Pernyataan Sikap Jaringan Masyarakat Sipil untuk Indonesia Bergerak

SAATNYA INDONESIA BERGERAK BERSAMA MENGHADAPI PANDEMIK COVID-19

WHO telah menetapkan wabah virus corona sebagai pandemik global, termasuk di Indonesia sebagai salah satu negara paling terpapar, dimana angka korban terus bertambah dengan penyebaran dan penularan yang makin cepat dan meluas.

Pemerintah telah menetapkan COVID-19 sebagai bencana nasional non-alam dan membentuk suatu Gugus Tugas Percepatan Penanganan yang menetapkan kebijakan himbauan tentang pembatasan sosial, dan pelibatan berbagai upaya respon lainnya.

Pandemik ini berdampak komprehensif secara sosial, ekonomi dan hak asasi manusia secara luas terutama terhadap kelompok rentan. Mereka juga menanggung akibat langsung dari kebijakan pemerintah seperti isolasi, karantina rumah, karantina rumah sakit maupun tindakan yang paling serius, yaitu karantina wilayah. Belum lagi pelarangan dan marjinalisasi UKM beserta para pekerjanya dan konsumen mereka, para pekerja upahan serta pedagang dan pekerja di sektor informal. Karenanya kebijakan dan tindakan pemerintah untuk menghentikan penyebaran virus korona perlu diikuti dengan skema perlindungan/jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan dan marjinal yang terkena dampak.

Respon pemerintah Indonesia sejauh ini memprihatinkan dan mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia dan dunia, termasuk ketidaksiapan dalam hal penyediaan fasilitas dan layanan kesehatan, infrastruktur dan kelembagaan yang tidak mendukung kerja cepat dan tepat. Demikian juga dengan minim dan lambatnya pendeteksian, kegagalan komunikasi publik dan kurangnya transparansi. Kurangnya peran dan keterlibatan pemerintah daerah, swasta dan masyarakat adalah juga bagian dari kelemahan mendasar dari respon pemerintah. Pernyataan-pernyataan para pejabat yang simpang siur menciptakan kesan ketidakseriusan, miskin empati dan sense of crisis, yang justru kontraproduktif bagi upaya penghentian penyebaran virus.

Kini, Indonesia memasuki awal fase kritis yang berpotensi memicu ledakan kasus yang berakibat melonjaknya angka kematian. Kondisi ini menuntut kesadaran kolektif dan cara kerja baru yang lebih inklusif, cepat, dan tepat dalam menjawab persoalan.

Keberhasilan untuk menghadapi COVID-19, sekali lagi, menuntut kesadaran kolektif dan cara kerja baru. Suatu proses dimana pemerintah pusat bekerja dengan dukungan dari pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat sipil serta, manakala diperlukan, dukungan dari masyarakat internasional.

Berdasarkan pertimbangan di atas, kami, Jaringan Masyarakat Sipil untuk Indonesia Bergerak,, mendesak pemerintah untuk melibatkan segenap komponen masyarakat, berdasar semangat kesetiakawanan dan gotong royong, mengerahkan tenaga dan sumberdaya; serta melibatkan masyarakat sipil secara nyata dan terstruktur dalam pengambilan keputusan serta pelaksanaan.

Kami, Jaringan Masyarakat Sipil untuk Indonesia Bergerak, mengajukan sepuluh agenda tindakan kepada pemerintah berikut ini:

a. Mengambil praktik-praktik baik yang telah dilakukan berbagai negara dalam menghadapi COVID-19;

b. menjalankan 7 rekomendasi para dokter, seperti terlampir; dan memastikan perlindungan optimal bagi tenaga medis;

c. mengedepankan perlindungan hak dasar dan martabat manusia dalam setiap kebijakan, tindakan, dan pelayanan kesehatan untuk semua orang terutama kelompok rentan;

d. mengalokasikan anggaran ekstra yang memadai untuk perlindungan bagi kelompok rentan terutama yang bersifat perlindungan dan jaring pengaman sosial;

e. menerapkan kebijakan yang transparan demi memulihkan dan menjaga kepercayaan masyarakat dan memastikan bahwa informasi yang relevan menjangkau setiap orang tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok berkebutuhan khusus;

