Cerita Perubahan: Upaya Perempuan Kobher Merawat Tanah dan Keluarga

Dengan dukungan  Indonesia untuk Kemanusiaan melalui hibah Pundi Hijau, Perempuan Kobher di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Madura, berhasil menginkorporasikan Green Islam menjadi potensi pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan sampah.

Di Desa Matanair, Sumenep, sampah bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan peluang. Komunitas Perempuan Kobher hadir sebagai penggerak yang mengubah sisa rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi.

Sadar akan ancaman krisis sampah, kelompok perempuan produktif ini mengambil inisiatif untuk mandiri. Mereka membuktikan bahwa dengan kreativitas, kepedulian terhadap bumi bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga. Bagi mereka, menjaga lingkungan adalah investasi masa depan yang nyata.

Diprakarsai oleh Raudlatun Odax, para ibu di Matanair mulai bergabung dalam sebuah kompolan atau perkumpulan informal. Asal nama ‘Kobher’ berasal dari maqolah atau kata-kata mutiara dalam bahasa Arab, yaitu  “Man Jadda Wajada” yang artinya ‘Barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu pasti akan berhasil‘. Selain itu, ‘Kobher’ juga berasal dari Bahasa Madura yang memiliki makna ‘sempat’ dan ‘semangat’. 

Penamaan komunitas yang bersumber dan integrasi antara budaya lokal Madura dan ajaran agama Islam ini menandakan adanya kesetaraan dari keduanya sebagai acuan pedoman komunitas. 

Komunitas Perempuan Kobher mengintegrasikan ajaran agama Islam, menjadi tindakan konkret dalam agenda pelestarian lingkungan (Green Islam) yang dampaknya berkelanjutan secara ekonomi. Aksi Perempuan Kobher dimulai dari isu lingkungan di sekitar mereka. 

“Sejak lima taon terakhir, di sini makin panas, Mbak. Kalau siang, rasanya seperti dipanggang,” keluh seorang anggota Perempuan Kobher. Hawa panas ini diperparah oleh banyaknya titik-titik pembuangan sampah. Di pinggir-pinggir jalan, tegalan, di lahan-lahan kosong, sungai-sungai, bahkan di lapangan/ tanah terbuka. Selain itu, perubahan juga terjadi di atas meja makan. Pangan lokal penopang hidup seperti jagung, singkong, dan kaburen atau ubi hutan, perlahan tergantikan oleh budaya konsumsi instan mie instan, seblak, sosis, dan nugget. Pergeseran ini membawa konsekuensi pahit: angka stunting yang mengkhawatirkan dan munculnya berbagai penyakit seperti asam urat, kolesterol, darah tinggi, hingga gangguan ginjal dan jantung pada usia produktif. 

Pelestarian lingkungan awalnya merupakan bonus dari agenda awal Komunitas Perempuan Kobher, yakni pemberdayaan ekonomi perempuan. Mulai dari pemetaan masalah, yaitu pemetaan masalah lingkungan, masyarakat sadar akan menumpuknya sampah kemasan, juga dari banyaknya tanaman sekitar yang terbuang atau hanya menjadi ‘hiasan’, komunitas kemudian menyimpulkan potensi dari menanam untuk menanam empon-empon, atau memanfaatkan tanaman lokal sebagai bahan baku jamu.

Titik balik perjalanan mereka terjadi pada tahun 2023, ketika Perempuan Kobher menjadi salah satu pemrakarsa Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Kolaborasi ini, didukung melalui hibah Pundi Hijau, membuka cakrawala baru. Keberanian yang telah mereka pupuk saat membahas isu sosial yang pelik menjadi fondasi kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih luas: krisis ekologis. Para ibu mulai menyadari sebuah kebenaran mendasar, bahwa kesehatan keluarga tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tanah yang mereka pijak. 

Dengan semangat baru, para perempuan ini mulai mengubah masalah menjadi solusi dengan tangan mereka sendiri. Sisa sayur dan buah di dapur mereka sulap menjadi kompos penyubur tanah. Air cucian beras, yang biasa terbuang, mereka olah menjadi pupuk cair inovatif yang dikenal sebagai Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi), sebuah langkah nyata untuk meninggalkan ketergantungan pada pupuk kimia. 

Kreativitas mereka tak berhenti di situ. Daun kelor, atau maronggi, superfood lokal yang melimpah namun sebelumnya dianggap sebagai “sayuran tersier” yang hanya layak untuk sayur bening, mereka kreasikan menjadi produk unik bernilai jual seperti steak kelor. Mereka juga meracik kembali jamu warisan leluhur, racek saebuh, untuk meningkatkan kesehatan sekaligus pendapatan. Inovasi ini terbukti berhasil; dalam sebuah perjalanan ke Jogja, Raudlatun Odax berhasil menjual produk mereka dan meraih pendapatan “tiga sampai empat ratusan” ribu rupiah, sebuah bukti nyata dari kemandirian ekonomi yang mulai bersemi.

