Solidaritas untuk Kemandirian Pangan

Jakarta, 16 Mei – Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Terasmitra, dan Indonesia Berseru meluncurkan gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan, sebuah gerakan pengumpulan sekaligus penyaluran donasi pangan untuk mendukung komunitas membangun sistem pangan mandiri.

Latifah Hendarti dari Yayasan Detara dan Panitia Pengarah Nasional GEF SG sebagai keynote speaker menjelaskan bahwa gerakan ini dilakukan untuk membangun koIaborasi untuk membantu dan menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan lokal yang beraneka ragam dan sehat yang kian sulit diakses hari ini, serta merespon kemungkinan krisis pangan di Indonesia.

“Gerakan ini fokus untuk menyemai sistem pangan komunitas yang lebih kuat, memperkuat pengakuan kepada petani atau pembenih di desa, termasuk inisiatif komunitas untuk menyediakan pangan secara mandiri dan memfasilitasi komunitas pendamping teknis.” Sebut Latifah.

Selain itu, peluncuran gerakan ini juga dilanjutkan dengan diskusi bertema “Solidaritas Untuk Kemandirian Pangan” dengan pembicara: Ukke Kosasih (Indonesia Untuk Kemanusiaan, penggiat kemandirian pangan), Tejo Wahyu Jatmiko (Indonesia Berseru, penggiat kedaulatan pangan) dan Slamet (Perwakilan Mitra Terasmitra – Komunitas Pertanian Organik Brenjonk) dengan moderator: Annisa Hertami (Aktris Film “Empu” – nominee Piala Citra).

Tejo Wahyu Jatmiko, menjelaskan bahwa membahas permasalahan krisis pangan yang yang diakibatkan pandemi Covid-19 adalah hal yang urgent, namun tidak banyak pihak yang menyadarinya.

“Pemerintah Indonesia telat dalam merespon ancaman krisis pangan yang selama pandemi. Pemerintah baru memberi perhatian dan bergerak seteleh WHO mengeluarkan seruan bahwa ancaman pandemi juga akan berefek pada krisis pangan.” Ucap Tejo.

Respon itu sangat telat jika dibanding negara lain, mengingat adanya keterhubungan dan ketergantungan antar negara dalam setiap makanan yang dikonsumsi masyarakat. Keterhubungan ini dapat dilihat dari konsumsi masyarakat yang sangat dipengaruhi rantai pangan global, sehingga sangat terbiasa makan buah-buahan, roti, dan daging yang sumbernya berasal dari negara lain.

“Sehingga penting untuk kita di Indonesia membangun sistem pangan komunitas, Sistem pangan dari, oleh, dan untuk masyarakat lokal. Semua berfokus pada keterlibatan masyarakat lokal dengan tidak merusak alam dan merekatkan hubungan sosial masyarakat.” Tutup Tejo.

Hal ini dipertegas oleh Slamet dari Komunitas Pertanian Organik Brenjonk. Ia menjelaskan bahwa membangun sistem pangan komunitas adalah kunci untuk mendorong kemandirian komunitas desa dalam mengelola usaha-usaha berkelanjutan dengan prinsip-prinsip kewirausahaan sosial.

“Membangun sistem pangan komunitas bukanlah hal yang sulit jika kesadaran masyarakat untuk menanam bahan pangan sudah terbentuk. Di lingkungan pedesaan, kita memiliki banyak lahan yang bisa digunakan untuk menaman, namun kita semua bisa mulai menanam dari pekarangan rumah.” Ucap Slamet

Selain mendorong masyarakat untuk menanam, Slamet juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lahan dan bahan pangan dengan tidak menggunakan bahan kimia yang berpotensi merusak kualitas tanah dan bahan pangannya. Jadi sistem pangan komunitas bisa berjalan secara berkelanjutan dengan tetap melestarikan alam.

