman personal tadi dapat diubah menjadi energi kolektif untuk menciptakan perubahan. Satu gagasan yang muncul adalah “turning pain into power,” atau mengubah rasa sakit menjadi kekuatan. 

Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak aktivis mengalami  mental block yang disebabkan oleh trauma jika tidak dikelola, risiko terjebak dalam stres dan kelelahan akan meningkat. Banyak peserta menekankan pentingnya merawat tubuh, emosi, dan spiritualitas dalam pekerjaan mereka. Beberapa peserta menyoroti bahwa banyak penggerak yang berfokus pada perubahan sosial tanpa mempedulikan kesejahteraan diri. Muncul ide tentang pentingnya circle of care, atau bagaimana komunitas harus menjaga dan mendukung satu sama lain. Selain itu, peserta juga menekankan pentingnya kecerdasan intelektual dan emosional dalam menghadapi dunia yang kompleks; kesadaran, belas kasih, dan mindfulness merupakan keterampilan penting bagi penggerak sosial. 

Selama tiga hari, workshop ini menegaskan bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada strategi, program, atau sumber daya material; perubahan yang berkelanjutan dapat dimulai dari kemampuan individu untuk memahami dirinya dan membangun relasi yang sehat dengan orang-orang dan komunitas di sekitarnya. 

Dengan mengenali sumber daya dalam diri, para penggerak sosial dapat menjalankan perannya secara lebih reflektif, berkesadaran, dan berdaya. Perjalanan menuju perubahan sosial ternyata juga merupakan perjalanan untuk mengenal diri sendiri.

Berkarya Bersama IKa: Pelaksana Keuangan Senior (Senior Finance Officer)

Penuh Waktu/ Full Time
Lokasi: Jakarta Pusat

Deadline: 20 Maret 2026 (Pkl: 23.59 WIB)

Tentang Kami
Indonesia untuk Kemanusiaan adalah organisasi masyarakat sipil yang berdiri sejak 1995 dan
bekerja pada isu Hak Asasi Manusia (HAM), lingkungan hidup, dan kesetaraan gender. Kami
menggalang dan mengelola dana hibah serta mendampingi organisasi lokal untuk memperkuat
kapasitas dan kemandirian mereka.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas, kami melaksanakan
audit keuangan tahunan oleh akuntan independen dan menerapkan prinsip tata kelola yang
baik.

Untuk memperkuat sistem keuangan organisasi, kami membuka kesempatan bagi profesional
yang teliti, berintegritas, dan berpengalaman untuk bergabung sebagai Pelaksana Keuangan
Senior.

Tujuan Posisi:

• Peran strategis, yaitu peran untuk memberikan pengaruh positif pada status dan performa organisasi, melalui penyajian Laporan Keuangan secara cepat dan akurat, sesuai dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan Indonesia ISAK 35, Pencatatan mengunakan aplikasi akuntansi Sango, Format Laporan Keuangan dari Lembaga Donor dan Perpajakan
• Peran teknis, yaitu peran untuk meningkatkan kinerja pimpinan melalui pembuatan sistem dan prosedur keuangan yang cocok dengan karakteristik organisasi
• Peran pendukung, yaitu peran untuk memberikan manfaat positif kepada anggota organisasi lainnya melalui pendistribusian informasi keuangan.

Tugas dan Tangung jawab Pelaksana Keuangan Senior Keuangan:
• Bersama Direktur Eksekutif dan Program Manager membuat rencana anggaran – pertahun untuk kegiatan program yang telah disutujui oleh Donor dan Organisasi
• Membantu pembuatan anggaran proposal dan admin keuangan ke Donor (re-alokasi budget) bila diperlukan
• Monitoring dan analisis pengeluaran kegiatan progam dan operasional, terutama dalam hal perlaporan keuangan sesuai dengan SOP dan aturan-aturan yang relevan
• Review dan monitoring semua pengeluaran yang akan diajukan oleh semua staf atau FPU dan RPB yang diterima oleh keuangan sesuai dengan anggaran yang ada
• Monitoring dan review semua pencatatan dari sistem akuntansi SANGO; posisi bank, uang muka, piutang, hutang dan asset
• Membuat laporan keuangan lembaga dan baik laporan keuangan ke donor sesuai dengan format donor
• Review Laporan audit dan Management Letter tahunan untuk lembaga dan donor termasuk berdiskusi dengan Manajement sebelum Final Audit
• Supervisi pekerjaan unit keuangan, akuntan dan admin