Perjalanan Perempuan Kobher dengan IKa tidak berhenti hingga masa pemanfaatan hibah. Memasuki awal tahun 2025, Perempuan Kobher berpartisipasi dalam lokakarya aplikasi INCLINE lanjutan. Melalui lokakarya ini, mereka melakukan pemetaan lokasi rawan bencana seperti banjir dan kekeringan, serta mendata warga yang mengalami gizi buruk atau minim fasilitas sanitasi. Hingga kini, pemanfaatan data tersebut telah mencapai 60% dan sangat membantu pemerintah Desa Matanair dalam menyusun rencana pembangunan yang lebih terarah, ramah lingkungan, dan peka gender. Didampingi oleh Ning Palupi, mereka juga mengikuti proses JEDA untuk mendokumentasikan setiap langkah gerakan agar lebih terukur dan dapat memberikan inspirasi bagi khalayak luas.

Kisah Perempuan Kobher adalah panen harapan yang terus bertumbuh. Usaha mereka telah menciptakan efek domino yang luar biasa: para perempuan kini memiliki kemandirian ekonomi, komunitas secara bertahap merangkul gaya hidup berkelanjutan, dan produk-produk inovatif mereka bahkan telah diakui secara resmi oleh Sekretaris Desa, Moh Suryadi Hasan, sebagai “produk unggulan desa”. Perjalanan mereka menjadi contoh nyata dari semangat ekososiopreneurship – sebuah perpaduan kuat antara kesadaran ekologis, pemberdayaan sosial, dan daya cipta wirausaha. Jauh di Desa Matanair, semangat ‘Kobher’ yang lahir dari sebuah perkumpulan sederhana telah menjelma menjadi benih perubahan yang subur, menyebarkan inspirasi dan membuktikan bahwa dari bumi Madura, harapan dapat tumbuh dan mekar dengan gagah. 

Kini, mereka tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi, tetapi melangkah lebih jauh dengan visi besar sebagai gerakan ekososiopreneurship sebuah kewirausahaan sosial yang berlandaskan kepedulian terhadap ekologi. Dari dapur dan pekarangan di Desa Matanair, Perempuan Kobher telah menyalakan api harapan, membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten, berakar pada kepedulian, dan didorong oleh semangat kebersamaan.

Artikel ini disusun berdasarkan laporan narasi Perempuan Kobher, juga dokumen JEDA oleh Ning Palupi.

Tiga Dekade Merawat Kemanusiaan, Menyalakan Harapan Masyarakat Akar Rumput  

Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti sebuah ruang di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2025) lalu. Puluhan aktivis dari beberapa generasi hadir di ruangan yang dikenal dengan Ke:Kini Ruang Bersama—salah satu ruang kerja bersama atau co-working space di tengah deretan bangunan kuno di daerah Cikini.

Kehadiran mereka, petang itu, bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan merayakan sebuah perjalanan panjang, yakni 30 tahun Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dalam merawat solidaritas dan menyemai keswadayaan. Sebuah lembaga yang tumbuh dari jalan kecil dan sunyi, tetapi melahirkan arah dan kemandirian.

Baca berita selengkapnya di Kompas https://www.kompas.id/artikel/tiga-dekade-merawat-kemanusiaan-ika-dan-perjuangan-menyalakan-harapanutm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic

Penulis: Sonya Hellen Sinombor

Bumi, Sejarah, dan Kita: Membaca Ulang Nusantara dalam Krisis Iklim

Hai Sahabat IKa,

???? Bumi, Sejarah, dan Kita: Membaca Ulang Nusantara dalam Krisis Iklim
Bagaimana jejak sejarah dan kearifan lokal Nusantara bisa memberi arah di tengah krisis iklim hari ini?
Mari bersama membaca ulang relasi manusia dan alam dari perspektif budaya, spiritualitas, dan ekologi Nusantara bersama Hilmar Farid, PhD. Ketua Senat IKJ

Waktu:
???? Selasa, 29 Juli 2025
⏰ Pukul 14.00–16.00 WIB
Hybrid:
????Luring: Ke:Kini Ruang Bersama Jl. Cikini Raya No.43/45, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat (bertempat di lt.2, hanya bisa diakses melalui tangga)

???? Daring:
YouTube: https://s.id/IndonesiauntukKemanusiaan
Zoom: Link Zoom akan dikirimkan setelah Anda melakukan registrasi

????Link Registrasi : https://s.id/RegistrasiKuliahUmumIKa

*Peserta terbatas untuk 45 orang yang hadir secara offline

???? Yuk, hadir dan ajak rekan-rekanmu belajar bersama!

Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra: Menuju Ekosistem Advokasi Iklim yang Berkeadilan

Perubahan iklim berdampak ke seluruh dunia, tapi beban terberat justru ditanggung oleh komunitas rentan yang paling sedikit berkontribusi terhadap terjadinya krisis iklim (Sumber: earth.org). Dari mata pencaharian yang terganggu hingga cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, mereka menghadapi dampak yang tidak sebanding- dan ketidakadilan ini membutuhkan aksi segera. Misalnya, di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, abrasi mengikis garis pantai Kabupaten Demak, sehingga berdampak pada peralihan fungsi lahan setempat; dari awalnya areal pertanian produktif, berangsur menjadi tambak ikan, bahkan sebagian telah menjadi perairan akibat kenaikan permukaan air laut disertai penurunan permukaan tanah (Sumber: Kompas.com). Sementara itu, musim kemarau juga berdampak besar bagi masyarakat Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di bulan September 2024 lalu, BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan 168.400 liter air bersih ke empat desa: Kampung Baru, Babirik, Muara Halayung, dan Haur Kuning (Sumber: radarbanjarmasin).