f. memperkuat dan memperluas kerjasama dan kerjabersama antara pemerintah, pemerintah daerah, swasta, masyarakat sipil, media, universitas, dan lainnya, serta memberdayakan sumberdaya yang dimiliki oleh semua komponen masyarakat;

g. melibatkan masyarakat dalam membangun sense of urgency dengan memberikan gambaran tentang dimensi krisis dan proyeksi kebijakan pemerintah ke depan

h. menghentikan dan melarang pernyataan para pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh yang simpang siur dan melemahkan kewaspadaan masyarakat serta tidak sejalan dengan agenda percepatan penanganan COVID-19;

i. segera menetapkan parameter dan ketika diperlukan segera mengambil keputusan dan tindakan konkrit karantina yang mempercepat penghentian penyebaran virus korona dengan mengacu pada UU Karantina ; dan

j. menggunakan penanganan COVID-19 sebagai momentum untuk memperbaiki sistem ekonomi politik untuk mengatasi ketimpangan, marjinalisasi dan perusakan alam, termasuk mempercepat proses pelaksanaan perhutanan sosial dan realisasi tanah obyek reforma agraria untuk produksi pangan, perluasan lumbung pangan rakyat dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat yang terdampak wabah korona.

Kami, Jaringan Masyarakat Sipil untuk Indonesia Bergerak, meluncurkan lima prakarsa, yang diuraikan dalam lampiran, sebagai keikutsertaan dalam penanganan COVID-19, yaitu:

a. Memutuskan rantai tular Covid-19 melalui kampanye;

b. melakukan advokasi kebijakan kearah penanganan yang cepat, tepat dan transparan

c. menjembatani celah-celah sosial ekonomi akibat pembatasan sosial/karantia wilayah

d. memobilisasi bantuan bagi kelompok rentan dan yang terpinggirkan; dan

e. membangun dan mendukung jejaring inisiatif “warga bantu warga”

Dengan ini pula kami mengajak para pelaku bisnis dan segenap kalangan masyarakat untuk bersama-sama menghentikan penyebaran COFID-19 dan mengatasi dampaknya.

Jakarta, 20 Maret 2020

Jaringan Masyarakat Sipil untuk Indonesia Bergerak

Launching dan Diskusi Buku “Menyemai Perubahan”

Buku “Menyemai Perubahan” merupakan hasil dari kerja bersama SKP-HAM dan juga Instititut Mosintuvu bersama dengan Rukun Bestari dan juga Indonesia Untuk Kemanusiaan, dalam merekontruksi dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat desa pasca terkena bencana alam tahun 2018 kemarin.

Pendampingan dilakukan terhadap pemuda dan komunitas desa untuk sama-sama membangun desa pasca bencana gempa 7,4 SR 28 September 2018 di empat desa di Sulawesi Tengah, yaitu Lemusa, Labuan Toposo, Soulouwe dan Toaya.

Salah satu yang menarik dalam proses pembuatan buku ini adalah pelibatan empat tim pemakna local yang memiliki latar belakang yang berbeda. Pemakna dalam buku itu ialah Neni Muhidin yang aktif di dunia kepenulisan, Mohamad Herianto selaku pegiat sejarah lokal, Moh. Ridwan Lapasere sebagai jurnalis dan juga Rahmadiyah Tria Gayatri sebagai seniman lintas media.

Pemakna adalah simpul yang terdiri dari orang-orang memiliki kompetensi di bidang tertentu dan kedekatan terhadap wilayah atau isu guna melakukan pemaknaan terhadap kontribusi dan dampak dari hibah yang diberikan pada komunitas atau organisasi lokal.

Pemakna adalah bagian dari Komunitas Pemberdaya, sebuah ekosistem kolaboratif yang terdiri dari individu, kelompok maupun organisasi/lembaga yang bekerja sama secara aktif dan berkelanjutan dalam penggalangan, penyaluran, pengelolaan dan pemaknaan sumber daya publik untuk mendukung kerja-kerja kemanusiaan dan pelestarian alam.

Anggota Komunitas Pemberdaya bekerja berdasarkan prinsip-prinsip kesukarelaan, integritas, solidaritas, kesetaraan, keterbukaan dan keberagaman.