“Saya bersama keluarga pindah ke daerah Cisarua dari Bintaro untuk menjadi juru kampanye ketahanan pangan yang dimulai dari tingkat keluarga.” Ucap Ukke Kosasih. Ketika pertama kali pindah, lahan yang ditempati Ukke hanya memiliki dua jenis sayuran, setelah empat tahun, tanaman yang dimiliki lebih dari ribuan jenis dan menjadi tempat belajar orang-orang dari kota, terutama Jakarta.

Diskusi ini ditutup dengan kesimpulan dari Annisa Hertami selaku moderator yang menjelaskan bahwa persoalan pangan berkaitan dengan keberpihakan masyarakat dan keberpihakan pemerintah. Gerakan ini diharapkan bisa lebih luas dan banyak dilakukan oleh setiap kelompok masyarakat.

“Di masa pandemi ini yang sangat dibutuhkan masyarakat adalah harapan, dan gerakan kemandirian pangan ini adalah harapan baru untuk menghindari kita dari krisis pangan.” Tutup Aninisa.

Memetakan Dampak Covid-19 Terhadap Pendampingan Perempuan Korban Kekerasan

Kebijakan untuk menekan penularan COVID-19 secara global masih belum melihat kebutuhan khusus perempuan korban kekerasan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di beberapa negara yang meningkat sangat tinggi. Di Indonesia, kebijakan PSBB yang diterapkan dipastikan membuat perempuan semakin rentan mengalami kekerasan. Perempuan sulit untuk keluar dari situasi kekerasan di dalam rumah, mereka tidak dapat lagi leluasa bertemu teman, berbicara dengan konselor pendamping ataupun mencari pertolongan. Ditambah PHK massal dampak dari pandemi Covid-19 membuat banyak perempuan kehilangan sumber ekonomi mereka yang menjadi salah satu kekuatan untuk bernegosiasi dengan pelaku kekerasan.

Beberapa lembaga pengada layanan sejak masa pandemi juga mengalami dan merasakan perubahan ini. Banyak dari lembaga mulai sering menerima pengaduan melalui telepon atau email, hal ini tentu akan berpengaruh pada jumlah pengaduan dan sangat tergantung pada ketersediaan akses komunikasi ataupun dana yang tersedia selama masa pembatasan. Selain itu, penerapan PSBB, membuat lembaga pengada layanan tidak bisa menyediakan pendampingan hukum dan psikososial secara optimal.

Melihat perubahan-perubahan ini, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Pundi Perempuan “Merespon Dampak Covid 19 Terhadap Perempuan Korban Kekerasan Bersama Lembaga Pengada Layanan dan Women Crisis Center” dengan keterlibatan 23 peserta dari 19 organisasi pengada layanan secara online.

FGD ini dibuka oleh Maria Anik Tunjung selaku Direktur Eksekutif IKa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa FGD ini bertujuan untuk memetakan kebutuhan organisasi pengada layanan dalam merespon Pandemi Covid 19 dan menjadi dasar untuk melakukan fundraising di masa pandemi Covid 19. Sebelumnya, Komnas Perempuan juga telah menyebar angket untuk mengetahui dampak pandemi Covid 19 terhadap pelayanan Lembaga layanan perempuan korban kekerasan. Data ini akan digunakan Komnas Perempuan memberikan rekomendasi kepada para pihak dalam mendukung lembaga layanan dalam menjalankan tugasnya.

FGD yang dibagi menjadi 4 sesi ini dimoderatori oleh Christina Yulita selaku Perwakilan Komnas Perempuan. Terdapat berbagai fakta yang ditemukan selama sesi, yaitu: 1) setiap lembaga memaksimalkan layanan hotline, email dan WA untuk menampung pengaduan, 2) hampir semua lembaga pengada layanan melakukan pendampingan secara online, hanya kasus yang urgent saja yang didampingi secara langsung dengan menjalankan protokol kesehatan yang memadai, 3) aduan yang paling sering diterima adalah kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga, dan 4) konsultasi yang dilakukan secara daring ternyata tidak bisa berjalan efektif dibanding dengan tatap muka langsung.