Upaya kolektif dan terorganisir menjadi semakin penting untuk memastikan komunitas terdampak tidak tertinggal dalam upaya adaptasi dan mitigasi. Menjawab kebutuhan tersebut, Pundi Hijau hadir sebagai inisiatif penggalangan dana dalam Catur Daya Indonesia untuk Kemanusiaan (dana, pengetahuan, kerelawanan, jaringan), sebagai aksi menanggapi tantangan lingkungan dan sosial yang kita hadapi saat ini. Pundi Hijau mengutamakan inisiatif kedaulatan pangan, keadilan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati dan pulau kecil dan pesisir, dengan fokus menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. 

Merespon situasi ini, Pundi Hijau didukung ClimateWorks Foundation (CWF) melalui program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” , atau ‘Program penguatan kemitraan keadilan iklim yang berbasis pada keadilan dan kesetaraan untuk mendukung kelompok rentan’ sejak tahun 2023. Pendekatan kemitraan ini bersifat partisipatif, dengan tujuan membangun pemahaman bersama tentang keadilan iklim, dengan mempertimbangkan keberagaman budaya dan wilayah di Indonesia. Dari pemahaman ini, lahirlah aksi nyata: IKa membentuk jaringan INCLINE (Indonesian Climate Justice Network) atau #JAGAINIklim (Jaringan Gerakan Indonesia untuk Keadilan Iklim) guna memperkuat gerakan yang lebih inklusif dan berdampak. Sebagai bagian dari inovasi digital, INCLINE terdiri dari aplikasi, situs web, dan akun media sosial yang difokuskan pada isu keadilan iklim. 

Uji coba INCLINE Apps telah berlangsung pada tahun pertama dan kedua, lalu IKa memandang penting untuk menyelenggarakan pertemuan tatap muka guna memperkokoh pemanfaatan perangkat ini. Pertemuan pun berlangsung pada tanggal 18-21 Maret 2025 di Kuta, Bali. Kegiatan bertajuk Lokakarya INCLINE #2 dan Temu Kolaborasi Mitra Pundi Hijau ini mempertemukan para Pemrakarsa Pundi Hijau lintas tahun (2023, 2024, 2025) bersama perangkat desa dampingan komunitas masing-masing. Keterlibatan perangkat desa memiliki peran strategis sebagai pihak yang memiliki kewenangan menentukan arah kebijakan desa, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses sekaligus memperkuat posisi komunitas dalam perencanaan pembangunan di tingkat lokal—dengan menjadikan data sebagai dasar pengambilan keputusan. 

Pemrakarsa Pundi Hijau 2023, yakni Perempuan Kobher, hadir bersama perangkat desa dari Desa Matanair. Sementara itu, dari Pundi Hijau 2024, turut berpartisipasi RUBEK PASI (bersama perangkat desa dari Telaga Gosong Utara), PAPHA Indonesia (bersama perangkat desa dari Desa Done, Sikka, Maumere, NTT), dan LSM Pelita Harapan (bersama perangkat desa dari Katakeja, Lembata, NTT). Seluruh pemrakarsa Pundi Hijau 2025 hadir dalam pertemuan yang berlangsung selama empat hari, yaitu Pusur Institute (Desa Pundungan, Klaten, Jawa Tengah), Yayasan Agro Sorgum Flores/YASORES (Desa Pajinian, Adonara Barat, Flores Timur, NTT), Lembaga Olah Hidup/LOH (Desa Balebrang, Sumbawa, NTB), dan Himpunan Maluku untuk Kemanusiaan/HUMANUM (Desa Liang, Ambon, Maluku). Selain itu, jaringan Akar Daya IKa juga turut serta melalui kehadiran Yayasan Wisnu dan komunitas dampingan mereka dari Desa Tigawasa, Bali. 

Lokakarya ini memotivasi komunitas untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi krisis iklim melalui pembelajaran bersama, mengenalkan teknologi berbasis data, dan menyusun strategi menghadapi potensi bencana iklim. Peserta tidak hanya mengumpulkan data menggunakan aplikasi INCLINE, tetapi juga menganalisis data tersebut dengan kerangka lima modal—alam, fisik, sosial, finansial, dan sumber daya manusia—untuk mengidentifikasi area rentan dan merumuskan strategi kolaboratif dengan pemangku kepentingan. Lokakarya selama empat hari ini menghasilkan rencana aksi lanjut berdasarkan data yang dianalisis. Seusai kegiatan, IKa akan mengadakan sesi pelatihan daring secara berkala guna menjaga kesinambungan rencana aksi. Melalui jaringan #JAGAINIklim dan platform Pundi Hijau, IKa terus mendorong terciptanya ekosistem advokasi iklim yang berpihak pada masyarakat, berbasis data, dan berakar pada kekuatan komunitas.