Pemberian Hibah Dana oleh Abigail Sirait, Penulis “Switched Off”

Kamis lalu (3/12) Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) mendapat donasi dari Abigail Sirait, penulis “Switched Off”, novel yang secara gamblang mengangkat permasalahan kekerasan terhadap perempuan di dalam sebuah hubungan. Abigail memberikan donasi untuk perempuan korban kekerasan yang disalurkan melalui Pundi Perempuan.

Ia mendonasikan dana sebesar Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah) yang didapat dari penjualan bukunya. Donasi diberikan langsung oleh Abigail Sirait dan diterima oleh Maria Anik Tunjung selaku Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan.

Terima kasih @siraitabigail

Bincang Buku Foto Mereka yang Dipisahkan dan Para Pembuka Jalan

“Dua karya ini mengubah berbagai angka statistik menjadi cerita dan gambar yang bisa diterima dan dibaca oleh semua orang”, ujar Erik Prasetya, fotografer sekaligus pelopor streetphotography di Indonesia, dalam bincang buku “Mereka yang Dipulangkan” dan “Para Pembuka Jalan”, di Jakarta, Sabtu (03/07/2020), di Kedai Tempo. Ia juga kurator pada kedua buku ini, yang secara gamblang bercerita mengenai potret nyata kehidupan korban/penyintas pada masa kini serta perjalanan mereka mencari jalan untuk ruang-ruang pemulihan bersama komunitas korban, pendamping dan masyarakat sipil.

“Melalui kumpulan foto ini, saya berusaha membawa cerita dari para korban dan penyintas kepada dengan cara lebih personal. Membiarkan orang-orang melihat sendiri bagaimana ekspresi dan cerita personal mereka. Agar setiap orang bisa memahami bahwa mereka tidak berbeda dengan kita.” Ucap Raharja Waluya Jati, Fotografer buku Mereka yang Dipisahkan. Buku yang terbit pada 2001 ini berkisah tentang keluarga-keluarga korban penculikan.

Memberi suara bagi mereka yang dibungkam oleh negara adalah kerja yang harus terus dilakukan demi upaya memanusiakan manusia. Membawa suara-suara itu dalam bentuk gambar yang bisa menceritakan ribuan rasa para korban dan penyintas menjadi satu upaya alternatif untuk mengungkap kebenaran yang masih gelap selama puluhan tahun.

Banyak foto menarik di dalam kedua buku meski menampilkan potret yang berbeda, jika buku Mereka yang Dihilangkan menampilkan wajah suram dari para keluarga yang ditinggalkan, yang kini juga belum berubah, buku Para Pembuka Jalan lebih menampilkan optimisme dan daya juang dari para penyintas dalam upaya menempuh ruang-ruang pemenuhan hak ekonomi sosial budaya korban pelanggaran berat HAM masa lalu. Upaya yang dilandasi kerja keras untuk merawat ingatan dan mencegah keberulangan.

Diskusi buku ini sekaligus menjadi pembukaan pameran foto Para Pembuka Jalan: Harkat Korban untuk Martabat Bangsa. Jika penasaran dengan cerita dari para korban dan penyintas pelanggaran berat HAM, teman-teman bisa datang ke Kedai Tempo, Komunitas Utan Kayu, Jl. Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur. Pameran foto ini akan berlangsung hingga tanggal 2 April 2020.

Berbagi Cerita Galang Dana dengan Tim Fundraising LBH Jakarta

Kamis kemarin (3/6), kami bertemu dengan @lbh_jakarta untuk berbagi cerita mengenai dinamika tim fundraising mereka dalam melakukan penggalangan dana. Kami belajar banyak hal, seperti melakukan identifikasi orang-orang yang berada dalam lingkaran mereka, hingga bagaimana mereka memberi pemahaman kepada para staff bahwa kegiatan penggalangan dana bukan hanya tanggung jawab tim fundraising, tapi menjadi tanggung jawab seluruh pekerja LBH Jakarta. Selain itu, kami juga banyak belajar mengenai cara memulai donasi dengan menggunakan sistim perbankan, sampai merawat donatur yang membutuhkan ketelatenan dan sentuhan personal. Sentuhan personal ini menjadi penting karena pada dasarnya kegiatan fundraising adalah kegiatan membangun persahabatan yang bukan hanya berdonasi, tapi berbagi visi tentang tujuan besar yang dijalankan bersama.

