Forum Orang Muda untuk Kemanusiaan (FORA) yang diinisiasi oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), baru-baru ini melaksanakan refleksi bersama untuk mempersiapkan kerja-kerja kerelawanan selama 1 tahun kedepan.
Refleksi ini sebagai ajang untuk lebih mengakrabkan dan memperkuat hubungan antaranggota.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan mengajak kamu untuk mendonasikan barang-barang preloved kamu untuk Give Back Sale (GBS) yang akan dilaksanakan secara Offline. Hasil penjualan GBS ini akan disalurkan kepada lembaga pengada layanan atau Women’s Crisis Center (WCC) yang memberikan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan.
Untuk jenis barang dan kriteria barang preloved dapat dicek pada poster di atas.
Kamu bisa antar atau kirimkan barang preloved kamu ke alamat: Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) Ke:kini Coworking Space Jl. Cikini Raya No. 43/45, Menteng, Jakarta Pusat Kontak: 0813-8673-5816
Batas pengumpulan barang preloved sampai dengan 10 November 2022. Jangan sampai terlewat, ya!
Kesejahteraan lansia merupakan isu penting namun kerap kali terabaikan publik. Salah satu faktor yang menyebabkan isu lansia kurang mendapat perhatian karena dianggap persoalan privat. Padahal persoalan kesejahteraan lansia tidak hanya berada di ranah privat melainkan berkaitan dengan permasalahan sistemik dan seyogyanya mendapatkan perhatian publik.
Persoalan yang dihadapi lansia di antaranya kesehatan (penurunan daya tahan tubuh, penyakit, kemampuan bertahan hidup, dsb), ekonomi, sosial, dan psikologis (dukungan keluarga dan masyarakat). Tentu persoalan ini bukan persoalan mudah. Namun, kebanyakan orang memahami persoalan lansia sekadar perubahan siklus kehidupan dari usia muda ke usia tua.
Potret kehidupan lansia penuh persoalan terlihat jelas di desa-desa. Kehidupan lansia di desa sangat memprihatinkan. Beberapa lansia hanya dihadapkan pada penantian ajal. Mereka hidup dengan penuh keterbatasan dan keterbelakangan. Keterbatasan fisik, kondisi kesehatan yang tidak menunjang, keadaan ekonomi yang tidak memadai, dan kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat.
Rasa sepi dan terasing tampaknya hadir menyelimuti mereka. Mereka tinggal jauh dari keluarga dengan kondisi rumah yang sudah reyot. Mereka kesulitan dalam menyambung hidup di tengah tenaga yang tersisa. Namun, mereka tetap memaksakan seluruh tenaganya untuk berkebun dan menjualnya agar dapat menyambung hidup. Mereka bekerja sekadar untuk pemenuhan kebutuhan hidup di tengah situasi yang serba terbatas.
Persoalan lain adalah kesulitan mengakses air bersih karena sumber air bersih jauh dari pemukiman atau rumah tempat mereka tinggal. Masih ada lansia yang hidup tanpa penerangan yang cukup dan akses jalan menuju tempat-tempat pelayanan publik sulit dijangkau. Akses jalan yang sulit berpengaruh terhadap rendahnya partisipasi lansia dalam mengikuti kegiatan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dan pelayanan kesehatan lainnya.
Konsep yang keliru dari masyarakat terhadap lansia memperparah keadaan. Lansia dianggap sebagai kelompok tidak produktif sehingga sering diabaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemiskinan yang dialami para lansia dan tuntutan kehidupan membuat anak-anak lansia merantau untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Sayangnya, anak-anak yang merantau kerap kali tidak kembali untuk menengok ataupun memastikan kondisi orang tuanya. Masyarakat pun cenderung acuh tak acuh terhadap keadaan para lansia tersebut.
Berangkat dari persoalan pelik pada kehidupan lansia, PBH-Nusra bersama lembaga mitra Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), melalui program Better Together yang difasilitasi oleh VOICE berusaha untuk membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang lansia dan seluruh problem kehidupan yang dialami oleh lansia.
PBH-Nusra melalui CO (Community Organizer) dan relawan anak muda berupaya untuk mengurai permasalahan yang terjadi dengan membangun kemitraan bersama pemerintah desa. Kemitraan ini berupaya untuk mendorong peningkatan pelayanan kesehatan terhadap lansia dan keaktifan lansia dalam mengakses Posyandu rutin.