Pemahaman penting juga muncul dari lokakarya ini, seperti yang diilustrasikan oleh Pak Jalal—anggota Tim Pengarah Pundi Hijau—yang menyatakan bahwa “Sebuah botol tetap akan kosong meski diisi air sampai penuh, jika ada satu lubang kecil.” Artinya, aset yang paling lemah justru yang paling menentukan daya tahan komunitas. Sebaliknya, aset terkuat dapat menjadi tumpuan untuk memperkuat modal lainnya, khususnya modal alam. Wawasan ini membuka ruang bagi peserta untuk merumuskan solusi berbasis kekuatan dan kebutuhan spesifik wilayah mereka. Secara keseluruhan, lokakarya ini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun solidaritas lintas wilayah, meningkatkan kapasitas lokal, dan menyusun strategi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Dokumentasi video Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra bisa diakses melalui tautan ini

Sumber:

  • https://earth.org/climate-changes-unequal-burden-why-do-low-income-communities-bear-the-brunt/)
  • https://lestari.kompas.com/read/2023/11/24/150000586/perubahan-iklim-ancam-199-kabupaten-kota-pesisir-indonesia-40-sangat-rentan.)
  • https://radarbanjarmasin.jawapos.com/banua/1975076373/4-desa-di-kab-banjar-krisis-air-bersih

Gerakan Kolaborasi untuk Keadilan Iklim, Menemukan Harapan di Tengah Perubahan Iklim

Pernahkah kamu berpikir bagaimana masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil menghadapi dampak perubahan iklim? Mereka yang tidak menjadi penyebab utama krisis ini justru menanggung beban paling berat. Namun, di tengah kesulitan itu, muncul inisiatif inspiratif dari berbagai pihak yang berjuang membawa keadilan iklim bagi mereka yang paling rentan.

Dalam keresahan itu, sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dalam menghadapi tantangan perubahan iklim terutama di tengah komunitas masyarakat rentan, IKa terlibat aktif dalam Program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” yang juga dikenal sebagai Program Kolaborasi Multipihak untuk Keadilan Iklim. Program ini merupakan bagian dari Pundi Hijau, sebuah inisiatif inti IKa yang bertujuan mendukung komunitas akar rumput menuju masa depan yang adil dan berkelanjutan.

Melalui program ini, IKa berfokus membangun kolaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan kesepahaman bersama tentang keadilan iklim. Ini bukan hanya tentang mengatasi dampak perubahan iklim, tetapi juga memastikan manfaat adaptasi dan mitigasi dirasakan secara adil oleh masyarakat yang paling terdampak.

Keadilan Iklim dan Dukungan IKa

Perubahan iklim adalah masalah global, tetapi dampaknya dirasakan secara tidak merata. Masyarakat di tingkat akar rumput sering kali menghadapi ancaman seperti kelangkaan sumber daya, gangguan ekosistem, dan bencana alam yang semakin sering terjadi. Padahal, mereka bukan kontributor utama emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim. Keadilan iklim bertujuan untuk memastikan bahwa mereka yang paling rentan mendapat dukungan yang layak. Ini termasuk pendekatan yang adil dalam mengurangi risiko, mendukung adaptasi, dan mengadvokasi perubahan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Salah satu cara IKa mendukung keadilan iklim adalah melalui hibah Pundi Hijau, yang mengembangkan keterhubungan antar komunitas dan mendukung berbagai inisiatif solusi yang telah dikembangkan di tapak. Sejak 2023, program ini fokus pada inisiatif yang berkaitan dengan keadilan iklim di komunitas tapak dengan fokus tema tertentu. Tahun 2024, tema utama yang diusung adalah kedaulatan pangan dan kesehatan, dua elemen kunci dalam menghadapi perubahan iklim. Hibah diberikan kepada sejumlah mitra komunitas dari berbagai daerah di Indonesia, dimana masing-masing mitra membawa pendekatan unik yang sesuai dengan kebutuhan lokal. 

Selain itu, IKa juga mengembangkan jaringan komunikasi dengan belasan gerakan di komunitas tapak lainnya, dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jaringan ini diharapkan dapat saling bertukar informasi terkini kondisi yang dihadapi masyarakat tapak, dan juga upaya-upaya solusi dan mitigasi yang dilaksanakan oleh masyarakat. 

Dampak yang Lebih Luas

Melalui program ini, IKa tidak hanya mendukung komunitas lokal, tetapi juga menciptakan sumber referensi dan pengetahuan yang dapat digunakan oleh berbagai pihak. Informasi dari program ini diharapkan bisa memandu perubahan transformatif dalam kebijakan dan praktik keadilan iklim di Indonesia. Karena keadilan iklim adalah tanggung jawab bersama, IKa juga mendorong keterlibatan semua pemangku kepentingan di tengah masyarakat, termasuk juga kaum muda. Kamu bisa mendukung gerakan ini antara lain dengan:

  • Meningkatkan kesadaran tentang keadilan iklim di komunitasmu.
  • Mendukung inisiatif lokal yang berfokus pada keberlanjutan.
  • Mengadvokasi perubahan kebijakan yang mendukung keadilan iklim.

