Upacara Adat Sebagai Media Untuk Berdamai Dengan Masa Lalu

Sikka merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lima puluh tahun silam, Sikka tidak luput dari tragedi kemanusiaan yang terjadi pada tahun 1965/1966.  Terjadi pembantaian sesama umat Katolik yang berlangsung selama empat hingga lima bulan. Tentu kejadian itu masih sangat lekat di ingatan masyarakat Kabupaten Sikka, salah satunya komunitas adat Tana Ai (orang dari tanah hutan). Banyak dari mereka yang masih memiliki rasa marah dan terluka, serta sulit untuk menjalani hidup bermasyarakat. Terlebih lagi, mereka yang menjadi korban pembunuhan, ditangkap tanpa proses pengadilan dan harus melakukan kerja secara paksa.

Stefanus Porang merupakan anak salah satu korban tragedi tersebut. Ada perasaan sedih, marah, dan terluka karena ayahnya dibunuh. Begitu pula dengan Ignatius Soge, mempunyai rasa takut, bersalah, dan berdosa, lantaran ayahnya telah membunuh. Ingatan masa lalu masih melekat di dalam hati masing-masing. Padahal mereka hidup berdampingan dan sebagian besar mempunyai hubungan tali persaudaraan. Tentu saja, hal ini mengakibatkan beban sosial yang tak ringan. Mereka tidak mempunyai ruang untuk bersuara dan menyembuhkan luka selama lebih dari 50 tahun.

Berpuluh-puluh tahun mereka menanggung trauma dan distigma sebagai “orang sisa”. Hingga tahun 2017, lewat sebuah upacara adat, mereka berdamai dan membangun rekonsiliasi. Adalah ritual adat Gren, tradisi tua Tana Ai yang tak pernah dilakukan setelah peristiwa 1965, merupakan proses pengakuan kesilapan dan penyucian diri. Ritual adat ini dilakukan oleh salah seorang anak di mana orang tuanya pernah menjadi pelaku dalam peristiwa 1965/1966. Pelaksanaan ritual adat ini menunjukan bahwa masyarakat telah menerima, mengampuni, dan memaafkan tradegi kemanusiaan 1965/1966 yang dilakukan oleh orang tua mereka dan bertindak sebagai pelaku. Insiden ini hanya terjadi di ruang adat dan budaya.

Melalui ritual ini juga, Rafel Rapa mengaku kembali bersatu, mengakui kesalahan, dan saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya. Ignatius Nasi, saudara kandung dari Ignatius Soge, mengaku sejak peristiwa 1965/1966 merasa hidupnya tidak nyaman. “Ekonomi sulit, ternak banyak mati, saya sakit-sakitan. Saya sudah berusaha mencari penyebabnya tetapi belum dapat,” ungkapnya. Setelah mengikuti upacara adat tersebut, ia mengaku merasa lebih lega. “Acara ini buat saya sangat penting. Saya bisa mengaku dosa atas perbuatan di masa lalu. Rasa bersalah di pihak pelaku terhadap siapapun sudah aman sekarang,” imbuhnya. Ritual ini mendapat banyak dukungan dan dihadiri oleh ratusan komunitas yang ada di wilayah Tana Ai. Selain itu, tokoh masyarakat dan beberapa pejabat pemerintah Kabupaten Sikka turut hadir dan memperbaiki kembali hubungan antara keluarga korban dan pelaku yang sebelumnya renggang.


Artikel ini disadur dari buku “Para Pembuka Jalan” terbit tahun 2019

Penulis buku: Lilik HS

Temu Mitra

Temu Mitra atau Temu kangen? Perjumpaan dengan kawan Sekber ’65 dan PBH Nusra yang dihadiri oleh 3 orang dari masing-masing daerah bukanlah moment pertama kali bertemu di tahun 2022. Tetapi sudah lama jejak pertemanan sekaligus kerja sama ini terjalin. Pandemi yang berkepanjangan membuat semua kegiatan lapangan mogok secara mendadak. Jika tidak mogok waspada sangat perlu ditingkatkan.

Seperti baru-baru ini Indonesia untuk Kemanusiaan bersama Sekber ’65 dan PBH Nusra melakukan Temu Mitra di Jakarta Pusat secara langsung (Tatap muka). Acara ini berlangsung selama 3 hari pada 18 – 20 Mei 2022.

Hari pertama di tanggal 18 Mei kami berkumpul di ruang meeting untuk merefleksikan kegiatan apa saja yang sudah kita kerjakan selama 6 bulan terakhir tentang lansia dan anak muda, bagaimana mendorong perubahan sosial dari anak muda kepada lansia khususnya lansia korban pelanggaran berat HAM masa lalu. Perubahan ini tidak akan terjadi apabila dilakukan secara individu atau hanya kelompok tertentu, jadi perubahan harus dilakukan secara nyata dan bersama, karena bersama lebih baik. Mencapai hal tersebut, sebagai penerus dibutuhkan pelopor baru seperti anak muda yang serta merta peduli kepada lansia salah satu contohnya yaitu pendamping dari anak muda kepada lansia,  dan jiwa kerelawanan. Karena bukan suatu hal yang mudah mencari dan menjadi bagian dari pendampingan.

Masih di hari pertama, para peserta temu mitra mendapatkan webinar gender equality, Sisca Noya (voice) sebagai narasumber yang memaparkan  tema tentang bagaimana kesetaraan gender pada tahap ranah public. Karena persamaan gender adalah tujuan dan kesetaraaan adalah sarana pencapaian.