Kualifikasi:
● Minimal S1 Akuntansi/Keuangan.
● Minimal 4–6 tahun pengalaman di bidang keuangan.
● Berpengalaman menyusun laporan keuangan dan laporan donor.
● Pernah terlibat dalam proses audit eksternal.
● Pengalaman di LSM/non-profit menjadi nilai tambah.
● Mahir Microsoft Excel (rumus, pivot, rekonsiliasi).
● Memahami dasar pengendalian internal dan monitoring anggaran.
● Memahami administrasi pajak dasar (PPh 21/23).
● Teliti, sistematis, dan mampu bekerja dengan tenggat waktu.
● Integritas tinggi dan menjaga kerahasiaan data.
● Mampu bekerja mandiri maupun dalam tim.
● Komitmen terhadap nilai HAM, lingkungan, dan kesetaraan gender.

Fasilitas:
● Gaji kompetitif sesuai pengalaman dan kapasitas.
● THR sesuai ketentuan yang berlaku.
● BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
● Lingkungan kerja profesional berbasis nilai dan akuntabilitas.

Perpajakan:
Memahami dan membuat laporan Perpajakan (PPh 21 pegawai dan non pegawai, PPh 23, dan PPh Final pasal 4 ayat 2)

Administrasi:
Menyiapkan pembuatan payrol bulanan
Mensupervisi pembuatan filling dokumen keuangan baik softcopy & hardcopy

*Silakan isi FORM di bawah ini:

Solidarity for Elderly Survivors

Happy New Year. Thank you to everyone who continues to support our work.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) is a civil society resource organization founded in 1995 by human rights and democracy advocates in Indonesia. It was formed from the thinking of human rights and democracy figures in Indonesia, and was established as a bridge for resources to strengthen humanitarian movements at the grassroots level. IKa is committed to the values of social justice through several roles, one of which is supporting survivors and victims of human rights violations. 

In recent years, IKa’s concern for victims, particularly those who are now elderly, has been expressed through fundraising and the distribution of funds during major public holidays in Indonesia – moments that are generally celebrated nationwide and associated with joy. For this reason, December, as a time when Christmas is celebrated, was chosen as a symbol of care for those who have experienced violence and discrimination. The distribution of funds to elderly survivors (Si Mbah) is understood by IKa as an effort to care for memory and as a moment of appreciation for those who have struggled for dignity and humanity. 

This year, we selected Eastern Indonesia as the location for the distribution of the “Si Mbah” Christmas gift packages, with total donations amounting to IDR 7,290,000. These funds were distributed through IKa’s Pundi Insani program. 

Eastern Indonesia was chosen because this region has never previously received Pundi Insani grant support in the form of Christmas gift packages, and also because a large proportion of the population in Eastern Indonesia celebrates Christmas.

Below are testimonies from recipients of IKa’s Pundi Insani Christmas support.

Mama Dominika (73) is an elderly woman farmer who currently lives with her husband and one grandchild. Her children have migrated elsewhere to earn a living. To support her family, even at her advanced age, she remains active working in the fields. As a farmer, in addition to facing uncertainty in planting seasons due to climate change, she and her family also struggle to obtain fertilizer. “We struggle greatly just to get fertilizer,” she said. 

The same holds true for Adrianus (75). In January 2025, his home and crops were leveled to the ground as a result of forced eviction. Despite this, Adrianus chose to remain at the site of conflict. For him, the land is not merely a place to live, but a symbol of dignity that must be defended. 

Both of them are elderly people who, despite having experienced violence and human rights violations, continue to endure and even serve as examples of life itself. Meanwhile, the state continues to neglect their welfare.

To ensure that donors’ trust reaches the right hands, IKa collaborates with local partners known for their consistency in accompanying communities who are struggling to defend their rights to justice and truth. This collaboration is carried out with PBH Nusra, which frequently provides legal assistance to communities who have been oppressed and deprived of their right to live with dignity, and Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) in Kupang, East Nusa Tenggara, which has long been committed to safeguarding the rights of women and vulnerable elderly people.

