Menelisik Kehidupan Lansia Penyintas 65 di Sikka

Artikel terbitan PBH Nusra (NTT). Penulis: Yulius Regang

Menjadi tua bukan pilihan, tetapi siklus kehidupan yang dialami oleh setiap manusia secara alamiah. tidak seorangpun di dunia ini yang dapat mengelak dari usia tua. Setiap orang boleh merekayasa agar kelihatan awet muda, tetapi perubahan fisik dan usia, tidak dapat ditipu dengan cara apapun. Usia tua adalah kepastian, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mempersiapkan masa tua sedini mungkin.

Faktanya manusia cenderung mengabaikan satu fase dalam siklus kehidupan yaitu masa tua. Orang cenderung menata masa muda berlebihan dan lupa mempersiapkan diri menyongsong masa tua. Hal ini sungguh nyata dalam kehidupan masyarakat lokal pada umumnya. Mereka menghabiskan waktunya dengan pekerjaan-pekerjaan rutin hingga lupa mengurus dan mempersiapkan masa depan dengan baik. Dampaknya banyak lansia yang tidak dapat menikmati sisa hidupnya secara layak dan jauh dari kata sejahtera. Situasi dan kondisi yang tidak menunjang turut memperparah keadaan sehingga banyak lansia yang mengalami kekerasan dan diterlantarkan oleh keluarganya.

Kondisi ini secara otomatis menempatkan lansia pada posisi yang tidak berguna karena secara fisik sudah tidak perkasa lagi, daya tahan tubuh mulai melemah, fungsi mata mulai kabur, pendengaran tidak lagi berfungsi secara normal, daya ingat mulai melemah, dan berbagai jenis penyakit datang silih berganti. Keadaan ini dialami para lansia penyintas 65.

Lansia dampingan PBH-Nusra adalah kelompok penyintas pelanggaran berat HAM masa lalu yang menyebar di tiga desa dampingan yaitu Ian Tena, Tua Bao dan Natarmage. Jumlah lansia yang didampingi sebanyak 109 orang. Jumlah ini terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu karena banyak lansia yang sudah tidak berdaya karena faktor usia dan penyakit yang diderita.

Selama bertahun-tahun para penyintas hidup dalam ketakutan dan enggan membuka diri dengan pihak luar. Mereka termasuk orang-orang yang mengalami stigma dan diskriminasi berlapis, diabaikan, dan tidak mendapat ruang yang baik di masyarakat. Mereka sulit mengekspresikan diri karena stigma dan diskriminasi. PBH Nusra berupaya mengembalikan harkat dan martabat mereka dengan membuka ruang-ruang inklusi dan memperjuangkan hak-hak lansia untuk mendapatkan pelayanan dan bantuan sosial dari negara.

PBH-Nusra juga melibatkan orang muda sebagai relawan yang siap membantu lansia untuk mengakses layanan dasar terutama di bidang kesehatan seperti posyandu lansia, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan melakukan kunjungan rumah.

PBH-Nusra juga berusaha membangun ruang-ruang perjumpaan yang melibatkan multi pihak baik pemerintah, masyarakat, lansia, orang muda, organisasi yang peduli terhadap lansia dan individu-individu yang menaruh perhatian pada lansia. Aksi-aksi kecil dilakukan untuk memberikan perhatian pada lansia dan membangkitkan rasa kepedulian masyarakat terutama golongan pemuda terhadap lansia. Persoalan lansia tidak semata-mata tanggung jawab negara atau pemerintah melainkan tanggung jawab bersama.

Semua elemen masyarakat perlu memberikan perhatian dan dukungan kepada lansia dalam mengakses layanan dasar dan bantuan sosial. Sementara pemerintah wajib memastikan bahwa anggaran dan program kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kerja sama yang apik antara masyarakat dan pemerintah akan membuahkan hasil yang baik bagi kesejahteraan lansia. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan layanan sosial bagi lansia, PBH-Nusra bekerja sama dengan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) yang didukung oleh Voice Global melalui program “Better Together” sesuai dengan mandat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Sayembara Logo Pundi Perempuan

Hallo Sahabat IKa,

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan sedang dalam misi untuk menceritakan nilai, semangat, dan kerja Pundi Perempuan melalui logo baru yang atraktif. Karenanya, IKa mengajak para Sahabat untuk berpartisipasi dalam ajang “Sayembara Logo Pundi Perempuan”!