Selain fokus terhadap isu kesehatan lansia, PBH-Nusra juga mendorong musyawarah rencana pembangunan khusus lansia di tingkat desa, terutama di tiga desa dampingan, Ian Tena, Tua Bao dan Natarmage. Tujuannya agar lansia dapat berpartisipasi dalam rencana pembangunan di tingkat desa serta mendapatkan porsi sesuai hak dan kebutuhan lansia itu sendiri. Melalui ruang yang sama, PBH-Nusra mendorong adanya perhatian pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan lansia dengan melibatkan dinas dan instansi terkait, di antaranya Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, pemerintah desa, petugas medis, orang muda dan perwakilan lansia. Sebagai lembaga pendamping, PBH-Nusra sadar bahwa kesejahteraan lansia tidak seutuhnya menjadi tanggung jawab PBH-Nusra, tetapi tanggung jawab semua pihak antara lain pemerintah, masyarakat, keluarga, dan pihak lain yang menaruh perhatian pada kehidupan lansia. PBH-Nusra hadir sebagai penggerak untuk membangkitkan kesadaran dan pemahaman banyak pihak terhadap persoalan lansia. Keterlibatan banyak pihak dibutuhkan dalam meringankan persoalan yang dihadapi para lansia.
Solo, satu kota berjuta kisah, dari bahagia hingga nelangsa. Periodisasi sejarah tampak berpusat di kota Solo. Dari beragam kisah sejarah, tragedi 65 memberi luka yang tajam hingga saat ini. Luka ini masih butuh proses untuk sembuh dan entah sampai kapan. Perenungan kami disambut teriknya Kota Solo. Sengatan panas menyentuh kulit kami yang tengah menggerek koper menuju kendaraan jemputan. Beberapa dari kami, baru pertama kali menginjakan kaki di Bengawan Solo.
Setiap orang memiliki pandangan beragam dalam menyikapi tragedi ’65. Perbedaan pandangan membuat sikap orang berbeda-beda terhadap eks-tapol (tahanan politik). Stigma pun membelenggu para eks-tapol bahkan hingga keturunan mereka. Padahal menurut pemahaman kami, banyak eks-tapol adalah korban dari rezim Orde Lama. Mereka tidak mendapatkan keadilan bahkan hingga saat ini. Negara lalai atas tanggung jawabnya dalam melindungi rakyatnya. Seolah negara menutup mata bahwa banyak eks-tapol menjadi korban kebiadaban rezim.
Kami masih merekam momen kunjungan ke Mbah Cokro (bukan nama sebenarnya). Mbah Cokro merupakan Simbah/Mbah (panggilan untuk kakek dalam Bahasa Jawa) yang memperjuangkan hak-hak para lansia korban pelanggaran HAM. Mbah Cokro sangat disegani karena jiwa kemanusiaannya. Mbah bercerita kepada kami bagaimana perjuangan korban politik rezim Orde Lama dalam menjalani hidup. Proses Panjang dijalani untuk membuat akses pelayanan publik yang dibatasi. Tentu membuka pintu bersegel, tidak semudah membuka pintu yang tidak terkunci. Hal ini kiranya yang dapat menggambarkan bagaimana kualitas hidup yang dijalani para korban pelanggaran HAM.
Mbah Cokro menceritakan upaya-upaya yang sudah dilakukan. Ada banyak lika-liku pertentangan dari lingkungan sekitar hingga aparatur negara yang dihadapi, mulai dari sulitnya mengakses buku hijau (buku untuk mengakses layanan berobat gratis ke rumah sakit) hingga turunnya Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPHAM) dari Komnas HAM karena negara menyatakan telah terjadi pelanggaran pada korban. Namun dari kisah itu semua, disini kami akan menceritakan tentang bagaimana anak muda terlibat dengan lansia dan menjadi bagian dari mereka. Pertanyaan kami kepada Mbah Cokro, “Bagaimana sih mbah strategi yang membuat anak muda antusias dan mau menjadi bagian dari kerja pendampingan?”