Through this network, support was distributed in ways that were specific to the needs of each area. A total of 25 elderly people accompanied by PBH Nusra (17 women & 8 men) received basic necessities, including rice, coffee, sugar, tea, and cooking oil. Meanwhile, for the 22 beneficiaries under the accompaniment of JPIT, support focused on health and sanitation needs, such as balm, allergy medicine, massage oil, adult diapers, as well as basic food packages. This careful attention to specific needs is a concrete reflection of how our solidarity reaches into the most personal aspect of their everyday lives. 

A Restorative Touch

The support collected through the “Si Mbah” fundraising effort was ultimately distributed as a tangible expression of solidarity. For the Si Mbah we accompanied, these gift packages were not merely logistical assistance, but a message that they are not forgotten and they are not struggling alone. It affirms that solidarity is present, and that others are walking alongside them.

Adrianus shared his emotions with deep gratitude:

“This is a memory, proof that the relationship with IKa remains. For some time, there was no news, but today, we heard from them again and received Christmas gifts. We are happy. Thank you, IKa. Hopefully we will meet again another time.” – Adrianus, assisted by PBH Nusra.

For Mama Dominika and Adrianus, this attention is a form of respect for their courage in sustaining life in the remote corners of the country. Thank you for being part of this humanitarian journey. 

Caring and Remembering

As the holy month of Ramadan comes to a close and the joyful spirit of Eid al-Fitr begins to glow on the horizon, many families in Indonesia prepare to gather, share meals, and exchange gifts as symbols of love and togetherness. Yet for some, especially those who have endured the wounds of history, these moments of joy are often shadowed by hardship and silence.

There are elderly survivors of human rights violations whose lives have been marked by loss and resilience in Eastern Indonesia, South East Sulawesi Province. For years, they have carried memories that cannot be erased, while still trying to meet their most basic needs in old age. As their peers celebrate with their loved ones, they continue to remind us that justice and compassion are not only about remembering the past, but also about caring for those who still live with its consequences today.

Through the Pundi Insani program, Indonesia for Humanity (IKa) were organizing a donation drive during March-April 2025.This initiative seeks to bring comfort and dignity to these elderly groups during Eid, ensuring they do not face this sacred time in isolation.

Pundi Insani is more than just a seasonal effort—it is a platform of solidarity, built to sustain the recovery and empowerment of survivors of human rights violations across Indonesia. It extends support to human rights defenders who dedicate their lives to justice, providing them with pathways to live in safe, healthy, and dignified conditions, even in the midst of emergencies.

IKa collaborated with  South East Sulawesi-based local organizations that are actively supporting vulnerable, marginalized, and impoverished groups in their region and focus on victims of gross human rights violations with members spread across three districts. They distributed the donation to 25 elderly (11 female,14 male) and a few of them equipped with reading glasses and walking sticks.

One of the elderly recipients, Mrs. CT (75), lives in a modest home and has never received any kind of assistance before. She was deeply moved, even in disbelief, when she received the Eid gift package.” For me, this support is not just about meeting daily needs, but something far greater: it is a symbol that we are still remembered, that someone still cares, and that our life—though quiet and difficult—is not entirely forgotten’, stated her.

Keadilan Iklim dan Orang Muda

Masih dengan tema besar “Nusantara Adil Iklim; Merajut Daya Merawat Bumi”

Di September ini, IKa berkolaborasi dengan Terasmitra mengangkat suara orang muda menghadapi krisis iklim dengan subtema *“Keadilan Iklim dan Orang Muda”*

Kami tunggu kehadiranmu dalam keriaan rangkaian acara 26-27 September 2025:

Pekan Produk Komunitas
Ruang Temu Jagain Iklim: Imajinasi 2050 & Refleksi
Talkshow: Mengubah Kecemanasan Ekologis Menjadi Aksi Bermakna
Nobar & Diskusi Film Harmoni
Workshop: Craft Kolase Kain
Kuliah Umum: Keadilan Lintas Generasi: Mewarisi Krisis, Menentukan Arah

Link Pendaftaran: https://bit.ly/Daftar_KeadilanIklimdanOrangMuda

Mari orang muda, bersama kita bangun solidaritas dan mewujudkan kehidupan yang lebih adil bagi manusia dan alam.

Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra: Menuju Ekosistem Advokasi Iklim yang Berkeadilan

Perubahan iklim berdampak ke seluruh dunia, tapi beban terberat justru ditanggung oleh komunitas rentan yang paling sedikit berkontribusi terhadap terjadinya krisis iklim (Sumber: earth.org). Dari mata pencaharian yang terganggu hingga cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, mereka menghadapi dampak yang tidak sebanding- dan ketidakadilan ini membutuhkan aksi segera. Misalnya, di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, abrasi mengikis garis pantai Kabupaten Demak, sehingga berdampak pada peralihan fungsi lahan setempat; dari awalnya areal pertanian produktif, berangsur menjadi tambak ikan, bahkan sebagian telah menjadi perairan akibat kenaikan permukaan air laut disertai penurunan permukaan tanah (Sumber: Kompas.com). Sementara itu, musim kemarau juga berdampak besar bagi masyarakat Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di bulan September 2024 lalu, BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan 168.400 liter air bersih ke empat desa: Kampung Baru, Babirik, Muara Halayung, dan Haur Kuning (Sumber: radarbanjarmasin).

Upaya kolektif dan terorganisir menjadi semakin penting untuk memastikan komunitas terdampak tidak tertinggal dalam upaya adaptasi dan mitigasi. Menjawab kebutuhan tersebut, Pundi Hijau hadir sebagai inisiatif penggalangan dana dalam Catur Daya Indonesia untuk Kemanusiaan (dana, pengetahuan, kerelawanan, jaringan), sebagai aksi menanggapi tantangan lingkungan dan sosial yang kita hadapi saat ini. Pundi Hijau mengutamakan inisiatif kedaulatan pangan, keadilan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati dan pulau kecil dan pesisir, dengan fokus menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. 

Merespon situasi ini, Pundi Hijau didukung ClimateWorks Foundation (CWF) melalui program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” , atau ‘Program penguatan kemitraan keadilan iklim yang berbasis pada keadilan dan kesetaraan untuk mendukung kelompok rentan’ sejak tahun 2023. Pendekatan kemitraan ini bersifat partisipatif, dengan tujuan membangun pemahaman bersama tentang keadilan iklim, dengan mempertimbangkan keberagaman budaya dan wilayah di Indonesia. Dari pemahaman ini, lahirlah aksi nyata: IKa membentuk jaringan INCLINE (Indonesian Climate Justice Network) atau #JAGAINIklim (Jaringan Gerakan Indonesia untuk Keadilan Iklim) guna memperkuat gerakan yang lebih inklusif dan berdampak. Sebagai bagian dari inovasi digital, INCLINE terdiri dari aplikasi, situs web, dan akun media sosial yang difokuskan pada isu keadilan iklim. 

Uji coba INCLINE Apps telah berlangsung pada tahun pertama dan kedua, lalu IKa memandang penting untuk menyelenggarakan pertemuan tatap muka guna memperkokoh pemanfaatan perangkat ini. Pertemuan pun berlangsung pada tanggal 18-21 Maret 2025 di Kuta, Bali. Kegiatan bertajuk Lokakarya INCLINE #2 dan Temu Kolaborasi Mitra Pundi Hijau ini mempertemukan para Pemrakarsa Pundi Hijau lintas tahun (2023, 2024, 2025) bersama perangkat desa dampingan komunitas masing-masing. Keterlibatan perangkat desa memiliki peran strategis sebagai pihak yang memiliki kewenangan menentukan arah kebijakan desa, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses sekaligus memperkuat posisi komunitas dalam perencanaan pembangunan di tingkat lokal—dengan menjadikan data sebagai dasar pengambilan keputusan. 

