Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan mengajak kamu untuk mendonasikan barang-barang preloved kamu untuk Give Back Sale (GBS) yang akan dilaksanakan secara Offline. Hasil penjualan GBS ini akan disalurkan kepada lembaga pengada layanan atau Women’s Crisis Center (WCC) yang memberikan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan.
Untuk jenis barang dan kriteria barang preloved dapat dicek pada poster di atas.
Kamu bisa antar atau kirimkan barang preloved kamu ke alamat: Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) Ke:kini Coworking Space Jl. Cikini Raya No. 43/45, Menteng, Jakarta Pusat Kontak: 0813-8673-5816
Batas pengumpulan barang preloved sampai dengan 15 November 2022. Jangan sampai terlewat, ya!
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bersama Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dengan dukungan UNFPA mengadakan Temu Lansia pada beberapa waktu lalu. Kegiatan Temu Lansia berlangsung secara hybrid di lima wilayah yaitu Jakarta, Yogyakarta, Aceh, Palu, dan Sikka. Wajah suka cita tergambar dari raut para lansia yang saling melepas rindu setelah lama tidak dapat bertemu karena pandemi Covid-19.
Temu Lansia dimulai dengan sambutan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Komnas Perempuan, dan UNFPA. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan sharing yang dimoderatori Soraya Oktaviani selaku Koordinator Program IKa, bersama dengan Cak Fu (Bahrul Fuad) mewakili Komisioner Komnas Perempuan, dan Cahyo mewakili UNFPA.
Temu Lansia bertujuan untuk saling memastikan keadaan dan kondisi para lansia, evaluasi bantuan alat Kesehatan yang diberikan kepada para lansia, dan melihat sejauh mana kebutuhan lansia yang perlu diupayakan bersama. Selain itu, para pendamping lansia juga berbagi peluang dan tantangan advokasi kebijakan khususnya perihal hak reparasi korban pelanggaran HAM.
Cak Fu menyampaikan urgensi perlindungan lansia dan khususnya lansia korban pelanggaran HAM. Untuk itu, Komnas Perempuan dan IKa memastikan dan mengupayakan agar para sepuh (lansia) seyogyanya dimanusiakan sebagaimana kewajiban kita memanusiakan (memuliakan) orang tua kita. Pengadaan alat kesehatan dari Jepang oleh UNFPA menjadi salah satu upaya yang dilakukan. Cak Fu berharap agar ke depannya kesejahteraan lansia tidak hanya bergantung pada pendanaan negara lain tetapi juga dari pemerintah Indonesia.
Cahyo (UNFPA) menyampaikan komitmen global dalam menyejahterakan lansia dan sejalan dengan fokus isu Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pemenuhan hak-hak dasar. Sejak 1998, Pemerintah Indonesia juga sudah berkomitmen perihal kesejahteraan lansia dalam UU No. 13 tahun 1998. Atas dasar hal itu, UNFPA bersama dengan Komnas Perempuan akan terus berkomitmen dalam menyejahterakan lansia. Bantuan alat kesehatan merupakan salah satu komitmen dalam upaya pemenuhan hak dasar lansia. UNFPA memohon maaf atas proses pendistribusian yang cukup lama. UNFPA berharap ke depannya akan semakin baik lagi dalam mengupayakan pemenuhan hak bagi lansia.
Para lansia bersyukur atas bantuan alat kesehatan yang didapatkan. Mereka berharap proses penyalurannya lebih cepat dan tepat atau tidak berjarak terlalu jauh paska pendataan. Salah satu peserta tamu lansia dari Aceh menyampaikan harapannya agar terbukanya peluang untuk mendapatkan bantuan lainnya. Pada sisi lain, ada beberapa data baru dan mereka belum mendapatkan bantuan alat kesehatan.