Yuk. Bersama-sama kita bisa menciptakan masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat untuk semua. Mari menjadi bagian dari gerakan ini dan tunjukkan bahwa perubahan itu mungkin!

Komunitas Muda Berdaya: Dari Aksi ke Transformasi

Indonesia saat ini sedang mendapatkan bonus sumber daya manusia usia muda atau disebut dengan istilah bonus demografi. Istilah ini mengacu pada kondisi di mana proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk non-produktif. Bonus demografi memberikan peluang besar bagi Orang Muda untuk berperan aktif dalam berbagai aspek pembangunan. Orang Muda adalah agen perubahan yang dapat membawa dampak signifikan melalui inovasi, kreativitas, dan semangat mereka. Peranan orang muda dianggap penting karena dengan langkah yang strategis yang diambil sejak saat ini akan bermanfaat bagi kehidupan orang muda saat ini dan generasi selanjutnya di masa mendata

Sebagai organisasi sumber daya bagi masyarakat sipil, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) membawa visi mempromosikan kehidupan yang adil, bermartabat, dan sejahtera untuk semua, berlandaskan hak asasi manusia, demokrasi, dan kelestarian alam. Orang Muda adalah salah satu fokus perhatian dukungan IKa sejak tahun 2022. Bersama Asian Community Trust,  IKa mendorong inisiatif-inisiatif  baik dari komunitas orang muda sehingga dalam kurun waktu 2022-2024 berhasil mendukung  17 komunitas dalam bentuk hibah untuk Komunitas Muda Berdaya dan pengetahuan (capacity building). Komunitas-komunitas Muda ini bergerak dengan mengangkat isu-isu yang berakar pada konteks lokal masing-masing, sekaligus menjembatani keterkaitan yang kompleks antara berbagai isu, seperti lingkungan, HAM, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, komunitas muda memiliki peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan berkat pengetahuan lokal yang mereka miliki.

Komunitas Muda Berdaya tersebar di seluruh lndonesia, mulai dari ujung Barat: Komunitas Kompak, (Batam) Forest is Our Friend (Tangerang Selatan), Balad Kawit (Bandung), Youthfel Indonesia (Sleman) Tanah Tumbuh (Yogyakarta), Narasi Perempuan Sekolah Ekofeminisme(Banjarmasin), Wajah Literasi (Kapuas Hulu), Himba alam nusantara (Barito Kuala), Satu Dalam Perbedaan /SADAP(Pontianak), Sekolah Pesisi Juang (Mataram), Sikola Bajalan (Wakatobi), Rumah Bacarita Sejarah (Seram), Mangente Forest Rover Mangente (Ambon), Bio Natural (Ambon) Sekolah Mimpi (Kepulauan Aru), Komunitas Peduli Papua (Sorong), Suara Grina (Jayapura).

Kesempatan mengimplementasikan kegiatan yang sudah direncanakan secara lebih baik, kesempatan berjejaring lebih luas untuk kelanjutan organisasi serta tertib administrasi menjadi poin yang paling banyak muncul saat tim IKa berdiskusi secara online bersama tujuh Komunitas Muda Berdaya pada awal tahun 2025. Rumah Bacarita Sejarah, Komunitas Muda Berdaya dari Kab. Seram, mengatakan bahwa kegiatan penghijauan dan edukasi ke sekolah-sekolah terkait kegiatan penanaman yang mereka lakukan menjadi lebih terstruktur, dapat menjangkau dan melibatkan lebih masyarakat terutama edukasi yang mereka lakukan tidak melulu berbasis text-book namun juga berdasarkan pengalaman. Sementara itu Sekolah Pesisi Juang dari Kota Mataram bercerita bahwa sejak mendapatkan hibah Komunitas Muda Berdaya secara internal meningkatkan kepercayaan diri untuk mencoba mengirimkan proposal hibah untuk kegiatan organisasi dan lebih berani berkompetisi guna mendapatkan hibah tersebut.

Pemanfaatan hibah berlangsung bukan tanpa tantangan. Wajah Literasi, Komunitas Muda Berdaya dari Kab. Kapuas Hulu, bercerita tentang pengelolaan sumber daya berbasis relawan dan memiliki profesi berbeda seperti dokter dan peneliti sehingga dalam perencanaan kegiatan dan penjadwalan membutuhkan proses yang panjang untuk mengakomodir kebutuhan dan jadwal yang sesuai. Narasi Perempuan, Komunitas Muda  Berdaya berbasis di Banjarmasin, bercerita mengalami tantangan terkait kehadiran peserta yang tidak konsistensi hadir selama rangkaian workshop ekosistem lahan gambut. Tantangan lain yang dihadapi oleh komunitas yang menggunakan pendekatan eko-feminisme dalam kegiatannya adalah  lebih terkait manajemen keuangan organisasi