Pemrakarsa Pundi Hijau 2023, yakni Perempuan Kobher, hadir bersama perangkat desa dari Desa Matanair. Sementara itu, dari Pundi Hijau 2024, turut berpartisipasi RUBEK PASI (bersama perangkat desa dari Telaga Gosong Utara), PAPHA Indonesia (bersama perangkat desa dari Desa Done, Sikka, Maumere, NTT), dan LSM Pelita Harapan (bersama perangkat desa dari Katakeja, Lembata, NTT). Seluruh pemrakarsa Pundi Hijau 2025 hadir dalam pertemuan yang berlangsung selama empat hari, yaitu Pusur Institute (Desa Pundungan, Klaten, Jawa Tengah), Yayasan Agro Sorgum Flores/YASORES (Desa Pajinian, Adonara Barat, Flores Timur, NTT), Lembaga Olah Hidup/LOH (Desa Balebrang, Sumbawa, NTB), dan Himpunan Maluku untuk Kemanusiaan/HUMANUM (Desa Liang, Ambon, Maluku). Selain itu, jaringan Akar Daya IKa juga turut serta melalui kehadiran Yayasan Wisnu dan komunitas dampingan mereka dari Desa Tigawasa, Bali. 

Lokakarya ini memotivasi komunitas untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi krisis iklim melalui pembelajaran bersama, mengenalkan teknologi berbasis data, dan menyusun strategi menghadapi potensi bencana iklim. Peserta tidak hanya mengumpulkan data menggunakan aplikasi INCLINE, tetapi juga menganalisis data tersebut dengan kerangka lima modal—alam, fisik, sosial, finansial, dan sumber daya manusia—untuk mengidentifikasi area rentan dan merumuskan strategi kolaboratif dengan pemangku kepentingan. Lokakarya selama empat hari ini menghasilkan rencana aksi lanjut berdasarkan data yang dianalisis. Seusai kegiatan, IKa akan mengadakan sesi pelatihan daring secara berkala guna menjaga kesinambungan rencana aksi. Melalui jaringan #JAGAINIklim dan platform Pundi Hijau, IKa terus mendorong terciptanya ekosistem advokasi iklim yang berpihak pada masyarakat, berbasis data, dan berakar pada kekuatan komunitas.

Pemahaman penting juga muncul dari lokakarya ini, seperti yang diilustrasikan oleh Pak Jalal—anggota Tim Pengarah Pundi Hijau—yang menyatakan bahwa “Sebuah botol tetap akan kosong meski diisi air sampai penuh, jika ada satu lubang kecil.” Artinya, aset yang paling lemah justru yang paling menentukan daya tahan komunitas. Sebaliknya, aset terkuat dapat menjadi tumpuan untuk memperkuat modal lainnya, khususnya modal alam. Wawasan ini membuka ruang bagi peserta untuk merumuskan solusi berbasis kekuatan dan kebutuhan spesifik wilayah mereka. Secara keseluruhan, lokakarya ini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun solidaritas lintas wilayah, meningkatkan kapasitas lokal, dan menyusun strategi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Dokumentasi video Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra bisa diakses melalui tautan ini

Sumber:

  • https://earth.org/climate-changes-unequal-burden-why-do-low-income-communities-bear-the-brunt/)
  • https://lestari.kompas.com/read/2023/11/24/150000586/perubahan-iklim-ancam-199-kabupaten-kota-pesisir-indonesia-40-sangat-rentan.)
  • https://radarbanjarmasin.jawapos.com/banua/1975076373/4-desa-di-kab-banjar-krisis-air-bersih

Dayah Diniyah: Pesantren Pilar Pemulihan Korban Kekerasan di Ujung Barat Indonesia

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh mencatat sebanyak 1.227 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi di Aceh sepanjang tahun 2024 (Sumber: The Aceh Post (https://theacehpost.com/kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak-di-aceh-meningkat-tahun-2024-tertinggi-di-aceh-utara/)).

Angka ini meningkat dari jumlah 1.098 kasus pada tahun sebelumnya (ibid). Wilayah Aceh menjadi saksi banyak perempuan yang mengalami kekerasan juga bergantung secara ekonomi pada pelaku (Sumber: Laporan kunjungan Mitra Dayah Diniyah Darussalam, Dokumentasi Indonesia untuk Kemanusiaan.). Karena ketergantungan ekonomi tersebut, upaya melapor justru dapat memperbesar risiko yang dihadapi penyintas. 