Kamu bisa melihat ketentuan sayembara pada poster di atas atau kunjungi untuk informasi lebih lanjut. Peserta dengan desain logo terpilih berkesempatan mendapatkan hadiah sebesar Rp1.000.000!

Batas waktu pengumpulan desain logo hanya sampai Rabu, 17 Agustus 2022 pukul 23:59 WIB. Jangan lupa untuk isi form konfirmasi melalui http://tiny.cc/KonfirmasiSayembara setelah mengirimkan desain logo.

Kami tunggu desain logo terbaikmu ya!

#IndonesiauntukKemanusiaan #BerbagiuntukBerdaya #PundiPerempuan #lombadesain #sayembaralogo #lombalogo

Workshop Forum Solidaritas Anak Muda untuk Kemanusiaan (FORA)

Indonesia untuk Kemanusian (IKa) mengadakan Workshop Forum Solidaritas Anak Muda untuk Kemanusiaan (FORA) yang diadakan selama 3 hari dimulai dari Senin, Rabu, dan Jumat pada tanggal 18, 20, dan 22 Juli 2022 yang diikuti oleh 10 anak muda di wilayah JABODETABEK dengan tema “Membangun Kepemimpinan Anak Muda dalam Komunitasnya yang Adil dan Inklusif” kegiatan ini didukung oleh Asian Community Trust Jepang.

Pada hari pertama workshop ini membahas tentang HAM dan Demokrasi yang dibawakan oleh Abdul Waidl oleh @infid_id , serta Gender dan Inklusi Sosial yang dibawakan oleh Fentia Budiman dari @suluh_perempuan. Masing-masing dari anak muda berefleksi terkait situasi HAM dan Demokrasi di Indonesia dan memahami GEDSI dalam beragam isu seperti keragaman gender, pendidikan, disabilitas, dan politik perempuan.

Hari ke 2 membahas tentang Analisa Sosial yang dibawakan oleh Siti Rubaidah dari Suluh Perempuan, Pengelolaan, Pembuatan Konten, dan Kampanye Digital yang dibawakan oleh Osi Naya Fia dari Indonesia untuk Kemanusiaan, serta Strategi Penulisan Copywriting oleh Meiska Irena dari Indonesia untuk Kemanusiaan. Para peserta ini belajar tentang bagaimana menganalisa kondisi sosial di lingkungannya dan solusi apa yang bisa dilakukan, serta melihat potensi diri dan jaringan untuk melakukan kampanye, dan berlatih ketrampilan dalam menulis microblogging.

Jumat tanggal 22 Juli merupakan hari dimana berakhirnya workshop FORA. Di hari ke tiga ini membahas beberapa hal dari mulai materi hingga kepengurusan anak muda

Pembahasan materi mencakup tentang SDGs yang dibawakan oleh Angelika Fortuna dari @infid_id , serta Penggalangan Dana yang dibawakan oleh Soraya Oktaviani dari Indonesia untuk Kemanusiaan. Suasana semakin menyatu dan hangat, para anak muda relawan semakin kompak dan kritis saat bekerja sama dalam tim. Mereka belajar bagaimana membuat mindmapping dalam melihat suatu isu dan juga mempertimbangkan sumber daya dalam implementasi. Juga belajar bagaimana menggalang dana dan membangun jaringan.

Workshop hari ketiga ditutup dengan pembentukan kepengurusan FORA, serta serah terima sertifikat sebagai bentuk simbolik atas pengurus FORA pertama.

Selamat untuk 3 kandidat terpilih alva maldini sebagai ketua, Tara sebagai sekertaris dan Nadiyah sebagai bendahara. Sukses untuk kerja-kerja sebagai relawan anak muda Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), kami percaya anak muda akan membawa perubahan dalam hal kemanusiaan.