Sambil meneguk secangkir Kopi, Mbah Cokro mulai bercerita proses mengajak anak muda dalam kerja-kerja pendampingan lansia korban pelanggaran HAM. Hal paling penting adalah memahami karakter anak muda saat ini untuk mencari strategi yang tepat. Karakter anak muda sekarang cenderung individualis dan pragmatis menurut Mbah Cokro. Hal ini disebabkan oleh kemajuan dari tekhnologi sehingga budaya untuk saling bertemu dan berdiskusi mulai pudar. Untuk itu, strategi yang dilakukan adalah menghadirkan ruang pertemuan dan diskusi sesuai dengan keadaan saat ini yaitu secara online.
Namun, pertemuan secara virtual tidak mudah membuat hubungan memiliki keterikatan (bonding). Untuk itu, perlu dilakukan pertemuan secara offline juga. Hal ini kemudian diagendakan pertemuan langsung di Kantor Sekber’65 di Solo. Pertemuan awal mendiskusikan tema yang sederhana mengenai budaya yang ada disekitar. Kegiatan ini efektif membangun rasa ingin tahu di kalangan muda. Proses ini juga membuat background anak muda terlihat. Apakah anak muda ini memiliki kepeduliaan terhadap lansia korban ’65 atau baru mengenal atau mengetahui isu ini. Lama-kelamaaan diskusi rutin ini terjalin dan beberapa anak muda komitmen menghadirinya. Alhasil isu diskusi beranjak ke tema yang lebih berat seperti terkait HAM, demokrasi, perlindungan terhadap lansia korban pelanggaran HAM, dan sebagainya.
Rasa penasaran anak muda berubah menjadi empati yang kemudian terforumkan dalam FGM (Forum Generasi Muda). Mbah Cokro beserta teman-teman di Solo mempertemukan secara langsung antara anak muda dan juga lansia korban. Dari hal tersebut terjadilah perbincangan dan interaksi secara langsung, awal mula anak muda hanya bersimpati dengan cerita dan film yang mereka temui di kanal online kini berubah menjadi sebuah rasa empati.
Tidak berhenti disitu, pertemuan anak muda dengan lansia ini menjadi sebuah momen yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya karena anak muda ini diajak untuk menyambangi secara langsung rumah dari para lansia, mulai dari lansia yang hidup sebatang kara, lansia yang ditolak keberadaannya oleh keluarga, lansia yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, lansia dengan saakit tertentu, hingga lansia yang mendapatkan disabilitas secara langsung akibat tragedi masa lalu. Tak jarang juga mereka (anak muda) diajak untuk menyambangi makam dari lansia yang sudah terlebih dahulu mendahului kita.
Empati yang terus tumbuh membuat anak muda di Solo mau bergabung dan menjadi bagian dari FGM. Anak muda ini melakukan pekerjaan secara sukarela untuk membantu para simbah lansia korban yaitu dengan cara melakukan pendampingan kepada simbah untuk kontrol atau check up ke rumah sakit, kunjungan ke rumah simbah didampingi fasilitator, hingga menjemput simbah apabila simbah tidak hadir atau tidak dapat dihubungi. Kerja kemanusiaan dari anak muda ini menggambarkan bahwa anak muda bukan generasi yang acuh terhadap orang lain, namun anak muda merupakan generasi yang peduli terhadap sesama, terutama kaum marjinal.
Aktivasi anak muda yang tergabung dalam FGM mengubah pandangan bahwa anak muda adalah kelompok individualis dan apatis. Anak muda memiliki empati yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi bara api bagi perjuangan HAM. Apalagi secara fisik anak muda memiliki stamina yang kuat. Pada sisi lain, seiring dengan digitalisasi pelayanan publik yang sedang dimassifkan pemerintah ke daerah-daerah, kinerja anak muda yang adaptif terhadap teknologi sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara anak muda dan organisasi pendamping sangat baik dalam kerja-kerja perjuangan HAM.