Menyelami Psikologi Perempuan Korban Kekerasan Melalui Novel “Switched Off”

“Novel ini membongkar stereotip, bahwa kekerasan hanya terjadi di kelas bawah, pada masyarakat tak berpendidikan. Tokoh Asmara menyatakan fakta yang lain”, ujar Ayu Utami, penulis Saman dan Larung, dalam peluncuran dan diskusi Novel “Switched Off” di Jakarta, Kamis (20/02/2020).

Switched Off secara gamblang mengangkat permasalahan kekerasan terhadap perempuan di dalam sebuah hubungan. Novel ini mengangkat perempuan bernama Asmara yang mengalami kekerasan, mulai dari fisik, verbal, hingga finansial dari pasangannya.

Acara dibuka dengan pemaparan singkat dari Hotma Abigail Sirait, sang Penulis Novel dan dilanjutkan sambutan oleh Maria Anik Tunjung, Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), organisasi yang mengelola Pundi Perempuan. Untuk memperdalam pengetahuan dan pengalaman pengunjung mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan, peluncuran buku ini juga menghadirkan narasumber Ayu Utami (Novelis), Vitria Lazzarini Latief (Psikolog), dan Yuniyanti Chuzaifah (Mantan Ketua Komnas Perempuan), yang dimoderatori Ayu Diah Pasha

Cerita “Switched Off” menggambarkan satu dari sekian banyak kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan Catatan Tahunan (Catahu) Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumlah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus.

“Switched Off mencoba menjelaskan awal dari lingkaran setan, kekerasan terhadap perempuan dalam hubungan rumah tangga. Jika Asmara melanjutkan pernikahannya, ia akan mendapat kekerasan yang semakin parah, terutama ketika ia diminta berhenti dari pekerjaannya. Kenapa semakin parah? Karena akhirnya Asmara akan bergantung kepada Rico, dan Rico akan semakin bisa melakukan apapun yang ia mau terhadap Asmara.” Cerita Abigail bersemangat.

Melalui novel ini, kita bisa memahami kompleksitas psikologi korban kekerasan, bagaimana mereka menolak pemahaman bahwa pasangannya adalah pelaku kekerasan, bagaimana korban percaya bahwa suatu saat pelaku akan berubah, hanya butuh sedikit kesabaran, serta bagaimana korban tidak ingin orang lain tahu bahwa pasangannya adalah pelaku kekerasan.

Pemahaman ini penting agar kita bisa mengambil sikap yang tepat jika orang terdekat kita menjadi korban kekerasan. Menurut menurut Vitria Lazzarini Latief, jika kamu curiga orang dekatmu mengalami kekerasan,”Boleh kok menyampaikan kecurigaan dengan bertanya tanpa melakukan menghakimi. Pertanyaan ini minimal akan menjadi pemicu korban untuk bercerita tentang masalahnya”.

Setelah korban bercerita, penting kemudian untuk membantu korban agar bisa menghadapi masalahnya dan terlepas dari trauma yang dialami dari pasangannya. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Maria Anik Tunjung.

“Memberikan akses kepada korban kekerasan untuk pulih dari kondisi traumatik yang dialaminya selama ini adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Oleh karena itu, sebagai lembaga sumber daya, IKa selalu mendorong berbagai pihak untuk memberi dukungan bagi lembaga yang bekerja untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan, seperti Women Crisis Center.”

Bersama Komnas Perempuan yang melakukan inisiatif pendirian Pundi Perempuan, IKa menggalang, mengelola dan menyalurkan berbagai bentuk sumber daya, salah satunya adalah memberikan sumber dana kepada berbagai organisasi yang fokus memberikan pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan di berbagai wilayah di Indonesia.

Selain mengangkat masalah kekerasan dalam berpacaran, melalui novel ini Abigail juga mencoba berkontribusi terhadap berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Ia berkomitmen untuk menyisihkan hasil penjualan Switched Off ke Pundi Perempuan yang diharapkan bisa membantu perempuan korban kekerasan di Indonesia.