Keberlanjutan adalah satu hal yang menjadi poin juga mengemuka pada diskusi online ini. Komunitas Muda Berdaya yang menggunakan teknologi AI dalam memantau hutan Mangrove, Mangente Forest dari Ambon, berbagi bahwa melalui kegiatan pemanfaatan Hibah Muda Berdaya membuka kesempatan berjejaring untuk keberlanjutan organisasi.  Pihak CSR dari salah satu BUMN  serta lembaga akademik lokal menjadi jejaring yang membuka peluang untuk keberlanjutan organisasi baik dari sisi pendanaan dan ketrampilan di bidang teknologi.  Sementara itu Sekolah Mimpi, Komunitas Muda Berdaya dari Kepulauan Aru, setelah melakukan kegiatan yang mengajarkan anak-anak sekolah untuk melindungi lautan mereka dan hidup dalam harmoni dengan lingkungan selama pemanfaatan hibah, kemudian berhasil menggandeng sekolah menengah yang berada di wilayah dampingannya untuk mengadopsi kegiatan tersebut menjadi bagian dari Masa Orientasi Sekolah (MOS) setiap memasuki tahun ajaran baru. Selain itu, Sekolah Mimpi juga melibatkan masyarakat setempat, termasuk di dalamnya merangkul orang tua sehingga dapat bersama-sama membangun lingkungan yang lebih inklusif.

Dinamika yang diperoleh Komunitas Muda Berdaya selama masa pemanfaatan hibah, menjadi sebuah pembelajaran berharga bahwa inisiatif dari komunitas lokal merupakan modal berharga dalam menemukan solusi bagi berbagai isu yang terjadi di komunitas masing-masing. Dukungan yang diberikan IKa dan ACT menjadi katalis dan membuka peluang Komunitas Muda Berdaya untuk dapat beraksi untuk membawa transformasi bagi lingkungan sekitar. Lebih jauh lagi, keberlanjutan menjadi satu hal mungkin bagi Komunitas Muda Berdaya.

Mengenal Desa Pedawa: Kolaborasi Adat, Budaya, dan Alam

Tahun 2025 agaknya menjadi tahun yang tepat bagi Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) untuk melakukan banyak eksperimentasi di setiap kegiatan dalam rangka 30 tahun berkiprah. Di bulan Maret ini, IKa memperkenalkan inisiatif baru dalam penyelenggaraan Festival Orang Muda. Festival yang biasanya diadakan di Jakarta kali ini dipindahkan sejauh 1.100 km ke Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Menggandeng jaringan Yayasan Wisnu dan Komunitas Kayoman, festival ini berhasil melibatkan banyak orang muda serta kelompok dan komunitas lain yang memiliki visi serupa. Desa Pedawa sebagai lokasi festival merupakan salah satu desa adat tertua di Bali, yang letaknya berada pada 650 meter di atas permukaan laut. Menurut Bli Wayan, Ketua Komunitas Kayoman, desa ini memiliki bahasa yang unik dan berbeda dari dialek Bali pada umumnya, sehingga hanya masyarakat Pedawa yang bisa memahaminya.

Selain keunikan budaya dan tradisi, Desa Pedawa juga dikenal dengan mitos yang beredar di masyarakat kota. Bli Wayan Sukarta, selaku tetua adat Desa Pedawa, menceritakan bahwa banyak orang menganggap desa ini mistis dan menyeramkan. Letaknya yang jauh dari perkotaan dengan lika-liku perjalanan untuk bisa sampai kesana, membuat mitos tersebut kian santer di kalangan masyarakat awam Bali. Bahkan, seorang mahasiswa KKN bercerita bahwa temannya sempat bertanya, “Apa kamu tidak takut KKN di Desa Pedawa? Nanti nggak bisa pulang, lho!”.

Terlepas dari mitos-mitos tidak nyata itu, Desa Pedawa sebagai desa adat memiliki keswadayaan dengan mengandalkan iuran adat dari warga yang dikenal sebagai Krama Adat, seperti dalam pembangunan Pura. Keswadayaan ini tercermin dalam sistem sosial yang mengedepankan otoritas pengelolaan desa secara tradisional dengan prinsip ‘tata lilungguh‘, yakni prinsip yang menekankan pentingnya perilaku yang selaras dengan aturan adat untuk mencapai keharmonisan dan keseimbangan. Namun, prinsip tersebut bukan berarti bahwa Desa Pedawa tidak  berpaku terhadap peraturan negara, Desa Pedawa sebagai desa dinas juga menjalankan tata kelola yang diharuskan oleh NKRI.

Desa Pedawa merupakan desa yang mempunyai banyak sumber daya yang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah pemanfaatan air dalam kehidupan sehari-hari yang sejalan dengan tema Festival Orang Muda Berdaya tahun ini. Hasil kajian dari Sekolah Adat Manik Empul memperlihatkan keberadaan 33 jenis air yang dimiliki oleh Desa Pedawa dan masing-masing memiliki kegunaannya tersendiri. Oleh karena itu, air memiliki peranan mendasar dalam kebutuhan ritual keagamaan yang merepresentasikan manusia dan alam. Sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui, seringkali kita lupa bahwa suatu hari air yang kita anggap tak terbatas bisa saja habis jika tidak ada yang menjaga.