Update dan memberi kabar saling disampaikan melalui zoom yang menghubungkan ke lima wilayah yang tergabung. Para lansia juga menyampaikan pandangan dan harapannya. Usia senja tidak menyulutkan api semangat dan harapannya agar hak reparasi didapatkan. Perjuangan tidak pernah usai dan menjadi tua bukanlah sebab menjadi lemah. Semangat itu kiranya yang disampaikan dari raut wajah para lansia yang hadir.
Meskipun terdapat perbedaan waktu di antara beberapa wilayah, pelaksanaan kegiatan Temu Lansia tetap berlangsung efektif dan syahdu. Sumiyati, mantan Sekretaris Gerwani, menyanyikan lagu tentang lansia. Lagu tersebut syarat akan makna meski secara kondisi fisik dan kesehatan terbatasi namun tidak membuat semangat juang para lansia melemah. Hal ini terbukti di mana beberapa lansia harus menempuh perjalanan dari Klaten, Banyumas, dan Purwokerto untuk saling melepas rindu di Jakarta. Menambah semarak kehangatan, paduan suara Dialita menyanyikan lagu Manusia Kuat. Lansia bukanlah manusia lemah. Temu Lansia ini telah memberi pembelajaran berharga bahwa dengan bersama kita berdaya.
Forum Orang Muda untuk Kemanusiaan (FORA) merupakan organisasi orang muda baru yang dibentuk sebagai komunitas pendukung organisasi Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). FORA hadir untuk menyuarakan isu-isu kemanusiaan dengan semangat orang muda pastinya.
Sebagai organisasi baru yang belum banyak dikenal oleh khalayak luar, FORA akan mengadakan grand launching nih. Acara ini akan mengundang pembicara yang expert dibidangnya, seperti dari Komnas Perempuan, Pamflet Generasi, dan masih ada lagi!
Penasaran kan? Yuk, hadir di acara Grand Launching FORA hari Sabtu, 22 Oktober jam 13.00 WIB di link https://s.id/LaunchingFORA
Forum Orang Muda untuk Kemanusiaan (FORA) yang diinisiasi oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), baru-baru ini melaksanakan refleksi bersama untuk mempersiapkan kerja-kerja kerelawanan selama 1 tahun kedepan.
Refleksi ini sebagai ajang untuk lebih mengakrabkan dan memperkuat hubungan antaranggota.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan mengajak kamu untuk mendonasikan barang-barang preloved kamu untuk Give Back Sale (GBS) yang akan dilaksanakan secara Offline. Hasil penjualan GBS ini akan disalurkan kepada lembaga pengada layanan atau Women’s Crisis Center (WCC) yang memberikan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan.
Untuk jenis barang dan kriteria barang preloved dapat dicek pada poster di atas.
Kamu bisa antar atau kirimkan barang preloved kamu ke alamat: Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) Ke:kini Coworking Space Jl. Cikini Raya No. 43/45, Menteng, Jakarta Pusat Kontak: 0813-8673-5816
Batas pengumpulan barang preloved sampai dengan 10 November 2022. Jangan sampai terlewat, ya!
Kesejahteraan lansia merupakan isu penting namun kerap kali terabaikan publik. Salah satu faktor yang menyebabkan isu lansia kurang mendapat perhatian karena dianggap persoalan privat. Padahal persoalan kesejahteraan lansia tidak hanya berada di ranah privat melainkan berkaitan dengan permasalahan sistemik dan seyogyanya mendapatkan perhatian publik.
Persoalan yang dihadapi lansia di antaranya kesehatan (penurunan daya tahan tubuh, penyakit, kemampuan bertahan hidup, dsb), ekonomi, sosial, dan psikologis (dukungan keluarga dan masyarakat). Tentu persoalan ini bukan persoalan mudah. Namun, kebanyakan orang memahami persoalan lansia sekadar perubahan siklus kehidupan dari usia muda ke usia tua.
Potret kehidupan lansia penuh persoalan terlihat jelas di desa-desa. Kehidupan lansia di desa sangat memprihatinkan. Beberapa lansia hanya dihadapkan pada penantian ajal. Mereka hidup dengan penuh keterbatasan dan keterbelakangan. Keterbatasan fisik, kondisi kesehatan yang tidak menunjang, keadaan ekonomi yang tidak memadai, dan kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat.