Perubahan iklim merupakan salah satu masalah yang terjadi di seluruh dunia dan menjadi perhatian semua pihak. Dalam konteks lingkungan, perubahan iklim merupakan reaksi ekstrem fenomena cuaca yang bisa berdampak negatif pada sumber daya pertanian, sumber daya air, kesehatan manusia, penipisan lapisan ozon, vegetasi dan tanah. Penyebabnya dapat terjadi karena adanya polusi yang terus meningkat karena adanya emisi karbon yang bisa merusak dan berbahaya bagi kesehatan, dan juga adanya aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan baru sebagai tempat tinggal dengan cara melakukan penghancuran hutan. Penghancuran hutan tentu akan membuat lahan hijau yang ada di bumi semakin berkurang. Kejadian tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanaman untuk menyaring polusi yang ada di udara dan tanaman untuk menciptakan oksigen bagi manusia. Secara tidak langsung, tentu saja perubahan iklim ini akan berdampak negatif pada manusia dan lingkungannya.
Dampak buruk lainnya dirasakan oleh manusia seperti peningkatan suhu bumi, mengakibatkan kekeringan, peningkatan volume dan suhu laut, beberapa spesies punah, mengganggu suplai makanan, terjadi badai destruktif, dan meningkatkan risiko kesehatan. Untuk dapat bertahan di tengah dampak negatif perubahan iklim, diperlukan peran dari masyarakat itu sendiri agar dapat mengembalikan kondisi bumi seperti sedia kala. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain menggunakan sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan, membatasi penggunaan kendaraaan berbahan bakar fosil, serta melakukan penanaman hutan dalam skala besar.
Untuk merespon perubahan-perubahan sosial dan ekologis yang mungkin timbul dari perubahan iklim, pundi hijau berupaya untuk meningkatkan kemandirian pangan atau mengurangi krisis pangan di tengah kondisi perubahan iklim dengan melakukan penggalangan sumber daya (dana, pengetahuan, jaringan, dan relawan). Hal ini dilakukan agar supplai makanan tetap berlangsung dan dapat meminimalisir kekurangan bahan pangan. IKa melihat bahwa persoalan perubahan iklim tidak sekedar kegiatan pengurangan emisi namun harus mampu menjawab kerugian yang diderita kelompok-kelompok rentan, sekaligus manfaat apa yang diterima dari konsekuensi yang ditimbulkannya.
Selama ini, dampak perubahan iklim di bidang pangan sering dialami oleh kalangan petani karena petani merupakan kunci dari kegiatan pangan di Indonesia. Dampak negatif yang ditimbulkan seperti kemarau berkepanjangan atau curah hujan yang tinggi sehingga berdampak pada keringnya lahan pertanian atau lahan pertanian yang terendam banjir, hal tersebut pula akan menurunkan produksi pangan. Para petani tentu harus beradaptasi dengan perubahan iklim agar tetap memproduksi pangan. Seperti pada kondisi kekeringan, petani dapat menggunakan teknologi atau pompa air yang memungkinkan petani untuk mengairi sawah agar lebih efektif. Masyarakat yang hidup di daerah pertanian juga dapat diberikan sosialisasi mengenai cara membaca informasi iklim agar dapat menginterpretasikan secara sederhana ketersediaan air dari curah hujan. Selain itu, masyarakat juga dapat turut andil dalam meningkatkan ketahanan pangan, seperti penanaman mandiri dengan menggunakan metode hidroponik atau memanfaatkan lahan yang ada di rumah yang dapat dikonsumi untuk kebutuhan pangannya sendiri.
Selain upaya meningkatkan ketahanan pangan, masyarakat juga perlu disiapkan oleh mitigasi bencana di tengah perubahan iklim. Dampak perubahan iklim hingga saat ini terus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, seperti kekeringan, gelombang panas, banjir, hingga badai. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan sosialisasi berbasis kearifan lokal. Hal ini perlu dilakukan untuk menggali gagasan pengetahuan dari masyarakat terhadap pemahaman bencana dan upaya mitigasinya, khususnya di daerah-daerah yang rawan terjadi bencana. Selain itu, kita dapat mendorong bersama-sama untuk menjaga ekosistem hutan yang masih tersisa. Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, dapat meningkatkan pemahaman dan ketahanan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim.
SUMBER:
KKP | Kementerian Kelautan dan Perikanan. “PENYADARTAHUAN MITIGASI BENCANA TAHUN 2021.” https://kkp.go.id/djprl/p4k/page/4585-penyadartahuan-mitigasi-bencana-tahun-2021 (August 22, 2022).