Dolorosa Sinaga: Pematung Pejuang, Pejuang Pematung

*Tak banyak nama pematung di Indonesia, tak banyak nama pematung perempuan Indonesia. Dari yang tak banyak itulah ada Dolorosa Sinaga. *

Tahun 2020, Dolorosa Sinaga memperingati 40 tahun perjalanannya dalam berkarya. Sebuah pameran dipersembahkan, bertajuk Kaleidoskop 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga, yang dilangsungkan di Gedung B Galeri Nasional, Jakarta. Selain pameran, dalam peringatan ini, Dolorosa juga menerbitkan buku yang memuat dokumentasi aktivisme dan karya-karyanya, berjudul: Dolorosa Sinaga, Tubuh, Bentuk, Substansi.

Dolorosa dan Para Lelakinya

Aktivis Kemanusiaan, Pendidik, Seniman, tiga identitas inilah yang melekat pada diri Dolorosa Sinaga.

Di ruang pamer, terdapat lima patung figur lelaki. Kelima lelaki tersebut adalah Dalai Lama, Soekarno, Wiji Thukul, Gus Dur dan Multatuli. Patung Gus Dur berpose layaknya patung Budha tertawa lepas yang khas. Wiji membaca puisi mengangkat tangan kiri. Soekarno duduk menyilang kaki dengan kaca mata hitamnya. Multatuli dalam bentuk membaca buku yang lebih besar dari dirinya, dan Dalai Lama yang ditampilkan santai dan bahagia. Sebagai pematung, Dolo bekerja dengan banyak material, sebagai seniman, Dolo berekspresi bebas tapi tegas. Kelima lelaki di pameran ini menunjukkan semangat yang hendak disampaikan, gagasan kemanusiaan. Dolorosa Sinaga juga merupakan salah satu nama dari penggagas Belok Kiri Festival, dengan semangat untuk melawan dan membongkar propaganda orde baru yang harus dikoreksi.

Dolorosa dan Perempuan

Kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Jalan Latuharhary, Jakarta. Masuk dari pintu utama, belok ke kiri lantas ke kanan. Sisi kiri tangga, di situlah salah satu karya Dolorosa Sinaga terpajang. Patung Solidaritas, patung yang membentuk perempuan berdiri berjajar, saling berpegangan tangan. Perempuan paling kiri, mengepalkan lengan, mengangkat tinju tanda semangat perlawanan. Salah satu perempuan membentuk bulatan pada perut, hamil. “Dolo itu sangat serius, banyak patungnya yang dinyatakan dengan bentuk perempuan,” ujar Saparinah Sadli dalam audio pernyataannya yang masuk dalam pameran. Ia menegaskan bahwa Dolo adalah seorang seniman yang memiliki keberpihakan kuat terhadap solidaritas perempuan. “Saya tidak memilih objek perempuan, tapi saya terinspirasi oleh sosok perempuan. Perempuan adalah change of life,” ujar Dolorosa dalam sebuah wawancara.

Dukungannya terhadap perjuangan perempuan tak hanya dinyatakan lewat karyanya, Dolorosa adalah salah satu orang pertama yang mendukung gagasan Pundi Perempuan, satu-satunya wadah dana publik di Indonesia yang dikhususkan untuk mendukung upaya pemulihan bagi perempuan korban kekerasan, terutama dengan mendukung kerja lembaga layanan bagi perempuan korban. Pundi Perempuan digagas oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001 yang kemudian menggandeng Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) untuk pengelolaannya. Selamat untuk 40 tahun berkarya, teruslah berkarya dan menjadi semangat manusia, kemanusiaan.

Sejiwa Memotivasi Anak Korban Banjir Bandang Jakarta

View Post

Awal tahun baru, Jakarta dirundung bencana. Setidaknya banjir menggenangi lima wilayah administrasi Jakarta. Akibat banjir, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejumlah permukiman penduduk hingga ruas jalan terendam banjir mulai dari ketinggian 30 cm hingga 2,5 meter.

Secara keseluruhan, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi (Kapusdatinkom) BNPB, Agus Wibowo menyebut setidaknya ada 63 titik banjir di DKI Jakarta. Setidaknya ada 31.232 warga mengungsi, yang mana 1.515 pengungsi tersebar di 23 posko di Jakarta Utara, salah satunya di Kapuk Muara.

Kejadian banjir ini bukan hanya berdampak bagi orang dewasa, namun juga pada anak-anak. Bahkan, dampak tersebut bisa lebih buruk. Situasi pasca banjir ini masih menyisakan anak-anak yang berada dalam kondisi semangat serta motivasi yang menurun, murung dan sedih, dan tak memiliki semangat untuk belajar.