Rasa sepi dan terasing tampaknya hadir menyelimuti mereka. Mereka tinggal jauh dari keluarga dengan kondisi rumah yang sudah reyot. Mereka kesulitan dalam menyambung hidup di tengah tenaga yang tersisa. Namun, mereka tetap memaksakan seluruh tenaganya untuk berkebun dan menjualnya agar dapat menyambung hidup. Mereka bekerja sekadar untuk pemenuhan kebutuhan hidup di tengah situasi yang serba terbatas.
Persoalan lain adalah kesulitan mengakses air bersih karena sumber air bersih jauh dari pemukiman atau rumah tempat mereka tinggal. Masih ada lansia yang hidup tanpa penerangan yang cukup dan akses jalan menuju tempat-tempat pelayanan publik sulit dijangkau. Akses jalan yang sulit berpengaruh terhadap rendahnya partisipasi lansia dalam mengikuti kegiatan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dan pelayanan kesehatan lainnya.
Konsep yang keliru dari masyarakat terhadap lansia memperparah keadaan. Lansia dianggap sebagai kelompok tidak produktif sehingga sering diabaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemiskinan yang dialami para lansia dan tuntutan kehidupan membuat anak-anak lansia merantau untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Sayangnya, anak-anak yang merantau kerap kali tidak kembali untuk menengok ataupun memastikan kondisi orang tuanya. Masyarakat pun cenderung acuh tak acuh terhadap keadaan para lansia tersebut.
Berangkat dari persoalan pelik pada kehidupan lansia, PBH-Nusra bersama lembaga mitra Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), melalui program Better Together yang difasilitasi oleh VOICE berusaha untuk membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang lansia dan seluruh problem kehidupan yang dialami oleh lansia.
PBH-Nusra melalui CO (Community Organizer) dan relawan anak muda berupaya untuk mengurai permasalahan yang terjadi dengan membangun kemitraan bersama pemerintah desa. Kemitraan ini berupaya untuk mendorong peningkatan pelayanan kesehatan terhadap lansia dan keaktifan lansia dalam mengakses Posyandu rutin.
Selain fokus terhadap isu kesehatan lansia, PBH-Nusra juga mendorong musyawarah rencana pembangunan khusus lansia di tingkat desa, terutama di tiga desa dampingan, Ian Tena, Tua Bao dan Natarmage. Tujuannya agar lansia dapat berpartisipasi dalam rencana pembangunan di tingkat desa serta mendapatkan porsi sesuai hak dan kebutuhan lansia itu sendiri. Melalui ruang yang sama, PBH-Nusra mendorong adanya perhatian pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan lansia dengan melibatkan dinas dan instansi terkait, di antaranya Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, pemerintah desa, petugas medis, orang muda dan perwakilan lansia. Sebagai lembaga pendamping, PBH-Nusra sadar bahwa kesejahteraan lansia tidak seutuhnya menjadi tanggung jawab PBH-Nusra, tetapi tanggung jawab semua pihak antara lain pemerintah, masyarakat, keluarga, dan pihak lain yang menaruh perhatian pada kehidupan lansia. PBH-Nusra hadir sebagai penggerak untuk membangkitkan kesadaran dan pemahaman banyak pihak terhadap persoalan lansia. Keterlibatan banyak pihak dibutuhkan dalam meringankan persoalan yang dihadapi para lansia.
Solo, satu kota berjuta kisah, dari bahagia hingga nelangsa. Periodisasi sejarah tampak berpusat di kota Solo. Dari beragam kisah sejarah, tragedi 65 memberi luka yang tajam hingga saat ini. Luka ini masih butuh proses untuk sembuh dan entah sampai kapan. Perenungan kami disambut teriknya Kota Solo. Sengatan panas menyentuh kulit kami yang tengah menggerek koper menuju kendaraan jemputan. Beberapa dari kami, baru pertama kali menginjakan kaki di Bengawan Solo.