Siti Nur Aeni. 2022. “7 Dampak Perubahan Iklim Bagi Manusia Dan Lingkungan – Lifestyle Katadata.Co.Id.” https://katadata.co.id/intan/berita/62a355592ffd6/7-dampak-perubahan-iklim-bagi-manusia-dan-lingkungan (August 22, 2022).
Anton Muhajir. 2019. “Perubahan Iklim Ternyata Berdampak Pada Kedaulatan Pangan – Mongabay.Co.Id : Mongabay.Co.Id.” https://www.mongabay.co.id/2019/11/12/perubahan-iklim-ternyata-berdampak-pada-kedaulatan-pangan/ (August 22, 2022).
Tim Editorial Rumah.com. 2020. “Perubahan Iklim, Fakta, Penyebab Dan Solusinya.” https://www.rumah.com/panduan-properti/perubahan-iklim-fakta-penyebab-dan-solusinya-27468 (August 22, 2022).
IDEP Foundation. “Upaya Mitigasi Dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim.” http://idepfoundation.org/id/what-we-do/idep-news/525-upaya-mitigasi-dan-adaptasi-terhadap-perubahan-iklim (August 22, 2022).
Forum Solidaritas Anak Muda untuk Kemanusiaan (FORA) kembali berkumpul untuk mendiskusikan rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam satu tahun ke depan. Kegiatan ini dilakukan di Ke:kini Ruang Bersama, Jl. Cikini Raya No. 45, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (23/08/2022). Pada kesempatan ini, Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) Sugiarto Arif Santoso turut hadir untuk mendampingi jalannya diskusi.
FORA didesain sebagai ‘Komunitas Anak Muda Pendukung IKa’ yang kerjanya menyasar kolaborasi dengan komunitas-komunitas anak muda di Jabodetabek. Kerja FORA bertujuan untuk mencapai partisipasi dan kepemimpinan pemuda yang inklusif dan adil di masyarakat. Sebagai bagian dari ekosistem dan perpanjangan tangan IKa, FORA bekerja dengan membawa nilai-nilai IKa.
Dari hasil diskusi yang telah dilakukan, FORA menentukan untuk fokus pada isu kekerasan seksual dan isu kebudayaan. Isu kekerasan seksual secara khusus mendorong terbentuknya pembentukan Standard Operating Procedure (SOP) dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) di tiga kampus yang ada di wilayah Jabodetabek. Pemilihan isu ini dengan merujuk pada implementasi Permendikbud No. 30 Tahun 2021 agar kampus-kampus membentuk satgas PPKS. Sementara untuk isu kebudayaan berfokus pada keberlangsungan kelompok seni untuk terus eksis pasca pandemi.
Meyakini ‘strength in number’, FORA akan menggalang lebih banyak partisipasi dari komunitas- komunitas anak muda di Jabodetabek untuk bekerja sama mewujudkan cita-cita FORA. Kali ini, teman-teman mahasiswa menjadi target yang akan disasar FORA untuk bersama mendukung pembentukan SOP dan Satgas PPKS di tiga kampus di Jabodetabek. FORA tak lupa mengajak anak-anak muda yang peduli dengan keberlangsungan kelompok pelaku seni. Para pemuda yang akan bergabung dengan FORA nantinya diberikan pelatihan yang meliputi isu HAM & demokrasi, gender & inklusi sosial, penggalangan dana, hingga kampanye & penulisan. Pemateri yang akan memberikan materi-materi tersebut adalah anggota FORA yang sebelumnya telah menerima pembekalan berupa workshop dengan topik serupa selama tiga hari.
Guna mempersolid persiapan anggota FORA untuk melancarkan misi mereka, IKa akan kembali mendukung FORA dengan pemberian kelas seputar teknik fasilitasi, creative thinking, hingga advokasi.
Tak sekadar memberi pendampingan komunitas dan dukungan berupa pelatihan, FORA dan teman- teman lain yang akan bergabung juga merencanakan adanya penggalangan dana untuk kelompok pendamping korban kekerasan seksual di kampus dan untuk kelompok seni agar dapat terus berkarya.
Terima kasih kepada 30 mitra lembaga pengada layanan yang turut berpartisipasi dalam mengirimkan proposal pada pembukaan Hibah Pundi Perempuan Termin II tahun 2022.