Upacara Adat Sebagai Media Untuk Berdamai Dengan Masa Lalu

Sikka merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lima puluh tahun silam, Sikka tidak luput dari tragedi kemanusiaan yang terjadi pada tahun 1965/1966.  Terjadi pembantaian sesama umat Katolik yang berlangsung selama empat hingga lima bulan. Tentu kejadian itu masih sangat lekat di ingatan masyarakat Kabupaten Sikka, salah satunya komunitas adat Tana Ai (orang dari tanah hutan). Banyak dari mereka yang masih memiliki rasa marah dan terluka, serta sulit untuk menjalani hidup bermasyarakat. Terlebih lagi, mereka yang menjadi korban pembunuhan, ditangkap tanpa proses pengadilan dan harus melakukan kerja secara paksa.

Stefanus Porang merupakan anak salah satu korban tragedi tersebut. Ada perasaan sedih, marah, dan terluka karena ayahnya dibunuh. Begitu pula dengan Ignatius Soge, mempunyai rasa takut, bersalah, dan berdosa, lantaran ayahnya telah membunuh. Ingatan masa lalu masih melekat di dalam hati masing-masing. Padahal mereka hidup berdampingan dan sebagian besar mempunyai hubungan tali persaudaraan. Tentu saja, hal ini mengakibatkan beban sosial yang tak ringan. Mereka tidak mempunyai ruang untuk bersuara dan menyembuhkan luka selama lebih dari 50 tahun.

Berpuluh-puluh tahun mereka menanggung trauma dan distigma sebagai “orang sisa”. Hingga tahun 2017, lewat sebuah upacara adat, mereka berdamai dan membangun rekonsiliasi. Adalah ritual adat Gren, tradisi tua Tana Ai yang tak pernah dilakukan setelah peristiwa 1965, merupakan proses pengakuan kesilapan dan penyucian diri. Ritual adat ini dilakukan oleh salah seorang anak di mana orang tuanya pernah menjadi pelaku dalam peristiwa 1965/1966. Pelaksanaan ritual adat ini menunjukan bahwa masyarakat telah menerima, mengampuni, dan memaafkan tradegi kemanusiaan 1965/1966 yang dilakukan oleh orang tua mereka dan bertindak sebagai pelaku. Insiden ini hanya terjadi di ruang adat dan budaya.

Melalui ritual ini juga, Rafel Rapa mengaku kembali bersatu, mengakui kesalahan, dan saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya. Ignatius Nasi, saudara kandung dari Ignatius Soge, mengaku sejak peristiwa 1965/1966 merasa hidupnya tidak nyaman. “Ekonomi sulit, ternak banyak mati, saya sakit-sakitan. Saya sudah berusaha mencari penyebabnya tetapi belum dapat,” ungkapnya. Setelah mengikuti upacara adat tersebut, ia mengaku merasa lebih lega. “Acara ini buat saya sangat penting. Saya bisa mengaku dosa atas perbuatan di masa lalu. Rasa bersalah di pihak pelaku terhadap siapapun sudah aman sekarang,” imbuhnya. Ritual ini mendapat banyak dukungan dan dihadiri oleh ratusan komunitas yang ada di wilayah Tana Ai. Selain itu, tokoh masyarakat dan beberapa pejabat pemerintah Kabupaten Sikka turut hadir dan memperbaiki kembali hubungan antara keluarga korban dan pelaku yang sebelumnya renggang.


Artikel ini disadur dari buku “Para Pembuka Jalan” terbit tahun 2019

Penulis buku: Lilik HS

Kolaborasi Pentahelix Untuk Mengeliminasi Diskriminasi Terhadap Perempuan

Genap sudah 38 tahun ratifikasi Convention on the Elimination of Discrimination Against Women (CEDAW) atau Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Pada hari Senin, 25 Juli 2022, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) mengadakan webinar bertajuk “Tutur Perempuan: Kolaborasi Pentahelix dalam Mendukung Ratifikasi CEDAW”. Webinar ini merupakan bagian dari kegiatan kampanye dan penggalangan dana Pundi Perempuan untuk memperingati 38 tahun ratifikasi CEDAW di Indonesia.

Dalam webinar menghadirkan Mariana Amiruddin (Wakil Ketua Eksternal Komnas Perempuan), Syanaz Nadya Winanto Putri (Pendiri Rorokenes), Luviana Ariyanti (Pemimpin Redaksi Konde.co), Abby Gina (Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan), dan Soraya Oktaviani (Manager Pengembangan Sumber Daya dan Program IKa).