Setiap orang memiliki pandangan beragam dalam menyikapi tragedi ’65. Perbedaan pandangan membuat sikap orang berbeda-beda terhadap eks-tapol (tahanan politik). Stigma pun membelenggu para eks-tapol bahkan hingga keturunan mereka. Padahal menurut pemahaman kami, banyak eks-tapol adalah korban dari rezim Orde Lama. Mereka tidak mendapatkan keadilan bahkan hingga saat ini. Negara lalai atas tanggung jawabnya dalam melindungi rakyatnya. Seolah negara menutup mata bahwa banyak eks-tapol menjadi korban kebiadaban rezim.
Kami masih merekam momen kunjungan ke Mbah Cokro (bukan nama sebenarnya). Mbah Cokro merupakan Simbah/Mbah (panggilan untuk kakek dalam Bahasa Jawa) yang memperjuangkan hak-hak para lansia korban pelanggaran HAM. Mbah Cokro sangat disegani karena jiwa kemanusiaannya. Mbah bercerita kepada kami bagaimana perjuangan korban politik rezim Orde Lama dalam menjalani hidup. Proses Panjang dijalani untuk membuat akses pelayanan publik yang dibatasi. Tentu membuka pintu bersegel, tidak semudah membuka pintu yang tidak terkunci. Hal ini kiranya yang dapat menggambarkan bagaimana kualitas hidup yang dijalani para korban pelanggaran HAM.
Mbah Cokro menceritakan upaya-upaya yang sudah dilakukan. Ada banyak lika-liku pertentangan dari lingkungan sekitar hingga aparatur negara yang dihadapi, mulai dari sulitnya mengakses buku hijau (buku untuk mengakses layanan berobat gratis ke rumah sakit) hingga turunnya Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPHAM) dari Komnas HAM karena negara menyatakan telah terjadi pelanggaran pada korban. Namun dari kisah itu semua, disini kami akan menceritakan tentang bagaimana anak muda terlibat dengan lansia dan menjadi bagian dari mereka. Pertanyaan kami kepada Mbah Cokro, “Bagaimana sih mbah strategi yang membuat anak muda antusias dan mau menjadi bagian dari kerja pendampingan?”
Sambil meneguk secangkir Kopi, Mbah Cokro mulai bercerita proses mengajak anak muda dalam kerja-kerja pendampingan lansia korban pelanggaran HAM. Hal paling penting adalah memahami karakter anak muda saat ini untuk mencari strategi yang tepat. Karakter anak muda sekarang cenderung individualis dan pragmatis menurut Mbah Cokro. Hal ini disebabkan oleh kemajuan dari tekhnologi sehingga budaya untuk saling bertemu dan berdiskusi mulai pudar. Untuk itu, strategi yang dilakukan adalah menghadirkan ruang pertemuan dan diskusi sesuai dengan keadaan saat ini yaitu secara online.
Namun, pertemuan secara virtual tidak mudah membuat hubungan memiliki keterikatan (bonding). Untuk itu, perlu dilakukan pertemuan secara offline juga. Hal ini kemudian diagendakan pertemuan langsung di Kantor Sekber’65 di Solo. Pertemuan awal mendiskusikan tema yang sederhana mengenai budaya yang ada disekitar. Kegiatan ini efektif membangun rasa ingin tahu di kalangan muda. Proses ini juga membuat background anak muda terlihat. Apakah anak muda ini memiliki kepeduliaan terhadap lansia korban ’65 atau baru mengenal atau mengetahui isu ini. Lama-kelamaaan diskusi rutin ini terjalin dan beberapa anak muda komitmen menghadirinya. Alhasil isu diskusi beranjak ke tema yang lebih berat seperti terkait HAM, demokrasi, perlindungan terhadap lansia korban pelanggaran HAM, dan sebagainya.