Setelah melalui tahap seleksi yang cukup panjang oleh IKa dan Komnas Perempuan, telah terpilih 4 lembaga/ komunitas penerima Hibah Pundi Perempuan.
Berikut 4 lembaga/ komunitas terpilih penerima Dana Hibah Pundi Perempuan:
1. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (LBH APIK NTT) – Kupang, Nusa Tenggara Timur 2. HopeHelps Universitas Gadjah Mada – Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 3. Paralegal Depok – Depok, Jawa Barat 4. Yayasan Amnaut Bife “Kuen” (YABIKU) – Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur
Selamat untuk rekan-rekan lembaga/komunitas pengada layanan yang telah terpilih.
Bagi lembaga/komunitas sahabat yang belum terpilih, dapat kembali mengajukan proposal pada Hibah Pundi Perempuan di periode selanjutnya.
Menjadi tua bukan pilihan, tetapi siklus kehidupan yang dialami oleh setiap manusia secara alamiah. tidak seorangpun di dunia ini yang dapat mengelak dari usia tua. Setiap orang boleh merekayasa agar kelihatan awet muda, tetapi perubahan fisik dan usia, tidak dapat ditipu dengan cara apapun. Usia tua adalah kepastian, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mempersiapkan masa tua sedini mungkin.
Faktanya manusia cenderung mengabaikan satu fase dalam siklus kehidupan yaitu masa tua. Orang cenderung menata masa muda berlebihan dan lupa mempersiapkan diri menyongsong masa tua. Hal ini sungguh nyata dalam kehidupan masyarakat lokal pada umumnya. Mereka menghabiskan waktunya dengan pekerjaan-pekerjaan rutin hingga lupa mengurus dan mempersiapkan masa depan dengan baik. Dampaknya banyak lansia yang tidak dapat menikmati sisa hidupnya secara layak dan jauh dari kata sejahtera. Situasi dan kondisi yang tidak menunjang turut memperparah keadaan sehingga banyak lansia yang mengalami kekerasan dan diterlantarkan oleh keluarganya.
Kondisi ini secara otomatis menempatkan lansia pada posisi yang tidak berguna karena secara fisik sudah tidak perkasa lagi, daya tahan tubuh mulai melemah, fungsi mata mulai kabur, pendengaran tidak lagi berfungsi secara normal, daya ingat mulai melemah, dan berbagai jenis penyakit datang silih berganti. Keadaan ini dialami para lansia penyintas 65.
Lansia dampingan PBH-Nusra adalah kelompok penyintas pelanggaran berat HAM masa lalu yang menyebar di tiga desa dampingan yaitu Ian Tena, Tua Bao dan Natarmage. Jumlah lansia yang didampingi sebanyak 109 orang. Jumlah ini terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu karena banyak lansia yang sudah tidak berdaya karena faktor usia dan penyakit yang diderita.
Selama bertahun-tahun para penyintas hidup dalam ketakutan dan enggan membuka diri dengan pihak luar. Mereka termasuk orang-orang yang mengalami stigma dan diskriminasi berlapis, diabaikan, dan tidak mendapat ruang yang baik di masyarakat. Mereka sulit mengekspresikan diri karena stigma dan diskriminasi. PBH Nusra berupaya mengembalikan harkat dan martabat mereka dengan membuka ruang-ruang inklusi dan memperjuangkan hak-hak lansia untuk mendapatkan pelayanan dan bantuan sosial dari negara.
PBH-Nusra juga melibatkan orang muda sebagai relawan yang siap membantu lansia untuk mengakses layanan dasar terutama di bidang kesehatan seperti posyandu lansia, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan melakukan kunjungan rumah.
PBH-Nusra juga berusaha membangun ruang-ruang perjumpaan yang melibatkan multi pihak baik pemerintah, masyarakat, lansia, orang muda, organisasi yang peduli terhadap lansia dan individu-individu yang menaruh perhatian pada lansia. Aksi-aksi kecil dilakukan untuk memberikan perhatian pada lansia dan membangkitkan rasa kepedulian masyarakat terutama golongan pemuda terhadap lansia. Persoalan lansia tidak semata-mata tanggung jawab negara atau pemerintah melainkan tanggung jawab bersama.