Dalam konteks Aceh, penguatan layanan perlindungan anak di pesantren merupakan investasi penting untuk memastikan tumbuh kembang santri dalam lingkungan yang sehat, aman, dan menyenangkan. Langkah ini juga menjadi bentuk nyata dari komitmen pesantren untuk memastikan anak-anak di lingkungan pesantren terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dalam hal ini, Dayah Diniyah Darussalam di Kabupaten Aceh Barat menjadi contoh nyata, menghadirkan ruang aman bagi perempuan dan anak yang mencari jalan keluar dari kekerasan, sekaligus memperkuat komitmen pesantren dalam perlindungan dan pemberdayaan mereka.

Bagi Dayah Diniyah, dukungan Pundi Perempuan merupakan hibah pertama yang diterima dayah dari sumber luar, sejak Dayah berdiri di tahun 2010 lalu. Selain Dayah Diniyah, pemrakarsa Pundi Perempuan 2024 terdiri dari 7 pengada layanan lain yang tersebar di daerah Sumatra, Jawa, NTT, dan Maluku.

Tim IKa berkesempatan mengunjungi pesantren yang berada di ke Aceh Singkil dan Subulussalam pada 27-31 Oktober 2025. Kunjungan ini bukan hanya menjadi bagian dari siklus rutin manajemen program, melainkan bertujuan menyimak cerita, memahami proses pendampingan, dan menggali pembelajaran di lapangan. Dayah Diniyah telah mendampingi 43 penyintas selama April hingga Agustus 2024 dengan berbagai jenis kasus terkait kekerasan. Umi Hanisah (pimpinan Dayah Diniyah) dan para relawan melakukan pemulihan penyintas yang bersifat holistik; menemani dari proses awal, memulihkan trauma, hingga memastikan penyintas punya akses ke pendidikan dan penghidupan yang layak.

Umi mengembangkan kurikulum yang memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan gender, serta keterampilan hidup. Ada pelajaran tambahan tentang kekerasan terhadap perempuan, hak asasi manusia, dan pelatihan vokasi seperti pertukangan dan perbengkelan. Materi-materi ini tidak diberikan secara formal atau terstruktur ketat. Umi menyelipkan pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan dalam obrolan, pengajian, dan tafsir ayat-ayat Al Quran yang dibawakan sebagai materinya. Baginya, pemahaman mengenai isu ini tidak tumbuh dari ceramah satu arah, melainkan dari keseharian yang memberi ruang untuk bertanya dan memahami.

Pendekatan pendampingan juga dilakukan secara hati-hati dengan menjaga kerahasiaan penyintas. “Data orang hanya Umi simpan di kepala. Sebagian dikasih ke A, B, C. Tolong simpan ini, tapi jangan di ponsel. Kalau hilang, bahaya nyawa orang”, tegas Umi Hanisah . 

Dalam pelaksanaan program, Dayah Diniyah tak bekerja sendirian. Umi menghubungkan diri dengan jejaring lokal, termasuk Pondok Pesantren Raudatul Jannah dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kota Subulussalam. Jaringan ini penting untuk memperkuat dukungan psikologis, advokasi hukum, dan pemberdayaan ekonomi. Pemberdayaan Ekonomi menjadi salah satu kegiatan Dayah Diniyah. Pesantren ini mengelola kebun sayur organik di lahan sebelah timur kantor dan asrama putri serta di tanah wakaf di seberang jalan untuk menopang operasional dayah  dan menanam kangkung, bayam, singkong, jagung, dan bumbu dapur tanpa pupuk kimia. Hasil kebun tersebut menjadi sumber pangan utama bagi santri dan keluarga Umi, dengan sebagian dijual ke warga sekitar.