Rasa penasaran anak muda berubah menjadi empati yang kemudian terforumkan dalam FGM (Forum Generasi Muda). Mbah Cokro beserta teman-teman di Solo mempertemukan secara langsung antara anak muda dan juga lansia korban. Dari hal tersebut terjadilah perbincangan dan interaksi secara langsung, awal mula anak muda hanya bersimpati dengan cerita dan film yang mereka temui di kanal online kini berubah menjadi sebuah rasa empati.
Tidak berhenti disitu, pertemuan anak muda dengan lansia ini menjadi sebuah momen yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya karena anak muda ini diajak untuk menyambangi secara langsung rumah dari para lansia, mulai dari lansia yang hidup sebatang kara, lansia yang ditolak keberadaannya oleh keluarga, lansia yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, lansia dengan saakit tertentu, hingga lansia yang mendapatkan disabilitas secara langsung akibat tragedi masa lalu. Tak jarang juga mereka (anak muda) diajak untuk menyambangi makam dari lansia yang sudah terlebih dahulu mendahului kita.
Empati yang terus tumbuh membuat anak muda di Solo mau bergabung dan menjadi bagian dari FGM. Anak muda ini melakukan pekerjaan secara sukarela untuk membantu para simbah lansia korban yaitu dengan cara melakukan pendampingan kepada simbah untuk kontrol atau check up ke rumah sakit, kunjungan ke rumah simbah didampingi fasilitator, hingga menjemput simbah apabila simbah tidak hadir atau tidak dapat dihubungi. Kerja kemanusiaan dari anak muda ini menggambarkan bahwa anak muda bukan generasi yang acuh terhadap orang lain, namun anak muda merupakan generasi yang peduli terhadap sesama, terutama kaum marjinal.
Aktivasi anak muda yang tergabung dalam FGM mengubah pandangan bahwa anak muda adalah kelompok individualis dan apatis. Anak muda memiliki empati yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi bara api bagi perjuangan HAM. Apalagi secara fisik anak muda memiliki stamina yang kuat. Pada sisi lain, seiring dengan digitalisasi pelayanan publik yang sedang dimassifkan pemerintah ke daerah-daerah, kinerja anak muda yang adaptif terhadap teknologi sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara anak muda dan organisasi pendamping sangat baik dalam kerja-kerja perjuangan HAM.
Perubahan iklim merupakan salah satu masalah yang terjadi di seluruh dunia dan menjadi perhatian semua pihak. Dalam konteks lingkungan, perubahan iklim merupakan reaksi ekstrem fenomena cuaca yang bisa berdampak negatif pada sumber daya pertanian, sumber daya air, kesehatan manusia, penipisan lapisan ozon, vegetasi dan tanah. Penyebabnya dapat terjadi karena adanya polusi yang terus meningkat karena adanya emisi karbon yang bisa merusak dan berbahaya bagi kesehatan, dan juga adanya aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan baru sebagai tempat tinggal dengan cara melakukan penghancuran hutan. Penghancuran hutan tentu akan membuat lahan hijau yang ada di bumi semakin berkurang. Kejadian tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanaman untuk menyaring polusi yang ada di udara dan tanaman untuk menciptakan oksigen bagi manusia. Secara tidak langsung, tentu saja perubahan iklim ini akan berdampak negatif pada manusia dan lingkungannya.
Dampak buruk lainnya dirasakan oleh manusia seperti peningkatan suhu bumi, mengakibatkan kekeringan, peningkatan volume dan suhu laut, beberapa spesies punah, mengganggu suplai makanan, terjadi badai destruktif, dan meningkatkan risiko kesehatan. Untuk dapat bertahan di tengah dampak negatif perubahan iklim, diperlukan peran dari masyarakat itu sendiri agar dapat mengembalikan kondisi bumi seperti sedia kala. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain menggunakan sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan, membatasi penggunaan kendaraaan berbahan bakar fosil, serta melakukan penanaman hutan dalam skala besar.