Semua elemen masyarakat perlu memberikan perhatian dan dukungan kepada lansia dalam mengakses layanan dasar dan bantuan sosial. Sementara pemerintah wajib memastikan bahwa anggaran dan program kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kerja sama yang apik antara masyarakat dan pemerintah akan membuahkan hasil yang baik bagi kesejahteraan lansia. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan layanan sosial bagi lansia, PBH-Nusra bekerja sama dengan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) yang didukung oleh Voice Global melalui program “Better Together” sesuai dengan mandat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan sedang dalam misi untuk menceritakan nilai, semangat, dan kerja Pundi Perempuan melalui logo baru yang atraktif. Karenanya, IKa mengajak para Sahabat untuk berpartisipasi dalam ajang “Sayembara Logo Pundi Perempuan”!
Kamu bisa melihat ketentuan sayembara pada poster di atas atau kunjungi untuk informasi lebih lanjut. Peserta dengan desain logo terpilih berkesempatan mendapatkan hadiah sebesar Rp1.000.000!
Batas waktu pengumpulan desain logo hanya sampai Rabu, 17 Agustus 2022 pukul 23:59 WIB. Jangan lupa untuk isi form konfirmasi melalui http://tiny.cc/KonfirmasiSayembara setelah mengirimkan desain logo.
Indonesia untuk Kemanusian (IKa) mengadakan Workshop Forum Solidaritas Anak Muda untuk Kemanusiaan (FORA) yang diadakan selama 3 hari dimulai dari Senin, Rabu, dan Jumat pada tanggal 18, 20, dan 22 Juli 2022 yang diikuti oleh 10 anak muda di wilayah JABODETABEK dengan tema “Membangun Kepemimpinan Anak Muda dalam Komunitasnya yang Adil dan Inklusif” kegiatan ini didukung oleh Asian Community Trust Jepang.
Pada hari pertama workshop ini membahas tentang HAM dan Demokrasi yang dibawakan oleh Abdul Waidl oleh @infid_id , serta Gender dan Inklusi Sosial yang dibawakan oleh Fentia Budiman dari @suluh_perempuan. Masing-masing dari anak muda berefleksi terkait situasi HAM dan Demokrasi di Indonesia dan memahami GEDSI dalam beragam isu seperti keragaman gender, pendidikan, disabilitas, dan politik perempuan.
Hari ke 2 membahas tentang Analisa Sosial yang dibawakan oleh Siti Rubaidah dari Suluh Perempuan, Pengelolaan, Pembuatan Konten, dan Kampanye Digital yang dibawakan oleh Osi Naya Fia dari Indonesia untuk Kemanusiaan, serta Strategi Penulisan Copywriting oleh Meiska Irena dari Indonesia untuk Kemanusiaan. Para peserta ini belajar tentang bagaimana menganalisa kondisi sosial di lingkungannya dan solusi apa yang bisa dilakukan, serta melihat potensi diri dan jaringan untuk melakukan kampanye, dan berlatih ketrampilan dalam menulis microblogging.
Jumat tanggal 22 Juli merupakan hari dimana berakhirnya workshop FORA. Di hari ke tiga ini membahas beberapa hal dari mulai materi hingga kepengurusan anak muda
Pembahasan materi mencakup tentang SDGs yang dibawakan oleh Angelika Fortuna dari @infid_id , serta Penggalangan Dana yang dibawakan oleh Soraya Oktaviani dari Indonesia untuk Kemanusiaan. Suasana semakin menyatu dan hangat, para anak muda relawan semakin kompak dan kritis saat bekerja sama dalam tim. Mereka belajar bagaimana membuat mindmapping dalam melihat suatu isu dan juga mempertimbangkan sumber daya dalam implementasi. Juga belajar bagaimana menggalang dana dan membangun jaringan.
Workshop hari ketiga ditutup dengan pembentukan kepengurusan FORA, serta serah terima sertifikat sebagai bentuk simbolik atas pengurus FORA pertama.
Selamat untuk 3 kandidat terpilih alva maldini sebagai ketua, Tara sebagai sekertaris dan Nadiyah sebagai bendahara. Sukses untuk kerja-kerja sebagai relawan anak muda Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), kami percaya anak muda akan membawa perubahan dalam hal kemanusiaan.