Webinar ini membahas bagaimana upaya bersama dalam mendukung ratifikasi CEDAW itu penting apalagi hadir dari upaya lintas sektor yang bisa disebut Pentahelix. Dalam mendukung ratifikasi CEDAW di Indonesia sudah dilakukan upaya salah satunya mengesahkan UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan mendukung pada fokus bidang masing-masing yang bisa disebut kolaborasi pentahelix Academy, Business, Community, Government, and Media (ABCGM).

Kolaborasi Pentahelix ABCGM ini membahas peran masyarakat (community) untuk ikut menjadi akselerator kebijakan; untuk dari segi pendidikan (academy) kita bisa memberdayakan perempuan dengan pemenuhan edukasi bagi perempuan dan membuat regulasi serta memberikan inovasi mengenai kebijakan untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan; dari segi bisnis (business) bisa membantu pemberdayaan perempuan korban/penyintas kekerasan seksual dan bisa membantu dengan penyaluran dana bagi pemulihan dan penanganan korban; untuk pemerintah (government) bisa berperan aktif dalam pembuatan regulasi yang mendukung penghapusan kekerasan seksual; serta media bisa membantu melipat gandakan pemberitaan bagaimana urgensi penghapusan kekerasan seksual yang ada di Indonesia. Dengan kolaborasi pentahelix ABCGM yang membawa esensi CEDAW, kita bisa bersama menghapuskan segala diskriminasi terhadap perempuan.

          Dibuka Soraya Oktaviani (Manager Pengembangan Sumber Daya dan Program IKa) menyampaikan betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ratifikasi CEDAW di Indonesia dalam menginjak tahun ke 38 tahun dan upaya yang telah dilakukan oleh multi-pihak dalam mendukung ratifikasi CEDAW harus terus ditingkatkan serta diperbarui terus menerus.

          Pembahasan dibuka dengan helix pemerintah yang diwakili Wakil Ketua Eksternal Komnas Perempuan Mariana Amiruddin untuk memberikan gambaran situasi dan tantangan dalam masyarakat yang masih mengakar pada budaya patriarki yang berkontribusi pada kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Helix kedua ialah bisnis, yang diisi oleh Syanaz Nadya, seorang pendiri Rorokenes. Rorokenes merupakan brand tas anyaman kulit dan tas anyaman lurik dari Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Pembahasan dalam helix bisnis meliputi kerja Rorokenes yang menerapkan anti diskriminasi terhadap perempuan dan upaya Rorokenes untuk mempromosikan ruang kerja yang ramah perempuan.

          Pembahasan dilanjutkan dengan helix Media bersama Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti, yang memaparkan peran dan strategi media dalam menciptakan lingkungan dan pemberitaan media yang tidak bias gender. Pasalnya, tak dapat dipungkiri bahwa pemberitaan media massa berpengaruh pada diskursus publik. Peran media pun dibutuhkan untuk melawan status quo, baik tentang perlakuan pelaku media terhadap perempuan di dalam industrinya sendiri, maupun bagaimana media mengemas berita isu perempuan.

          Sesi disambung dengan pembahasan dari helix akademisi oleh Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan Abby Gina tentang pentingnya pemberdayaan perempuan secara intelektual dan kerja mengentaskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan di dunia akademis. Helix terakhir adalah komunitas yang dibawakan oleh Manager Pengembangan Sumber Daya dan Program IKa tentang kerja Pundi Perempuan untuk mendukung lembaga pengada layanan memberikan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan.

          Salah satu hal yang penting untuk digarisbawahi dari pemaparan para panelis adalah kurangnya lensa interseksionalitas dalam melawan diskriminasi terhadap perempuan. Kolaborasi pentahelix ABCGM bisa menjadi pilihan untuk memperkuat dan mengarusutamakan pendekatan multisektor untuk masyarakat yang lebih adil dan aman bagi perempuan.



Pengumuman!

Hai Sahabat IKa,

Saat ini Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) sedang bekerja sama dalam mengembangkan program anak muda dengan Asian Community Trust (ACT) yang berkedudukan di Jepang. IKa tidak pernah melakukan kerja sama dengan ACT (Aksi Cepat Tanggap) di Indonesia dalam program apapun.