Untuk merespon perubahan-perubahan sosial dan ekologis yang mungkin timbul dari perubahan iklim, pundi hijau berupaya untuk meningkatkan kemandirian pangan atau mengurangi krisis pangan di tengah kondisi perubahan iklim dengan melakukan penggalangan sumber daya (dana, pengetahuan, jaringan, dan relawan). Hal ini dilakukan agar supplai makanan tetap berlangsung dan dapat meminimalisir kekurangan bahan pangan. IKa melihat bahwa persoalan perubahan iklim tidak sekedar kegiatan pengurangan emisi namun harus mampu menjawab kerugian yang diderita kelompok-kelompok rentan, sekaligus manfaat apa yang diterima dari konsekuensi yang ditimbulkannya.
Selama ini, dampak perubahan iklim di bidang pangan sering dialami oleh kalangan petani karena petani merupakan kunci dari kegiatan pangan di Indonesia. Dampak negatif yang ditimbulkan seperti kemarau berkepanjangan atau curah hujan yang tinggi sehingga berdampak pada keringnya lahan pertanian atau lahan pertanian yang terendam banjir, hal tersebut pula akan menurunkan produksi pangan. Para petani tentu harus beradaptasi dengan perubahan iklim agar tetap memproduksi pangan. Seperti pada kondisi kekeringan, petani dapat menggunakan teknologi atau pompa air yang memungkinkan petani untuk mengairi sawah agar lebih efektif. Masyarakat yang hidup di daerah pertanian juga dapat diberikan sosialisasi mengenai cara membaca informasi iklim agar dapat menginterpretasikan secara sederhana ketersediaan air dari curah hujan. Selain itu, masyarakat juga dapat turut andil dalam meningkatkan ketahanan pangan, seperti penanaman mandiri dengan menggunakan metode hidroponik atau memanfaatkan lahan yang ada di rumah yang dapat dikonsumi untuk kebutuhan pangannya sendiri.
Selain upaya meningkatkan ketahanan pangan, masyarakat juga perlu disiapkan oleh mitigasi bencana di tengah perubahan iklim. Dampak perubahan iklim hingga saat ini terus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, seperti kekeringan, gelombang panas, banjir, hingga badai. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan sosialisasi berbasis kearifan lokal. Hal ini perlu dilakukan untuk menggali gagasan pengetahuan dari masyarakat terhadap pemahaman bencana dan upaya mitigasinya, khususnya di daerah-daerah yang rawan terjadi bencana. Selain itu, kita dapat mendorong bersama-sama untuk menjaga ekosistem hutan yang masih tersisa. Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, dapat meningkatkan pemahaman dan ketahanan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim.
SUMBER:
KKP | Kementerian Kelautan dan Perikanan. “PENYADARTAHUAN MITIGASI BENCANA TAHUN 2021.” https://kkp.go.id/djprl/p4k/page/4585-penyadartahuan-mitigasi-bencana-tahun-2021 (August 22, 2022).
Siti Nur Aeni. 2022. “7 Dampak Perubahan Iklim Bagi Manusia Dan Lingkungan – Lifestyle Katadata.Co.Id.” https://katadata.co.id/intan/berita/62a355592ffd6/7-dampak-perubahan-iklim-bagi-manusia-dan-lingkungan (August 22, 2022).
Anton Muhajir. 2019. “Perubahan Iklim Ternyata Berdampak Pada Kedaulatan Pangan – Mongabay.Co.Id : Mongabay.Co.Id.” https://www.mongabay.co.id/2019/11/12/perubahan-iklim-ternyata-berdampak-pada-kedaulatan-pangan/ (August 22, 2022).
Tim Editorial Rumah.com. 2020. “Perubahan Iklim, Fakta, Penyebab Dan Solusinya.” https://www.rumah.com/panduan-properti/perubahan-iklim-fakta-penyebab-dan-solusinya-27468 (August 22, 2022).
IDEP Foundation. “Upaya Mitigasi Dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim.” http://idepfoundation.org/id/what-we-do/idep-news/525-upaya-mitigasi-dan-adaptasi-terhadap-perubahan-iklim (August 22, 2022).