Pemuda Komunitas Kayoman (Sumber: Dokumentasi IKa, 2025)

Atas dasar keberlangsungan hidup bagi anak cucu, orang-orang muda yang mewarisi konsep Gama Tirta dalam tradisi Bali Aga, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga sumber air yang sangat penting bagi spiritualitas dan kehidupan mereka. Konsep pelestarian air yang tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi melibatkan kawasan dari hulu (Catur Desa) hingga hilir (Panca Desa Bali Aga), memberi kesempatan bagi pemuda untuk berinteraksi dan berdiskusi dalam acara “rembug”. Acara ini bertujuan memperkuat kerjasama antar desa dan memperkokoh semangat konservasi air di kalangan generasi muda.

Call for Proposal Pundi Hijau

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) membuka kesempatan pengajuan Hibah Pundi Hijau bagi komunitas/organisasi untuk mendukung gerakan masyarakat di akar rumput di Indonesia yang berupaya mewujudkan keadilan iklim.

Untuk itu, kami mengundang komunitas/organisasi untuk mengajukan proposal Hibah Pundi Hijau di tahun 2025 dengan dana hibah maksimal sebesar Rp 30.000.000, – (Tiga Puluh Juta Rupiah). Dana hibah ini dapat digunakan untuk mendanai kerja-kerja perubahan iklim dalam konteks kedaulatan pangan air dan energi.

Kriteria Penerima Hibah Pundi Hijau:

1. Organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal.

2. Memiliki rekam jejak sebagai organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal yang berkecimpung pada isu perubahan iklim minimal 3 (tiga) tahun dan melibatkan perempuan serta orang muda dalam program kegiatannya.

3. Proposal yang diusulkan fokus pada isu ketahanan pangan, air dan energi.

4. Memiliki sistem kerja yang menjamin adanya akuntabilitas, dan kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan dan keuangan dengan baik.

5. Menyertakan 2 (dua) nama referensi beserta kontak yang dapat dihubungi dalam proposal.

6. Bersedia menggunakan aplikasi INCLINE dalam kegiatannya dan secara rutin melakukan pembaharuan (update) data.

Mekanisme Pelaksanaan Penyaluran Hibah Pundi Hijau:

1. Organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal mengajukan proposal melalui tautan berikut https://s.id/HibahPH2025

2. Organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal dapat mengajukan proposal narasi dan anggaran untuk kegiatan selama 6 bulan untuk periode 1 Maret 2025 – 31 Agustus 2025.

3. Proposal akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Hijau dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

4. Pengumuman penerima Hibah Pundi Hijau akan disampaikan akhir Februari 2025 melalui media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), dan penerima akan mendapatkan konfirmasi via email.

5. Batas pengajuan proposal hibah Pundi Hijau: 17 Februari 2025.

Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Hijau dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

*Klik link di bawah ini untuk pengisian proposal naratif dan template anggaran secara online:

Kolaborasi bersama Menjaga Indonesia melalui INCLINE

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) sebagai organisasi sumberdaya masyarakat sipil (OSMS) mengidentifikasi perlunya kolaborasi dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang menimbulkan ketidakadilan. Salah satu bentuk dari kolaborasi ini adalah dibentuknya jaringan INCLINE (Indonesian Climate Justice Network) atau #JAGAINIklim (Jaringan Gerakan Indonesia untuk Keadilan Iklim),  yang bersama-sama bermaksud memperjuangan keadilan iklim bagi masyarakat terutama mereka yang menjadi korban dan paling rentan terdampak perubahan iklim. IKa menempatkan kolaborasi jaringan ini sebagai bagian dari Pundi Hijau yang merupakan salah satu dari 4 Pundi IKa, selain dari Pundi Insani, Pundi Perempuan dan Pundi Budaya. Sejak 2023, Pundi HIjau IKa memperoleh dukungan dari ClimateWorks Foundation melalui program JEDI. 

Salah satu sarana untuk menangkap isu perubahan iklim dan dampaknya pada keadilan, IKa mengembangkan sebuah aplikasi yang bernama INCLINE. Aplikasi ini berbasis android dan berfungsi membangun data  indikator keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptif komunitas terhadap dampak dari krisis iklim. Keluaran dari aplikasi merupakan laporan hasil analisis data bagi kepentingan pengguna yang dapat digunakan untuk melakukan rencana atau kegiatan mitigasi, adaptasi maupun pembuatan kebijakan yang tepat sasaran terkait dampak perubahan iklim.

Pada tanggal 25-29 September 2024, IKa mengadakan pertemuan mitra pemrakarsa yang  merupakan komunitas penerima hibah Pundi Hijau periode ke dua. Pertemuan ini dilakukan  untuk melatih penggunaan INCLINE dan membekali komunitas dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi krisis iklim, khususnya di tingkat lokal. Dengan menggunakan aplikasi INCLINE, peserta dipandu untuk melakukan input data yang mengidentifikasi keterpaparan, sensitivitas, dan kapasitas adaptif masyarakat terhadap perubahan iklim untuk mendukung desain program-program mitigasi yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Workshop ini dilaksanakan di Ajar Learning Center, Kampung Damai, Badung, Bali.  Lokakarya aplikasi INCLINE ini melibatkan penerima hibah Pundi Hijau 2024, yaitu berbagai komunitas yang berfokus pada isu lingkungan dan keadilan iklim:

  1. Yayasan Wangsakerta (Cirebon, Jawa Barat)
  2. LSM Pelita Harapan Lembata (NTT)  
  3. Jumpun Pambelom (Kalimantan Tengah)  
  4. Gajahlah Kebersihan (Lampung)
  5. PAPHA Indonesia (Kabupaten Sikka, NTT)  
  6. RUBEK PASI (Aceh Singkil, Aceh)  
  7. Yayasan Bendega Alam Lestari (Denpasar, Bali)  
  8. Yayasan Abdi Papua Mandiri (Sorong, Papua Barat Daya)

Melalui workshop ini, diharapkan para peserta dapat membawa pulang pengetahuan praktis yang dapat diterapkan di komunitas mereka masing-masing. 

“Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan saya secara pribadi dan juga lembaga dalam menggunakan INCLINE apps sebagai tools untuk melihat sejauh mana tingkat kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim di wilayah kami”, Maria Mervina, Yayasan Pelita Harapan.

Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat ketahanan lokal terhadap perubahan iklim dan memastikan bahwa langkah-langkah adaptasi dilakukan dengan cara yang adil dan sesuai dengan kebutuhan spesifik tiap daerah.

“… INCLINE (merupakan) suatu aplikasi yang sangat membantu mencari data dan untuk menganalisis, apalagi untuk daerah yang kekurangan data, dimana mereka rentan bencana.”, Billy Christianto dari Jumpun Pambelom.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, salah satu peserta, Efraim Kambu dari Yayasan Abdi Papua Mandiri mengharapkan basis data yang didapat bisa digunakan untuk mengadvokasi pemerintah lokal untuk menjaga iklim dengan lebih baik lagi.

Integrasi Islam dan Ekologi: Inovasi Kurikulum Green Islam di Pesantren Ath Thaariq

“Kami percaya bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab spiritual kita sebagai umat Islam. Dengan pemikiran itulah, kami merancang kurikulum berbasis Green Islam untuk mendidik santri dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam sesuai dengan ajaran Islam,” ujar Nisya Saadah, pendiri Pesantren Ekologi  Ath-Thaariq Garut pada Jumat, 2 Agustus 2024, melalui pertemuan online bersama Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

Nisya Saadah, atau yang akrab disapa teh Nisya menyampaikan bahwa kurikulum ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga pada bagaimana ajaran Islam dapat diterapkan dalam konteks perlindungan lingkungan dan bertujuan untuk mengintegrasikan ajaran Islam dengan prinsip-prinsip ekologi, agroekologi, ekofeminisme serta menegaskan peran penting pesantren dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat hubungan manusia dengan alam berdasarkan nilai-nilai keislaman. Atau dengan kata lain kurikulum ini menjadi bagian dari upaya untuk menjadi rahmatan lil alamin, atau rahmat bagi seluruh alam.

Melalui integrasi tiga komponen utama, yaitu Kurikulum Agama Islam sebagai Agama Semesta, Kurikulum Ekologi, dan Kurikulum Ekofeminis, Teh Nisya mengajarkan para santri di Pesantren Ath-Thaariq untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam menjaga lingkungan, seperti konsep Tauhid, Khalifah (wakil di muka bumi), dan Fitrah (kesucian).

Sejak 2008, Pesantren Ath-Thaariq telah dikenal sebagai pelopor dalam pendidikan berbasis ekologi di Indonesia. Pesantren ini mengajarkan santri untuk bertani, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, dan memperkuat hubungan antara manusia dan alam sebagai bagian dari ibadah mereka.

“Kami berharap kurikulum ini tidak hanya bermanfaat bagi santri di pesantren, tetapi juga dapat diimplementasikan oleh masyarakat luas yang peduli terhadap lingkungan,” tambah Nisya.

Kurikulum Green Islam  sendiri merupakan gagasan  teh Nisya bersama Salwa Khanza (putrinya) dan Tarmizi, Ketua Ekologi Indonesia sejak 15 September hingga 24 November 2023. Hal yang membedakan kurikulum Green Islam yang disusun teh Nisya dan tim terletak pada Kurikulum Ekofeminis yang disampaikan. Hal ini karena kerap kali Green Islam hanya dipandang sebagai kepanjangan Fiqih Lingkungan. Padahal lingkup Green Islam lebih luas karena mengartikulasikan nilai-nilai dan elemen dalam Islam, di antaranya Tauhid, Fiqih Lingkungan, Akhlak Lingkungan, Kesetaraan, Amanah, Keadilan, Amal Sholeh, dsb. 

Dasar dari penulisan kurikulum ini sendiri berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama. Kurikulum berbasis epistemologi ini dapat dikatakan sebagai pengantar karena masih ada beberapa pembahasan lebih jauh. Meski demikian, kurikulum ini sangat penting dipelajari baik dari kalangan santri, mahasiswa, umum, hingga konsultan Pembangunan karena menggunakan pendekatan Islam yang holistik dan universal. Pesantren At-Thariq adalah salah satu mitra Pundi Hijau Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) tahun 2023 yang  mendapat dukungan dari ClimateWorks Foundation.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!