Advokasi juga menjadi fokus Dayah Diniyah. Hal ini terpicu dengan lemahnya perlindungan hukum yang memicu tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Provinsi Aceh, dimana hanya lima dari 23 kabupaten/kota -Langsa, Aceh Besar, Aceh Barat, Banda Aceh, dan Bireuen- yang memenuhi kriteria Layak Anak, sedangkan sebagai provinsi belum memenuhi syarat  (Sumber: kompas.id (https://www.kompas.id/baca/desk/2021/06/04/darurat-perlindungan-anak-di-aceh). Umi Hanisah, yang juga anggota MPU Aceh Barat, mengadvokasi kebijakan penanganan kekerasan, terutama di Aceh Barat yang menjadi kabupaten darurat kekerasan; serta mengaktifkan kembali jejaring kerja sama dengan pemerintah daerah dan sektor swasta. Sementara itu, Dayah Diniyah menonjolkan budaya kerelawanan dan kemandirian yang unik: hingga saat ini, guru-guru di dayah tak menerima gaji tetap. Mereka mengabdi dengan kepercayaan dan dukungan dari para donatur, wakaf, atau sedekah yang datang di waktu-waktu tertentu seperti bulan Ramadhan atau hari raya. Sementara itu, relawan-relawan turut membantu sebagai konselor, penasihat hukum, bahkan pengelola program. Harapan dari Dayah Diniyah, IKa dapat memfasilitasi forum berbagi antar mitra, memperkuat jejaring, dan membuka peluang kolaborasi, terutama dalam peningkatan kapasitas pendamping. Penguatan ini menjadi krusial, khususnya dalam aspek hukum dan kesehatan mental, mengingat semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi penyintas dan pendamping di lapangan.

Dayah Diniyah menegaskan bahwa pendampingan harus tetap berjalan meski tanpa dukungan hibah, dengan melakukan berbagai upaya untuk memastikan keswadayaan dayah, seperti penggalangan dana publik dan sistem ekonomi berbasis komunitas. Selain itu, jaringan sosial dan ekonomi yang dibangun oleh Umi tidak hanya membuka jalan pemulihan bagi banyak santri, tetapi juga memastikan mereka dapat mengakses pendidikan dan pekerjaan di kemudian hari. Dari sini, penyintas mulai merancang kembali masa depan mereka, berdaya dalam ekosistem yang mendukung pemulihan dan keberlanjutan jangka panjang.

Panggilan Hibah Pundi Perempuan Termin II 2025

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan membuka kesempatan pengajuan Hibah Pundi Perempuan bagi komunitas/organisasi masyarakat sipil yang memberikan layanan dan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan di Indonesia. 

Untuk itu, kami mengundang komunitas/organisasi untuk mengajukan proposal Hibah Pundi Perempuan termin II di tahun 2025 dengan dana hibah maksimal sebesar Rp 25.000.000, – (Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Dana hibah ini dapat digunakan untuk mendanai pendampingan hukum dan pemulihan psikososial.

Kriteria Penerima Hibah:

  1. Komunitas/organisasi masyarakat yang melakukan pendampingan dan pemulihan perempuan korban kekerasan.
  2. Memprioritaskan komunitas/organisasi masyarakat yang belum pernah mengakses dana hibah Pundi Perempuan.
  3. Minimal mencakup kegiatan: pendampingan dan pemulihan, konseling, penguatan kapasitas pendamping, pengelolaan rumah aman.
  4. Menyediakan layanan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan, minimal 5 kasus perbulan dan melibatkan orang muda dalam kegiatan layanannya.
  5. Memiliki tata kelola yang menjamin adanya akuntabilitas dan diharapkan dapat menunjukkan kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan dan keuangan dengan baik.

Informasi Hibah:

  1. Komunitas/organisasi mengajukan proposal melalui tautan berikut https://s.id/CallforProposalPPT22025
  2. Pemanfaatan hibah dimulai pada Agustus 2025 dengan periode pelaksanaan 6-12 bulan.
  3. Batas pengajuan proposal hibah Pundi Perempuan tanggal 7 Juni 2025 pukul 23.59 WIB.
  4. Seleksi proposal dilakukan oleh Tim Pengarah Pundi Perempuan.
  5. Penerima hibah akan diumumkan pada Juli 2025 melalui media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan konfirmasi email.
  6. Komunitas/organisasi terpilih mengirimkan cerita lapangan, foto, video, laporan kegiatan dan keuangan.
  7. Bagi yang membutuhkan, dapat mengikuti sesi penjelasan pengajuan hibah bertujuan untuk menjelaskan teknis pengisian proposal Pundi Perempuan beserta kelengkapannya; yang akan dilaksanakan secara daring 2 Juni 2025, Pkl 14.00. https://s.id/sesipengajuanhibah

Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Perempuan.