Forum Solidaritas Anak Muda untuk Kemanusiaan (FORA) kembali berkumpul untuk mendiskusikan rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam satu tahun ke depan. Kegiatan ini dilakukan di Ke:kini Ruang Bersama, Jl. Cikini Raya No. 45, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (23/08/2022). Pada kesempatan ini, Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) Sugiarto Arif Santoso turut hadir untuk mendampingi jalannya diskusi.
FORA didesain sebagai ‘Komunitas Anak Muda Pendukung IKa’ yang kerjanya menyasar kolaborasi dengan komunitas-komunitas anak muda di Jabodetabek. Kerja FORA bertujuan untuk mencapai partisipasi dan kepemimpinan pemuda yang inklusif dan adil di masyarakat. Sebagai bagian dari ekosistem dan perpanjangan tangan IKa, FORA bekerja dengan membawa nilai-nilai IKa.
Dari hasil diskusi yang telah dilakukan, FORA menentukan untuk fokus pada isu kekerasan seksual dan isu kebudayaan. Isu kekerasan seksual secara khusus mendorong terbentuknya pembentukan Standard Operating Procedure (SOP) dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) di tiga kampus yang ada di wilayah Jabodetabek. Pemilihan isu ini dengan merujuk pada implementasi Permendikbud No. 30 Tahun 2021 agar kampus-kampus membentuk satgas PPKS. Sementara untuk isu kebudayaan berfokus pada keberlangsungan kelompok seni untuk terus eksis pasca pandemi.
Meyakini ‘strength in number’, FORA akan menggalang lebih banyak partisipasi dari komunitas- komunitas anak muda di Jabodetabek untuk bekerja sama mewujudkan cita-cita FORA. Kali ini, teman-teman mahasiswa menjadi target yang akan disasar FORA untuk bersama mendukung pembentukan SOP dan Satgas PPKS di tiga kampus di Jabodetabek. FORA tak lupa mengajak anak-anak muda yang peduli dengan keberlangsungan kelompok pelaku seni. Para pemuda yang akan bergabung dengan FORA nantinya diberikan pelatihan yang meliputi isu HAM & demokrasi, gender & inklusi sosial, penggalangan dana, hingga kampanye & penulisan. Pemateri yang akan memberikan materi-materi tersebut adalah anggota FORA yang sebelumnya telah menerima pembekalan berupa workshop dengan topik serupa selama tiga hari.
Guna mempersolid persiapan anggota FORA untuk melancarkan misi mereka, IKa akan kembali mendukung FORA dengan pemberian kelas seputar teknik fasilitasi, creative thinking, hingga advokasi.
Tak sekadar memberi pendampingan komunitas dan dukungan berupa pelatihan, FORA dan teman- teman lain yang akan bergabung juga merencanakan adanya penggalangan dana untuk kelompok pendamping korban kekerasan seksual di kampus dan untuk kelompok seni agar dapat terus berkarya.
Terima kasih kepada 30 mitra lembaga pengada layanan yang turut berpartisipasi dalam mengirimkan proposal pada pembukaan Hibah Pundi Perempuan Termin II tahun 2022.
Setelah melalui tahap seleksi yang cukup panjang oleh IKa dan Komnas Perempuan, telah terpilih 4 lembaga/ komunitas penerima Hibah Pundi Perempuan.
Berikut 4 lembaga/ komunitas terpilih penerima Dana Hibah Pundi Perempuan:
1. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (LBH APIK NTT) – Kupang, Nusa Tenggara Timur 2. HopeHelps Universitas Gadjah Mada – Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 3. Paralegal Depok – Depok, Jawa Barat 4. Yayasan Amnaut Bife “Kuen” (YABIKU) – Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur
Selamat untuk rekan-rekan lembaga/komunitas pengada layanan yang telah terpilih.
Bagi lembaga/komunitas sahabat yang belum terpilih, dapat kembali mengajukan proposal pada Hibah Pundi Perempuan di periode selanjutnya.