Info lengkap laporan tahunan IKa silakan kunjungi website kami di link berikut: https://s.id/LaporanTahunanIKa


Call for Proposal Hibah Pundi Perempuan Termin II, Tahun 2022

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) mendukung gerakan masyarakat sipil melalui dana hibah/mikro dengan memperluas komunitas terpinggirkan yang dilayani melalui penggalangan sumber daya. Dengan pendekatan Catur daya, yaitu dana, pengetahuan, jaringan dan kerelawanan, saat ini IKa memiliki empat Pundi sebagai wadah penggalangan sumber daya yang salah satunya adalah Pundi Perempuan.

Pundi Perempuan adalah dana hibah pertama dengan tujuan mendukung pengelolaan Women’s Crisis Center (WCC) bagi kerja-kerja pendampingan hukum dan pemulihan psikososial untuk perempuan korban kekerasan di Indonesia yang berasal dari penggalangan sumber daya publik. Pundi Perempuan ini diinisiasi oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada tahun 2001 dan sejak tahun 2003 dikelola oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

Komunitas/organisasi yang terpilih akan memperoleh Hibah sebesar Rp 20.000.000, – (dua puluh juta rupiah) yang dapat digunakan untuk mendanai pendampingan dan pelayanan kepada perempuan korban kekerasan.

Kriteria Penerima Dana Hibah Pundi Perempuan: 

  1. Komunitas/organisasi masyarakat sipil.
  2. Memberi layanan bagi perempuan korban kekerasan (Minimal 5 kasus perbulannya).
  3. Tidak sedang menerima dana bantuan operasional baik dari pemerintah maupun lembaga donor lainnya.
  4. Memiliki sistem kerja yang menjamin adanya akuntabilitas.
  5. Menyertakan dua nama referensi beserta kontak yang dapat dihubungi dalam proposal.

Mekanisme Pelaksanaan Penyaluran Hibah Pundi Perempuan:

  1. Lembaga pengada layanan yang mendapatkan Hibah Pundi Perempuan akan diumumkan melalui email dan media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).
  2. Lembaga pengada-layanan yang telah memasukan proposal untuk mengakses hibah Pundi Perempuan akan diputuskan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan.
  3. Batas pengajuan proposal hibah Pundi Perempuan pada tanggal 15 Juli tahun 2022
  4. Lembaga pengada-layanan (WCC) diharapkan mengajukan proposal narasi dan anggaran untuk kegiatan selama 6 bulan periode Agustus 2022 – Januari 2023 sesuai dengan format proposal Pundi Perempuan 
  5. Penerima hibah bersedia mengirimkan cerita-cerita lapangan, laporan kemajuan narasi dan keuangan, beserta informasi pendukungnya.

Proposal yang masuk akan diseleksi oleh panitia pengarah dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan. Sedangkan pengumuman penerima Hibah akan dilakukan pada 29 Juli 2022.

*Format proposal dan anggaran biaya dapat anda unduh pada link berikut:

Rekrutmen Volunteer Anak Muda IKa

Tertarik untuk berkontribusi dalam komunitas, namun kesulitan menemukan ruang kontribusinya? Saat ini, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) kembali membuka kesempatan untuk kawan-kawan muda untuk bekerja mendampingi komunitas dalam membangun inisiatif sosial yang bermanfaat. Simak persyaratan, manfaat serta detail rekrutmennya dalam poster di atas.

Jangan lupa daftarkan dirimu melalui :

Kami tunggu partisipasimu paling lambat 22 Juni 2022!

Jika ada pertanyaan terkait dengan informasi rekrutmen, silahkan hubungi +6281386735816 (Indonesia untuk Kemanusiaan)

Salam Solidaritas,

Temu Mitra

Temu Mitra atau Temu kangen? Perjumpaan dengan kawan Sekber ’65 dan PBH Nusra yang dihadiri oleh 3 orang dari masing-masing daerah bukanlah moment pertama kali bertemu di tahun 2022. Tetapi sudah lama jejak pertemanan sekaligus kerja sama ini terjalin. Pandemi yang berkepanjangan membuat semua kegiatan lapangan mogok secara mendadak. Jika tidak mogok waspada sangat perlu ditingkatkan.