Hal ini diperparah dengan kondisi orang tua yang tidak dapat memberikan support secara psikologis terhadap anak-anak mereka. Faktor ekonomi yang sulit membuat Orang tua harus berfokus pada bagaimana mengembalikan kondisi ekonomi untuk dapat bertahan hidup pasca banjir. “Tujuan dari kegiatan hari ini, pertama adanya perubahan perilaku ke depan dari anak-anak yang akan menjadi dewasa. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga lingkungan, dan penanganan terhadap banjir. Kalo kita mau mengubah perilaku pasti tidak cukup hanya dari sini.” Ucap Diena Hariani, dari Sejiwa, organisasi yang fokus pada isu perundungan, adiksi di ranah online, dan pornografi terhadap anak.

Melihat dampak banjir pada anak-anak yang seringkali diabaikan. Sejiwa dengan dukungan Pundi Hijau, mengadakan Bakti Sosial dan Penguatan Motivasi untuk Anak-Anak Korban Banjir Kapuk Muara, Jakarta Utara untuk mengembalikan motivasi anak-anak dan sekaligus memberi dorongan agar mereka ikut menjaga kelestarian lingkungan

Donasi ini merupakan salah satu kegiatan dari Pundi Hijau– IKa. Pundi Hijau adalah wadah penggalangan daya (dana, pengetahuan, jejaring, kerelawanan) untuk pemulihan dan pemberdayaan korban/ pejuang kedaulatan pangan dan keadilan ekologis.

Pundi Hijau: Bantuan untuk Korban Kebakaran Hutan dan Lahan Jambi 2019

September 2019, menjadi bulan yang tidak bisa dilupakan masyarakat Jambi. Bagaimana tidak? Sepanjang bulan mereka dikurung oleh asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang parah. Bahkan pada di akhir bulan langit berwarna merah pekat pada pukul 12.00 WIB.

Kebakaran terparah terjadi di Desa Puding dan Desa Mekar Sari, Kecamatan Kumpeh, Muaro Jambi. Meski sempat diguyur hujan di beberapa wilayah, api dan kabut asap tidak sepenuhnya hilang. Tim satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan masih berjuang untuk memadamkan api, terutama di Kecamatan Kumpeh.

Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS), nilai konsentrasi partikulat PM 10 menunjukkan kualitas udara tidak sehat, hingga bisa membahayakan kesehatan. Setidaknya terdapat 63.554 pasien yang ditangani oleh pusat kesehatan Jambi, dengan mayoritas terkena infeksi saluran pernapasan yang menyerang bagian atas, bahkan terdapat empat korban jiwa.

Sektor pendidikan juga terganggu hingga kegiatan belajar mengajar diliburkan karena kualitas udara sudah termasuk kategori berbahaya dan mengganggu kesehatan. Hal ini terbukti dengan adanya partikulat yang beredar di udara. Sektor perekonomian juga lumpuh karena banyak hasil kebun yang terbakar. Berdasarkan analisis Citra Satelit Lansat TM 8 dan Sentinel 2 yang dilakukan tim GIS Komunitas Konservasi Indonesia Warsi pada 2 Oktober 2019, setidaknya luas lahan yang terbakar ada sekitar 126.000 hektar hutan.

Melihat banyaknya korban dan kerugian yang ditimbulkan, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui Pundi Hijau yang bekerjasama dengan Mitra Aksi Jambi melakukan penggalangan dana. Dana yang terkumpul dari penggalangan ini sebesar Rp 9.900.000. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para donatur yang telah berkontribusi pada penggalangan dana ini dan membantu teman-teman kita di Jambi yang terus berjuang.

Hasil donasi publik ini kemudian didistribusikan dengan memberikan masker, obat-obatan bagi masyarakat Jambi, serta susu untuk anak-anak dan balita. Tim Mitra Aksi juga menyalurkan dana ke kelompok tani peduli api (KTPA) Desa Catur Rahayu dan Jatimulyo untuk kegiatan monitoring titik api dan kebakaran di hutan dan lahan. Pendistribusian bantuan ini dilakukan langsung ke lokasi-lokasi terdampak yang selama ini belum terjangkau oleh pemerintah daerah.