FGD ini diakhiri dengan pembahasan mengenai strategi dan kebutuhan lembaga pengada layanan di masa pandemi saat ini. Harapannya, hasil dari FGD ini bisa menjadi landasan untuk bisa mendukung lembaga pengada layanan di masa pandemi dengan lebih tepat sasaran dan kontekstual.

Peluncuran Gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan

Siaran Pers Peluncuran Gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan

(Penggalangan dan Penyaluran Hibah Donasi Pangan)

Jakarta- Pandemi Covid-19 menyebabkan kondisi darurat ketersediaan pangan, terutama pangan segar dan sehat. Ini bukan saja kebutuhan dasar, tapi juga unsur penting membangun daya tahan tubuh dari virus (WHO, 2020).

Krisis pangan terjadi bukan hanya karena masalah distribusi dari pusat pangan ke tempat yang membutuhkan, tetapi juga potensi terhentinya proses produksi karena perluasan pemberlakukan Kebijakan PSBB Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Untuk Indonesia, yang memiliki penduduk miskin 24,79 juta jiwa (9,86 juta di perkotaan dan 14,93 juta di perdesaan pada September 2019 (BPS.go.id) kombinasi antara krisis pangan dan krisis gizi serta pandemi Covid-19 akan memicu dampak berkepanjangan di masa depan.

Sebagai upaya mengatasi krisis pangan tersebut, Indonesia untuk Kemanusiaa (IKa), Terasmitra dan Perkumpulan Indonesia Berserumeluncurkan “Gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan” pada Sabtu, 16 Mei 2020, 10.00-11.30 melalui aplikasi Zoom (http://tiny.cc/RegisTMShareVol8) pada acara TM Share Volume 8.

Peluncuran gerakan ini menghadirkan keynote speaker: Latipah Hendarti dari Yayasan Detara dan Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia dandilanjutkandengandiskusi“Solidaritas Untuk Kemandirian Pangan” dengan pembicara: UkkeKosasih (Indonesia UntukKemanusiaan, penggiatkemandirianpangan), TejoWahyuJatmiko (Indonesia Berseru, penggiat kedaulatan pangan) dan Slamet (Perwakilan Mitra Terasmitra – Komunitas Pertanian Organik Brenjonk) dengan moderator: Annisa Hertami (Aktris Film “Empu” – nominee Piala Citra)

Gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan adalah sebuah mekanisme pengumpulan sekaligus penyaluran donasi pangan bagi komunitas yang membutuhkan di tengah pandemi Covid-19.

Gerakan ini dilakukan untuk membangun koIaborasi dalam membantu dan menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan lokal yang beraneka ragam dan sehat yang kian sulit diakses hari ini, serta merespon kemungkinan krisis pangan di Indonesia. Dengan menyemai sistem pangan komunitas yang lebih kuat, memperkuat pengakuan kepada petani atau pembenih di desa, termasuk inisiatif komunitas untuk menyediakan pangan secara mandiri dan memfasilitasi komunitas pendamping teknis.

Gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan selanjutnya mempunyai 2 program kerja yaitu: pertama, melakukan penggalangan danadan kedua, menyalurkannya melalui dana hibah yang bernama “Pundi Hijau.”

Program Penggalangan Dana

Melakukan penggalangan dana publik:

  • Dana akan digalang secara terbuka dari berbagai sumber termasuk individu, komunitas dan perusahaan melalui penyebaran informasi online
  • Periode penggalangan 16 Mei 2020-30 November 2020
  • Dukungan donasi dapat dikirim ke rekening Bank Mandiri Cab.Salemba Tengah an. Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (No rek. 123.00.05300.001)

Program Penyaluran Dana Hibah

a. Kegiatan

Memfasilitasi pertukaran/ adopsi benih ataubibitpangandiantaranya: (1) Komunitaspemulia benih pangan lokal; (2) Komunitas yang ingin mulai atau ingin memperkuat sistem pangan lokal; (3) Komunitas pendamping teknis.

b. Mekanisme Seleksi dan Penyaluran Dana

1. Mekanisme seleksi akan dilakukan oleh 3 lembaga yang terlibat

2. Dana hibah berkisar antara Rp 3-5 juta rupiah per komunitas

3. Mengingat dana ini adalah dana jangka pendek merespon Covid maka permohonan pengiriman proposal dibuka setiap saat sejauh telah ada dana terkumpul untuk dibagikan.