*Klik link di bawah ini untuk pengisian proposal naratif dan template anggaran secara online:

Mengenal Desa Pedawa: Kolaborasi Adat, Budaya, dan Alam

Tahun 2025 agaknya menjadi tahun yang tepat bagi Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) untuk melakukan banyak eksperimentasi di setiap kegiatan dalam rangka 30 tahun berkiprah. Di bulan Maret ini, IKa memperkenalkan inisiatif baru dalam penyelenggaraan Festival Orang Muda. Festival yang biasanya diadakan di Jakarta kali ini dipindahkan sejauh 1.100 km ke Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Menggandeng jaringan Yayasan Wisnu dan Komunitas Kayoman, festival ini berhasil melibatkan banyak orang muda serta kelompok dan komunitas lain yang memiliki visi serupa. Desa Pedawa sebagai lokasi festival merupakan salah satu desa adat tertua di Bali, yang letaknya berada pada 650 meter di atas permukaan laut. Menurut Bli Wayan, Ketua Komunitas Kayoman, desa ini memiliki bahasa yang unik dan berbeda dari dialek Bali pada umumnya, sehingga hanya masyarakat Pedawa yang bisa memahaminya.

Selain keunikan budaya dan tradisi, Desa Pedawa juga dikenal dengan mitos yang beredar di masyarakat kota. Bli Wayan Sukarta, selaku tetua adat Desa Pedawa, menceritakan bahwa banyak orang menganggap desa ini mistis dan menyeramkan. Letaknya yang jauh dari perkotaan dengan lika-liku perjalanan untuk bisa sampai kesana, membuat mitos tersebut kian santer di kalangan masyarakat awam Bali. Bahkan, seorang mahasiswa KKN bercerita bahwa temannya sempat bertanya, “Apa kamu tidak takut KKN di Desa Pedawa? Nanti nggak bisa pulang, lho!”.

Terlepas dari mitos-mitos tidak nyata itu, Desa Pedawa sebagai desa adat memiliki keswadayaan dengan mengandalkan iuran adat dari warga yang dikenal sebagai Krama Adat, seperti dalam pembangunan Pura. Keswadayaan ini tercermin dalam sistem sosial yang mengedepankan otoritas pengelolaan desa secara tradisional dengan prinsip ‘tata lilungguh‘, yakni prinsip yang menekankan pentingnya perilaku yang selaras dengan aturan adat untuk mencapai keharmonisan dan keseimbangan. Namun, prinsip tersebut bukan berarti bahwa Desa Pedawa tidak  berpaku terhadap peraturan negara, Desa Pedawa sebagai desa dinas juga menjalankan tata kelola yang diharuskan oleh NKRI.

Desa Pedawa merupakan desa yang mempunyai banyak sumber daya yang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah pemanfaatan air dalam kehidupan sehari-hari yang sejalan dengan tema Festival Orang Muda Berdaya tahun ini. Hasil kajian dari Sekolah Adat Manik Empul memperlihatkan keberadaan 33 jenis air yang dimiliki oleh Desa Pedawa dan masing-masing memiliki kegunaannya tersendiri. Oleh karena itu, air memiliki peranan mendasar dalam kebutuhan ritual keagamaan yang merepresentasikan manusia dan alam. Sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui, seringkali kita lupa bahwa suatu hari air yang kita anggap tak terbatas bisa saja habis jika tidak ada yang menjaga.

Pemuda Komunitas Kayoman (Sumber: Dokumentasi IKa, 2025)

Atas dasar keberlangsungan hidup bagi anak cucu, orang-orang muda yang mewarisi konsep Gama Tirta dalam tradisi Bali Aga, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga sumber air yang sangat penting bagi spiritualitas dan kehidupan mereka. Konsep pelestarian air yang tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi melibatkan kawasan dari hulu (Catur Desa) hingga hilir (Panca Desa Bali Aga), memberi kesempatan bagi pemuda untuk berinteraksi dan berdiskusi dalam acara “rembug”. Acara ini bertujuan memperkuat kerjasama antar desa dan memperkokoh semangat konservasi air di kalangan generasi muda.