
Menyalurkan sumber daya untuk mendukung inisiatif-inisiatif perubahan yang dijalankan individu maupun komunitas akar rumput dalam gerakan sosial.
Gerakan Berbagi Daya adalah upaya bersama masyarakat luas yang bersifat lintas batas dan multi aras melibatkan individu, kelompok, jaringan, lembaga dalam peran-peran yang beragam dan saling melengkapi. Tujuan gerakan ini adalah untuk menciptakan ekosistem sumber daya berbasis solidaritas yang berkelanjutan untuk keswadayaan gerakan sosial dalam menjalankan kerja-kerja kemanusiaan dan pelestarian alam. Berbeda dengan kedermawanan yang bersifat karitatif, misi gerakan ini adalah untuk membangun keberdayaan.
Gerakan Berbagi Daya bisa punya wujud yang berbeda-beda di berbagai daerah atau lembaga, sesuai dengan konteksnya masing-masing. Semakin efektif, meluas dan beraneka bentuk gerakan ini, semakin kuat alasan bagi pemerintah untuk memberikan dukungan yang memadai untuk keberlanjutan dan pemajuan gerakan melalui kerangka kebijakan yang kondusif. Dengan demikian, gerakan ini mensyarakatkan ada proses-proses yang membangkitkan kesadaran baru, pembelajaran bersama,
penguatan kapasitas dan advokasi kebijakan.
Tiga aspek Gerakan Berbagi Daya:
1. Membudayakan ‘Berbagi untuk Berdaya’.
2. Memperluas model IKa dalam masyarakat sipil.
3. Mendorong lahirnya kebijakan yang kondusif.
Sebagai penggagas Gerakan Berbagi Daya, IKa senantiasa mencari jalan untuk mengupayakan katalisasi, fasilitasi, dinamisasi gerakan guna untuk memastikan tercapainya tujuan akhir gerakan.Komunitas Pemberdaya yang dikelola IKa untuk keempat pundinya menjadi landasan utama bagi pengembangan gerakan ini. Sistem komunikasi, koordinasi dan kolaborasi antar elemen-elemen gerakan terus dikelola dan dikembangkan bersama secara organik atau organisasional sesuai kebutuhan dan kapasitas.
Tujuh Langkah Bagi Daya
Bagi Daya dijalankan melalui tujuh langkah yang saling terhubung. Setiap langkah dirancang untuk menjaga agar proses berbagi daya tetap partisipatif, akuntabel, reflektif, dan berakar pada kebutuhan gerakan.
1. Perumusan Strategi oleh Komite Pengarah
Proses dimulai dengan membaca konteks, menentukan arah dukungan, dan merumuskan strategi Bagi Daya. Pada tahap ini, Komite Pengarah mempertimbangkan isu, kebutuhan, dinamika gerakan, serta nilai keberpihakan yang menjadi dasar kerja IKa.
2. Pengenalan dan Undangan Pengajuan Inisiatif
IKa membuka ruang bagi komunitas, organisasi, atau pemrakarsa untuk mengenali tujuan dukungan, memahami kriteria, dan mengajukan inisiatif yang sesuai dengan konteks perjuangannya.
Tahap ini bukan sekadar pembukaan pendaftaran, tetapi juga ruang awal untuk membangun pemahaman bersama tentang nilai, prinsip, dan arah Bagi Daya.
3. Proses Seleksi oleh Komite Pengarah
Inisiatif yang diajukan ditelaah secara partisipatif oleh Komite Pengarah. Proses ini mempertimbangkan relevansi isu, keberpihakan, kapasitas pemrakarsa, konteks komunitas, serta potensi inisiatif dalam menguatkan gerakan.
Seleksi tidak hanya melihat kelengkapan administratif, tetapi juga membaca makna, urgensi, dan daya hidup dari inisiatif yang diajukan.
4. Bagi Daya
Pada tahap ini, dukungan mulai dialirkan dan dihubungkan kepada pemrakarsa terpilih. Dukungan dapat berbentuk dana, pengetahuan, jejaring, kerelawanan, atau kombinasi dari berbagai bentuk Catur Daya.
Bagi Daya menjadi momen penting untuk memastikan bahwa dukungan yang diberikan benar-benar berfungsi sebagai pemantik: menguatkan daya yang sudah hidup, bukan menggantikannya.
5. Orientasi Pemrakarsa
Pemrakarsa mengikuti proses orientasi untuk membangun pemahaman bersama tentang tujuan dukungan, prinsip kerja, akuntabilitas, pembelajaran, dan relasi kemitraan.
Orientasi menjadi ruang untuk menyamakan langkah, memperjelas harapan, dan membangun relasi yang setara antara IKa, Komite Pengarah, dan pemrakarsa.
6. Ruang Belajar Keswadayaan
Pemrakarsa terlibat dalam ruang belajar bersama untuk berbagi pengalaman, membaca tantangan, merefleksikan perjalanan, dan memperkuat strategi keberlanjutan.
Ruang belajar ini membantu pemrakarsa melihat kembali daya yang sudah mereka miliki, menghubungkannya dengan daya lain, dan menumbuhkan keswadayaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
7. MEAL, JEDA
Tahap terakhir adalah proses pemantauan, evaluasi, akuntabilitas, dan pembelajaran yang dijalankan secara reflektif.
Bagi IKa, proses ini bukan sekadar pelaporan. JEDA menjadi ruang untuk berhenti sejenak, membaca perjalanan, memaknai perubahan, mengenali pembelajaran, dan memperbaiki langkah ke depan.