4. Penerima danahibahakandiumumkanmelalui media sosialdan website masing-masing organisasi penyelenggara.

5. Penerima dana hibah harus mengirimkan laporan kemajuan narasi dan keuangan, beserta informasi pendukung seperti foto, quote dll setelah periode hibah selesai.

c. Kriteria Penerima Hibah

A. Organisasi/ kelompok di komunitas yang lahir dari masyarakat yang terdiri dari komunitas pemuliabenihpanganlokal, komunitas yang inginmulai atau ingin memperkuat sistem pangan lokal komunitas dan komunitas pendamping teknis.

B. Melakukan pengorganisasian untuk upaya penanaman benih/bibit tanaman pangan skala rumah tangga hingga komunitas..

C. Bagi organisasi/kelompok yang baru mulai menanam, mereka harus memiliki organisasi/individu pendamping yang dapat memberi peningkatan kapasitas

D. Dana dapat digunakan untuk memperoleh benih dan atau bibit tanaman pangan, sayur-sayuran yang dapat segera dipanen daIam jangka waktu 3-5 buIan, sarana pengoIahan Iimbah wadah menanam, komposter, biaya penyiapan lahan dan pada kasus-kasus tertentu untuk membantu ketersediaan aIat peIindung diri (masker)

E. Memiliki sistem kerja dan kontrol yang jelas

F. Berada di wiIayah kota/desa di seluruh wilayah Indonesia

G. Menyertakan 2 referensi dari jaringan

H. Belum memiliki akses kepada donor besar.

Gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan:

  1. Indonesia untuk Kemanusiaa (IKa)
  2. Terasmitra
  3. Perkumpulan Indonesia Berseru

Kontak Person:

Kontak Narasumber:

Ukke Kosasih 0878 0834 8371

Adinindyah (Terasmitra) : 0811-2800-938

Tejo Wahyu Jatmiko (Indonesia Berseru) : 0812-6478-9388

Kontak tentang Gerakan Donasi:

Ikhwan Al Huda (IKa) : 0811-929-383

Ketoprak Pagebluk dan Penggambaran Ketakutan di Masa Pandemi

Wabah Covid-19 adalah hal yang menakutkan untuk masyarakat Indonesia. Kasus pertama virus ini ditemukan dua bulan lalu di Indonesia, dan saat ini sudah lebih dari 12 juta yang terinfeksi. Ketakutan ini sama persis dengan apa yang yang dirasakan oleh korban Tragedi 65 pada saat pembantaian pasca Gerakan 30 September.

“Tahun ’65 mereka terbuang di penjara, di pulau buru, kalau sekarang mereka diasingkan jauh dari keluarga, ditolak jenazahnya dan diberi stigma buruk karena berpenyakit. Jadi persamaan tragedi ’65 dengan pandemik corona ini yang kita angkat dan pentaskan.“Ucap Winarso, Koordinator Ketoprak Srawung Bersama (KSB).

Pagebluk yang disutradarai oleh St. Wiyono berangkat dari ide cerita Winarso. ST Wiyono sendiri adalah seorang seniman dan penulis naskah teater yang telah mengabdi selama 32 tahun di Taman Budaya Surakarta. Dalam berkarya, ia selalu menekankan pada tiga aspek yakni edukasi, kultural dan rekreasi. Sejumlah karya ST Wiyono yaitu Medio 1980-1990 cukup disegani di tingkat nasional. Naskahnya yang berjudul Dua Matahari, Ranggalawe dan Gendhuk Gotri juga pernah masuk tiga besar festival teater tingkat nasional.