Seperti baru-baru ini Indonesia untuk Kemanusiaan bersama Sekber ’65 dan PBH Nusra melakukan Temu Mitra di Jakarta Pusat secara langsung (Tatap muka). Acara ini berlangsung selama 3 hari pada 18 – 20 Mei 2022.

Hari pertama di tanggal 18 Mei kami berkumpul di ruang meeting untuk merefleksikan kegiatan apa saja yang sudah kita kerjakan selama 6 bulan terakhir tentang lansia dan anak muda, bagaimana mendorong perubahan sosial dari anak muda kepada lansia khususnya lansia korban pelanggaran berat HAM masa lalu. Perubahan ini tidak akan terjadi apabila dilakukan secara individu atau hanya kelompok tertentu, jadi perubahan harus dilakukan secara nyata dan bersama, karena bersama lebih baik. Mencapai hal tersebut, sebagai penerus dibutuhkan pelopor baru seperti anak muda yang serta merta peduli kepada lansia salah satu contohnya yaitu pendamping dari anak muda kepada lansia,  dan jiwa kerelawanan. Karena bukan suatu hal yang mudah mencari dan menjadi bagian dari pendampingan.

Masih di hari pertama, para peserta temu mitra mendapatkan webinar gender equality, Sisca Noya (voice) sebagai narasumber yang memaparkan  tema tentang bagaimana kesetaraan gender pada tahap ranah public. Karena persamaan gender adalah tujuan dan kesetaraaan adalah sarana pencapaian.

Hari berikutnya di tanggal 19 Mei 2022. IKa mempresentasikan dan berdiskusi tentang hasil dari kegiatan yang sudah dilakukan selama lebih dari 6 bulan ini. Mulai dari proses, capaian serta tantangan yang dielaborasikan ke dalam SWOT. Presentasi ini mencakup dari kegiatan monitoring evaluasi, kampanye publik, keuangan, serta program. Diskusi berjalan dengan ramai karena masing-masing dari mitra turut serta ambil bagian dari apa yang dipaparkan oleh kegiatan ini.

Di hari ketiga yang merupakan hari terakhir, kami merefleksikan dari pertemuan sebelumnya dan membuat rencana kerja tidak lanjut capaian serta strategi apa yang akan dilakukan untuk memenuhi target dari kerja-kerja IKa serta para mitra.

Pertemuan dalam jangka waktu 3 hari ini terasa singkat, karena padatnya jadwal dari setiap agendanya. Di hari penutupan ini, IKa bersama kawan-kawan mitra mengagendakan untuk tim building dengan bermain permainan bowling, permainan yang jarang orang melakukannya dan tidak semua di daerah ada permainan tersebut. Wajah yang tadinya Lelah berubah menjadi segar karena keberangkatan disambut oleh guyuran hujan deras, dan permainan ini memacu perlombaan dari masing-masing tim.

Terima kasih voice karena temu mitra ini merupakan perjumpaan belajar dan sekaligus temu kangen dari setiap masing-masing kelompok.
#BetterTogether

PEMENTASAN KETOPRAK “PRABU SURO CANDOLO”

Ketoprak “Prabu Suro Candolo” menceritakan seorang raja yang memerintah secara otoriter hingga banyak pelanggaran HAM berat yang terjadi di bawah kekuasaannya. Gaya memimpin bak diktator ini dibalas dengan protes dan pemberontakan oleh rakyatnya. Kisah Prabu Suro Candolo ini adalah sebuah karya seni dan kampanye pengingat agar kita tak amnesia akan noktah kelam dalam sejarah tanah air.

Yuk, segera registrasikan dirimu! Dengan donasi minimal Rp 50.000, kamu dapat menyaksikan perpaduan apik antara teater modern dan teater tradisional. Silakan kirim donasimu melalui rekening:

Pundi Insani
Bank BCA an. YSIK
No. Rek : 342.3088.997

Hasil donasi akan disalurkan kepada korban pelanggaran HAM dan untuk pelaksanaan kerja-kerja kemanusiaan.

Jangan lupa isi formulir registrasi melalui untuk mendapatkan link pertunjukan. Untuk pertanyaan dan informasi lebih lanjut silakan hubungi 0813-8673-5816 (Admin IKa).
#BetterTogether