Galang Daya
Menggalang sumber daya dari publik, sektor swasta maupun lembaga donor melalui cara-cara yang inovatif dan menjaga kesetaraan.
Menggalang Dana Publik dari Dalam Negeri
Gagasan penggalangan dan pengelolaan dana masyarakat untuk mendukung lembaga-lembaga layanan di seluruh Indonesia berawal pada tahun 2001. Gagasan tersebut lahir dari diskusi Komnas Perempuan dengan para pendamping korban. Dalam melakukan pendampingan, mereka sering harus berhutang kepada kerabatnya. Walau pendampingan kepada korban merupakan kerja kemanusiaan dan hasil materi bukanlah tujuan, kondisi ini dapat berdampak pada keberlangsungan kapasitas para pendamping dalam kerja-kerja pendampingan dan layanan kepada korban.
Pada saat itu, UU PKDRT belum disahkan sehingga Komnas Perempuan menggalang dukungan publik guna mendukung kerja-kerja pendampingan terhadap korban dan pendampingnya. Jalan ini diambil agar lembaga pendamping dan layanan tidak bergantung pada lembaga donor dan sebagai upaya meneguhkan komitmen publik dalam upayapenghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.
Karena Komnas Perempuan tidak memiliki mandat menyalurkan dana kepada lembaga pendamping korban, maka Komnas Perempuan membuka kerjasama dengan organisasi yang memang bergerak dalam pengelolaan sumber daya, dalam hal ini berupa dana.
Pada saat itu, satu-satunya organisasi filantropi yang dimiliki dan dibentuk oleh gerakan sosial untuk transformasi sosial adalah Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK), yang kemudian mengubah sebutannya menjadi Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Orang-orang yang berada di dalam tubuh YSIK merupakan orang-orang yang memiliki komitmen dan dedikasi untuk persoalan HAM. Pada akhirnya, Komnas Perempuan bekerjasama dengan YSIK dalam mengelola dana. Komnas Perempuan bertugas menggalang dukungan publik, sedangkan YSIK bertugas mengelola dan menyalurkan dana yang telah terkumpul kepada lembaga/organisasi pengada layanan dan pendamping. Inisiatif inilah yang kemudian melahirkan Pundi Perempuan.
Bangun Keswadayaan dengan Sumber Daya Publik
Pada tahun 2010, IKa memulai proses pencarian format kerja baru yang mengandalkan keberagaman dalam sumber daya dan cara penggalangannya. Bertumbuhnya kelas menengah di Indonesia menjanjikan adanya peluang baru untuk menggalang sumber daya dari dalam negeri. Munculnya praktik-praktik baru di kalangan anak muda Indonesia yang cakap mengintegrasikan bisnis dengan kerja sosial, termasuk dengan memanfaatkan sosial media, juga membuka ruang-ruang baru untuk menggalang dukungan dan dana publik bagi gerakan sosial.
Bersamaan dengan itu, dalam komunitas donor internasional juga terjadi perubahan yang cukup mendasar. Pergeseran politik ke arah kanan di negara-negara donor telah berakibat pada pengurangan dan politisasi bantuan internasional ke belahan dunia Selatan, dana yang tersisa diprioritaskan ke Timur Tengah dan Afrika serta untuk membasmi jaringan terorisme. Artinya, masyarakat sipil Indonesia sudah tidak bisa mengelak urgensi membangun keswadayaan bagi gerakan dan organisasinya.
Mencari “Ruang Baru”
IKa merasa perlu mendekatkan diri dengan publik yang lebih luas, para pemilik sumber daya yang selama ini mungkin belum terjangkau. IKa mencari ruang baru yang diasumsikan lebih mudah “dijangkau” publik; baik secara fisik, visual maupun gagasan. Untuk tujuan itu, IKa memindahkan kantor dari gedung kantor Salemba Tengah ke rumah kontrakan di Jl. Kemandoran pada tahun 2010. Pada tahun 2014, IKa mendapat hibah pinjam-pelihara kantor di gedung tua Jl. Cikini Raya 43/45 dari Kamala Chandrakirana (Ketua Dewan Pengurus 2010-2022 dan kemudian menjadi Ketua Dewan Pembina). Menempati kantor di daerah yang strategis memberi kesempatan kepada IKa untuk lebih mengaktifkan hubungan dengan berbagai mitra kerja, termasuk mendekatkan diri pada publik.
Sumber Daya, Kawan-kawan dan Cara-cara Baru
Sejak dilahirkan, IKa tidak dirancang untuk menjadi besar. Oleh karena itu, IKa tidak pernah bekerja sendiri. Berjejaring dan berkolaborasi adalah nafas bagi keberlanjutan. Kesadaran inilah yang mendasari IKa untuk selalu mencari jalan, cara dan kawan-kawan baru agar keberadaan dan perannya selalu relevan sebagai lembaga sumber daya dalam situasi dan kondisi masyarakat yang terus berubah.
Tidak mudah bagi siapapun untuk tetap berdiri tegak dan terus berperan dalam pusaran arus perubahan di berbagai lini gerakan sosial saat ini.
Kesadaran ini yang menjadikan landasan bagi berbagai uji coba yang dilakukan IKa. Bila pada dekade pertamanya IKa lebih dekat dan terbiasa dengan cara kerja para mitra pelaku perubahan di komunitas, maka pada dekadenya yang kedua, IKa harus juga bisa membangun kepercayaan dari publik agar mereka mau membagikan sumber daya yang dimiliki melalui IKa. Bila selama ini sumber pendanaan lebih terpusat pada lembaga donor internasional (konvensional), maka sekarang IKa harus mencari dari sumber-sumber lain yang lebih beragam, termasuk dari dalam negeri sendiri.
Proses pencarian format baru dijalankan dengan melakukan eksperimentasi berbagai cara penggalangan dana. IKa menjalin kerjasama dengan sektor swasta, khususnya pengusaha start up ukuran menengah-kecil yang punya kepedulian terhadap masalah-masalah sosial. IKa juga memperluas jejaringnya dengan komunitas seni untuk kerjasama dalam menyelenggarakan acara-acara penggalangan dana serta bekerjasama dengan pihak-pihak yang menggunakan teknologi guna mengembangkan platform penggalangan dana, seperti KitaBisa.com di tingkat nasional dan GlobalGiving.org di tingkat internasional.
Selain itu, IKa berupaya menguji cara kerja baru dengan melakukan investasi dalam ‘ekonomi solidaritas’, yaitu sistem dan praktik ekonomi alternatif yang menyandang aspirasi untuk mengatasi berbagai bentuk ketimpangan sosial ekonomi dan merealisasikan kemaslahatan bagi semua. Dalam kaitan dengan ini, IKa telah melakukan investasi pada dua koperasi yang didirikan oleh perempuan pembela HAM dan memprakarsai dana bergulir antar lembaga pengada layanan bagi perempuan korban kekerasan.Tidak semua eksperimen yang dijalankan berhasil, tetapi setiap upaya membuahkan pembelajarannya masing-masing.