Pemain dari Ketoprak Pagebluk ini terdiri dari gabungan seniman tradisional dan seniman modern, anak cucu korban, dan anak muda yang umumnya adalah mahasiswa UNS dan ISI Solo, serta dilengkapi pertunjukan karawitan dari Lumbini dkk. Ketoprak Pagebluk hadir dengan dukungan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Program Peduli.

Program Peduli adalah sebuah program pengentasan kemiskinan yang menggunakan pendekatan pembangunan inklusif untuk memastikan kelompok masyarakat marginal yang tidak terjangkau juga dapat terlibat dan mendapat manfaat dari pembangunan. Program Peduli bekerja dengan dan untuk orang-orang terpinggirkan di seluruh Indonesia untuk mendukung mereka mengakses layanan publik, keadilan dan peluang ekonomi.

Sedianya ketoprak akan pentas dengan mengadaptasi cerita Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Mangir pada 28 Maret secara langsung. Namun, karena pandemi Covid-19, Sekber 65 berdiskusi dengan seniman ketoprak, untuk merespons situasi ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut memberi edukasi tentang pandemi. jadilah akhirnya ketoprak melakukan pementasan Pagebluk yang dilaksanakan secara streaming, agar bisa disaksikan lebih banyak orang, dengan tema disesuaikan yakni Covid-19.

Pagebluk bercerita tentang sebuah Kadipaten Selogumito yang terkena wabah Covid-19. Awalnya sang Adipati kebingungan dalam merespon wabah tersebut, namun setelah diskusi panjang dengan dua orang kepercayaannya, Adipati memutuskan untuk mengeluarkan kebijakan lockdown, yang ternyata merupakan akronim dari:

L : Lungguh ayem ning omah (duduk tentram di rumah)

O : Ora usah keluyuran (tidak boleh keluar rumah jika tidak sangat penting)

C : Cukup ngasohi (harus banyak istirahat)

K : Kumpul karo keluarga (berkumpul dan berbahagia bersama keluarga)

D : Dipepe awake (berjemur di bawah sinar matahari)

O : Olahraga secukupe (olahraga secukupnya)

W : Wisuh karo sabun (cuci tangan pakai sabun)

N : Ngerungo seng akeh (diam yang banyak)

Keputusan ini tidak hadir dari ruang kosong. Awalnya Adimas Senopati, sebagai petinggi Kadipaten, merasa Adipati perlu mengeluarkan kebijakan tegas kepada rakyat agar Covid-19 tidak tersebar. Ia mendorong kebijakan penangkapan warga yang tetap keluar dari rumah tanpa mempedulikan hak asasi masyarakat. Namun, berkat perenungan salah satu mantap prajurit Kadipaten yang merasa bersalah telah melakukan tindak kekerasan yang bahkan menimbulkan darah pada 55 tahun sebelumnya, akhirnya Adipati mengeluarkan kebijakan yang fokus untuk menangkap wabah dengan tetap memperhatikan hak asasi masyarakat.

Mengangkat Cerita Pelanggaran HAM dengan Budaya

Hingga hari ini, membahas pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia perlu pendekatan menarik agar bisa diterima masyarakat. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah pendekatan budaya dan kesenian. Kesenian tradisional dan kesenian modern memang membahas isu sosial, tapi masih kurang dalam menyinggung soal pelanggaran HAM berat. Penerimaan pelaku seni juga berbeda-beda, bahkan ada yang belum menerima.Winarso bercerita, awalnya pelaku seni tradisional dan modern di Solo sempat menolak untuk mengangkat isu pelanggaran HAM Berat.