Novel Switched Off: Memahami Gejolak Batin Perempuan Korban Kekerasan

Di dalam taksi, Asmara berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. Nafasnya masih tersengal-sengal. Ia memegang pelipis kirinya yang terasa begitu perih, seperti juga hatinya. Masih terngiang-ngiang ungkapan dan caci maki Rico. Ia tidak percaya, kata-kata kotor dan hina bisa keluar dari mulut seseorang yang juga ia kenal begitu taat beribadah.

Asmara adalah perempuan berusia menjelang 30 tahun yang mencari seseorang untuk menjadi teman hidupnya. Sedangkan Rico, adalah lelaki religius dan terlihat simpatik dengan latar belakang yang baik. Pertemuan mereka terjadi di gereja tempat mereka beribadah dan berlanjut hingga menjadi sepasang kekasih.

Namun, hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, meski pernikahan rencana sudah disiapkan. Emosi Rico ternyata tidak stabil, ia bisa menjadi pria yang sangat baik, tapi ia juga bisa meledak dan melakukan kekerasan terhadap Asmara ketika ada sesuatu yang di luar keinginannya.

Cerita di atas adalah cuplikan dari novel Switched Off, karya Abigail Sirait yang akan dirilis bulan Februari nanti. Switched Off adalah novel pertama Abigail yang secara gamblang mengangkat permasalahan abusive relationship. Asmara, sebagai tokoh utama, digambarkan sebagai korban kekerasan, baik kekerasan verbal, kekerasan fisik, hingga kekerasan finansial jika hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan.

Menurut Michael J. Formica, abusive relationship adalah hubungan yang didorong oleh perasaan tidak aman, ketakutan, dan inkonsistensi. Pelaku kekerasan berusaha mendominasi dan menciptakan kontrol atas pasangannya. Hal ini terjadi karena pelaku takut terlihat lemah sehingga ia selalu berusaha mempertahankan kontrol terhadap korban.

Permasalahan terjadi ketika kekerasan terus terjadi, perasaan tidak aman yang dimiliki korban akhirnya akan membentuk ulang nilai sosial yang dimilikinya. Korban takut merasa tidak dicintai, dan pada akhirnya memilih untuk bertahan dengan pasangan yang abusive ini dan ia beradaptasi terhadap kekerasan tersebut.

Cerita mengenai Asmara dan Rico adalah satu dari sekian banyak kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan Catatan Tahunan (Catahu) Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019 , dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumlah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus.

Abigail sangat memahami bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena yang masih akan terus terjadi di Indonesia. Ironisnya, permasalahan kekerasan terhadap perempuan ini tidak pandang bulu, setiap perempuan bisa menjadi korban kekerasan, tidak peduli latar belakang ekonomi, suku, pendidikan, agama, dan hal lainnya.

“Hal yang paling sulit untuk diatasi adalah ketika perempuan menjadi korban kekerasan finansial. Ketika perempuan dicerabut dari akses untuk mendapatkan pendapatan, dan dibuat bergantung dari pendapatan pasangannya.” Cerita Abigail saat mengunjungi kantor Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

“Switched Off mencoba menjelaskan awal dari lingkaran setan kekerasan terhadap perempuan dalam hubungan rumah tangga. Jika Asmara melanjutkan pernikahannya, ia akan mendapat kekerasan yang semakin parah, terutama ketika ia diminta berhenti dari pekerjaannya. Kenapa semakin parah? Karena akhirnya Asmara akan bergantung kepada Rico, dan Rico akan semakin bisa melakukan apapun yang ia mau terhadap Asmara.” Lanjut Abigail bersemangat.

Memberikan akses terhadap ekonomi kepada korban kekerasan dalam rumah tangga adalah salah satu hal yang penting agar perempuan bisa kembali mandiri dan tidak bergantung pada pasangannya. Agar mereka bisa memulihkan akses terhadap ekonomi yang telah dirampas oleh pasangannya.

Melalui Pundi Perempuan yang dikelola oleh IKa dan Komnas Perempuan, Abigail mencoba berkontribusi terhadap berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Untuk itu ia akan mendonasikan hasil penjualan Novel Switched Off yang akan dirilis Februari nanti. Semoga upaya dukungan ini terus bergulir dari masyarakat umum.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!