Setelah banyak berdiskusi dan melakukan pendekatan personal, banyak pelaku seni yang setuju untuk mengangkat isu pelanggaran HAM berat. Selain itu, para pelaku seni juga dipertemukan dengan korban dan anak cucunya supaya bisa mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai apa yang dialami korban dan anak cucunya. Setelah berproses, mulai banyak pihak yang terlibat dalam berbagai pementasan yang dilakukan KSB, seperti mahasiswa dan dosen UNS Surakarta dan ISI Solo.

Ketoprak Pagebluk mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari masyarakat luas. Hal ini dikarenakan ketoprak yang merupakan kesenian tradisional, tidak hanya menghibur, tapi juga mampu memberikan edukasi terhadap masyarakat terkait pandemi Covid-19 dan pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia. Bahkan, Walikota Solo memberikan apresiasi langsung melalui pesan singkat WhatsApp dan berharap pementasan Pagebluk bisa dilaksanakan di Balai Kota.

Ketoprak Pagebluk adalah satu langkah baik yang bisa dikembangkan lebih jauh oleh semua pihak untuk memberikan edukasi ke masyarakat mengenai kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Kita semua perlu mengingat dan belajar dari masa lalu agar berbagai tragedi di Indonesia tidak kembali terulang “Dengan kesenian kita bisa memberikan edukasi masyarakat tanpa terasa sedang menggurui. Kesenian adalah medium yang sangat ampuh untuk bisa diterima masyarakat dengan hati senang.” Tutup Winarso

Pundi Insani: Membangun Inklusi Sosial bagi Korban Talangsari Lampung

Paguyuban Keluarga Korban Talangsari Lampung (PK2TL) mengadakan pertemuan dengan warga Desa Rajabasa Lama untuk mendiskusi strategi penguatan komunitas melalui akses dana desa dan berkolaborasi dengan mahasiswa. Pertemuan ini berlangsung pada 29 Januari 2020 di Mushalla Talangsari, dusun Subing Putra III, Lampung.

Selain itu, PK2TL juga mengadakan Studi Banding ke Kelompok Perempuan Rajabasa Lama untuk mempelajari Kain Tapis pada 27 Februari 2020 di Sanggar Tapis Jejama. Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sudi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam. Studi banding ini penting dilakukan mengingat bahwa Sanggar Tapir Jejama sering menjadi rujukan untuk pameran Tapis di berbagai kesempatan sehingga komunitas bisa banyak hal tentang Kain Tapis.

PK2TL juga mengadakan audiensi ke Audiensi ke Dinas Sosial Kab. Lampung Timur pada 6 Maret 2020 untuk untuk membahas percepatan pemulihan terhadap keluarga dan korban Talangsari yang ada di Lampung Timur. Adapun beberapa hal bantuan sosial di Dinas Sosial yang harus ditindaklanjuti yaitu:

  • Bantuan sosial untuk pengembangan kearifan lokal di daerah yang pernah terjadi konflik sosial (pengadaan alat untuk kesenian atau kebudayaan);
  • Bermacam-macam bantuan untuk kelompok usaha warga;
  • Bantuan BPJS-PBI yang bekerjasama antara Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan pihak BPJS bagi keluarga korban dan warga dusun Talangsari yang belum mendapat KIS.

Pundi Insani adalah wadah penggalangan dana untuk pemulihan serta pemberdayaan korban pelanggaran HAM. Saat ini, Pundi Insani didukung oleh Program Peduli, yang bertujuan mewujudkan gerakan inklusi sosial untuk mendorong masyarakat untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari.

Panduan Menghadapi Ancaman dan Bahaya Pandemik Covid-19

Apa itu Coronavirus?

Novel coronavirus (CoV) adalah virus baru yang menyebabkan gejala seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam.

Bagi beberapa orang, gejalanya dapat lebih parah, dan menimbulkan radang paru-paru atau kesulitan bernapas. Sejumlah kecil kasus menyebabkan kematian.

Minimalkan risiko terinfeksi coronavirus!

* Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, atau cairan pembersih berbasis alkohol

* Tutupi hidung dan mulut dengan tisu atau lengan ketika batuk dan bersin

* Hindari kontak dengan orang yang menunjukan gejala sakit flu

* Hindari keramaian

* Masak daging dan telur sampai matang

* Hindari kontak dengan hewan tanpa pelindung

Lindungi dirimu dan orang lain agar tidak terinfeksi!

Cucilah tangan…

* Setelah batuk atau bersin

* Ketika merawat orang sakit

* Sebelum dan setelah mengolah makanan

* Sebelum makan

* Setelah ke toilet

* Ketika Tangan Kotor

* Setelah mengurus hewan atau kotoran hewan

Lindungi orang lain agar tidak terinfeksi!

* Hindari kontak dengan orang lain jika sedang batuk-batuk dan demam

* Jangan meludah di tempat umum

* Jika deman, batuk, dan susah bernapas, segera minta pertolongan medis dan informasikan riwayat perjalanan kepada petugas medis

Apa yang perlu dilakukan untuk orang-orang tercinta?

* Cek keadaan mereka secara berkala, terutama mereka yang terdampak

* Dukung mereka untuk tetap melakukan hal yang disukai

* Bagikan informasi dari sumber yang bisa dipercaya untuk membantu mengendalikan rasa cemas

* Berikan nasihat yang tepat kepada anak-anak dan jaga agar mereka tetap tenang

Berhati-hatilah pada Coronavirus…

Jika kamu Jika kamu berusia 60 tahun ke atas atau sudah memiliki kondisi medis, seperti:

* Penyakit jantung

* Penyakit saluran pernapasan

* Diabetes

Hindari keramaian atau tempat-tempat yang memungkin kamu berinteraksi dengan orang yang sedang sakit. Source: Q&A and Infographics WHO 2020 Pelajari lebih banyak di who

FGD Perwali Lansia Surakarta dan MoU Buku Hijau bersama LPSK

Sekber 65 melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk diseminasi Perwali Kesejahteraan Sosial Lansia Kota Surakarta 12 Februari 2020. FGD ini dihadiri oleh OPD dan Komda Lansia serta Paguyuban Lansia di Surakarta dan perwakilan Ketoprak Srawung Bersama. FGD ini bertujuan untuk mewujudkan Perwali Baru tentang Kesejahteraan Lansia di Surakarta, khususnya lansia yang terdiskriminasi setelah munculnya Perda No. 4 Th 2019 tentang Penyelenggaraan Lansia di Surakarta.

Selain itu, Sekber 65 bekerja sama dengan LPSK telah menekan MoU untuk memberikan fasilitas bantuan medis dan psikologis untuk berobat gratis di RSUD Moewardi dengan mekanisme buku hijau dan dengan rujukan berjenjang menggunakan mekanisme BPJS. Serta memberikan uang kerohiman/santunan kematian bagi korban yang masih terlindung.

Sayangnya, dengan adanya pandemic Covid-19, anggota SekBer’65 tidak bisa berobat di rumah sakit Moewardi, karena rumah sakit ini adalah rujukan penanganan virus corona. Sebagai akibatnya, meskipun dalam kondisi sakit dan memegang buku hijau untuk berobat gratis, korban tidak bisa berobat. Pundi Insani adalah wadah penggalangan dana untuk pemulihan serta pemberdayaan korban pelanggaran HAM. Saat ini, Pundi Insani didukung oleh Program Peduli, yang bertujuan mewujudkan gerakan inklusi sosial untuk mendorong masyarakat untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari.

Lansia Jogja Berlatih Panembromo dan Berobat dengan Buku Hijau

Fopperham melakukan pendampingan terhadap lansia dan penyintas di Yogykarta pada Januari sampai Maret 2020. Beberapa kegiatan yang terlaksana adalah latihan kesenian Penembromo yang bertujuan untuk memberi ruang perjumpaan sesama lansia dan penyintas (1/16). Panembromo adalah ‘tembang’ atau nyanyian yang dilakukan bersama-sama bisa diiringi dengan musik bisa juga tidak diiringi. Ada beberapa jenis ‘tembang’ yang bisa digunakan untuk Panembromo. Lagu syair disesuaikan dengan acara yang diadakan.

Selain itu, Fopperham juga mendampingi lansia dan penyintas untuk berobat dengan Buku Hijau LPSK (2/9). Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan layanan reparasi yang diberikan LPSK kepada penyintas dalam layanan mulai tanggal 24 Oktober 2019-23 April 2020. Dua kegiatan ini dilaksanakan sebelum pandemi Covid-19. Pundi Insani adalah wadah penggalangan dana untuk pemulihan serta pemberdayaan korban pelanggaran HAM. Saat ini, Pundi Insani didukung oleh Program Peduli, yang bertujuan mewujudkan gerakan inklusi sosial untuk mendorong masyarakat untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari.

Mengatasi Stress Selama Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 menuntut kita untuk mengurangi aktivitas fisik di luar rumah. Pandemi ini sangat mungkin untuk membuat kita tertekan dan bisa mengakibatkan stress, bahkan depresi. Oleh karena itu, penting untuk kita mengelola keadaan diri kita agar terhindar dari stress.

Berikut adalah beberapa cara untuk kita mengatasi stress selama Pandemi:

Berkomunikasi dengan Keluarga dan Teman

Berkomunikasilah dengan orang-orang terdekat kita, jika kamu jauh dari keluarga, biasakanlah menelpon untuk membantu melewati situasi krisis ini.

Jaga Pola Hidup Sehat dan Menyenangkan

Makan seperlunya jng sampai kenyang, bernafas dengan tenang, bicara dengan damai tanpa nista, dan bergerak seperlunya, lebih mendengarkan semesta.

Hindari Hal-Hal Negatif saat Tertekan

Kurangi rokok, minum alkohol, dan konsumsi obat-obatan lain untuk mengatasi stres.

Jika Sudah tidak sanggup, hubungilah tenaga kesehatan atau konselor.

Dapatkan Fakta yang Tepat

Cari informasi yang dapat membantu menentukan sikap secara akurat di tengah pandemi. Caru sumber yang dapat dipercaya, seperti media, situs lembaga kesehatan, situs WHO, atau lembaga pemerintah.

Cari Kebiasaan Lama yang Menenangkan

Gunakan cara-cara yang sebelumnya membantu membuat tenang. Gunakan kebiasaan tersebut untuk membantu mengelola emosi dalam situasi sulit ini.

Mempersiapkan Tempat Kerja Aman di Tengah Pandemi Covid-19

Menurut para ahli, pandemi Covid-19 belum akan berakhir dalam waktu dekat. Pandemi ini secara langsung berdampak pada perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk lembaga atau perusahaan untuk merespon pandemic ini dengan bijak.

Berikut adalah panduan untuk lembaga atau perusahaan Mempersiapkan Tempat Kerja Aman di Tengah Pandemi Covid-19:

Membersihkan dengan Disinfektan

Kantor harus secara teratur menyemprot disinfektan ke benda-benda yang sering disentuh, seperti bangku, meja, telepon, keyboard, dll.

Menjaga Kebersihan Bersama-sama

Menyediakan makser medis dan tisu untuk pekerja yang tetap hadir, serta tempat sampah. Penting juga untuk menyediakan cairan antiseptik berbahan dasar alkohol untuk cuci tangan.

Menjalankan sistem Work From Home

Bekerja dari jarak jauh dapat membantu operasional lembaga agar tetap berjalan dengan baik dan memastikan pekerja tetap aman.

Memberi Himbauan pada Pekerja

Mendorong pekerja untuk mematuhi larangan pemerintah, seperti berpergian, jalan-jalan, dan menghindari keramaian.

Memantau Kesehatan Pekerja

Memberikan penjelasan kepada pekerja jika menderita batuk atau demam ringan untuk beristirahat di rumah.