Hari berikutnya di tanggal 19 Mei 2022. IKa mempresentasikan dan berdiskusi tentang hasil dari kegiatan yang sudah dilakukan selama lebih dari 6 bulan ini. Mulai dari proses, capaian serta tantangan yang dielaborasikan ke dalam SWOT. Presentasi ini mencakup dari kegiatan monitoring evaluasi, kampanye publik, keuangan, serta program. Diskusi berjalan dengan ramai karena masing-masing dari mitra turut serta ambil bagian dari apa yang dipaparkan oleh kegiatan ini.

Di hari ketiga yang merupakan hari terakhir, kami merefleksikan dari pertemuan sebelumnya dan membuat rencana kerja tidak lanjut capaian serta strategi apa yang akan dilakukan untuk memenuhi target dari kerja-kerja IKa serta para mitra.

Pertemuan dalam jangka waktu 3 hari ini terasa singkat, karena padatnya jadwal dari setiap agendanya. Di hari penutupan ini, IKa bersama kawan-kawan mitra mengagendakan untuk tim building dengan bermain permainan bowling, permainan yang jarang orang melakukannya dan tidak semua di daerah ada permainan tersebut. Wajah yang tadinya Lelah berubah menjadi segar karena keberangkatan disambut oleh guyuran hujan deras, dan permainan ini memacu perlombaan dari masing-masing tim.

Terima kasih voice karena temu mitra ini merupakan perjumpaan belajar dan sekaligus temu kangen dari setiap masing-masing kelompok.
#BetterTogether

PEMENTASAN KETOPRAK “PRABU SURO CANDOLO”

Ketoprak “Prabu Suro Candolo” menceritakan seorang raja yang memerintah secara otoriter hingga banyak pelanggaran HAM berat yang terjadi di bawah kekuasaannya. Gaya memimpin bak diktator ini dibalas dengan protes dan pemberontakan oleh rakyatnya. Kisah Prabu Suro Candolo ini adalah sebuah karya seni dan kampanye pengingat agar kita tak amnesia akan noktah kelam dalam sejarah tanah air.

Yuk, segera registrasikan dirimu! Dengan donasi minimal Rp 50.000, kamu dapat menyaksikan perpaduan apik antara teater modern dan teater tradisional. Silakan kirim donasimu melalui rekening:

Pundi Insani
Bank BCA an. YSIK
No. Rek : 342.3088.997

Hasil donasi akan disalurkan kepada korban pelanggaran HAM dan untuk pelaksanaan kerja-kerja kemanusiaan.

Jangan lupa isi formulir registrasi melalui untuk mendapatkan link pertunjukan. Untuk pertanyaan dan informasi lebih lanjut silakan hubungi 0813-8673-5816 (Admin IKa).
#BetterTogether

Rumah Timbang

Rumah Timbang
Para Lansia di Kampung Dobo Desa Ian Tena Sikka Nusa Tenggara Timur sedang berkumpul untuk bermusyawarah, mereka saling mencari solusi bagaimana kesehatan tetap terpantau tanpa melihat jarak yang jauh, memenuhi kebutuhan yang mendesak seperti pengecekan tensi, kolestrol, gula darah, asam urat dan lain-lain.

Dengan kebutuhan yang mendesak ini lahirlah Rumah Timbang untuk para mama-mama yang berada di Kampung Dobo.
#BetterTogether

Didik Dyah Suci Rahayu: Kartini Modern Bagi Para Lansia Solo

Didik Dyah Suci Rahayu atau yang kerap disapa Didik, merupakan perempuan dari Karanganyar yang tetap semangat dalam membantu para lansia korban ’65 untuk mendapatkan haknya dari negara. Didik merupakan anak ketiga dari lima bersaudara yang di mana ia merupakan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara tersebut.

Terlahir dari keluarga ABRI tak membuat Didik di dalam keluarga diacuhkan dengan pilihan yang saat ini ia pilih sebagai pionir bagi para lansia. Keluarganya memberikan kebebasan dalam menentukan langkah dari yang Didik ambil. Tahun 1987, ia berkuliah di Universitas Swasta yang berada di Surakarta dan lulus pada tahun 1992. Dengan jurusan yang diambil yaitu sejarah.

Ia termasuk perempuan yang aktif semasa berkuliah. Ini terbukti dengan dia mengikuti kegiatan mahasiswa, lalu masuk ke jurnalistik dan aktif di dalamnya. Ia mulai melakukan investigasi berbagai kasus, tetapi pada saat ia menulis ia merasakan keberpihakan pada kasus masyarakat yang lemah dan terintimidasi. Namun, hal tersebut belum kuat untuk menetapkan hatinya, hingga suatu saat ia bertemu dengan seorang teman yang berpihak pada kaum miskin kota. Ia juga berjumpa dengan Mbah Narso yang konsen dengan isu-isu HAM 65, karena Didik yang mempunyai dasar jurnalistik, dari situlah terciptanya kerja sama, dan pada akhirnya mendirikan SekBer ’65. Tahun 1987, SekBer ’65 bernama Sekertariat Bersama Korban ’65 yang di bawah payung dari lembaga bantuan hukum di Solo.

Kedekatan para simbah dengan Didik memberikan bantuan yang sangat mendalam bagi para simbah. Pada saat Didik keluar dari lembaga bantuan hukum, para si mbah bingung bagaimana ia ke depan dalam memperjuangkan haknya. Di titik tertinggi, 8 wilayah dari Jawa Tengah menginginkan mandiri/ memisahkan diri dari 14 pos wilayah dari daerah Jawa Tengah. Kedelapan wilayah ini terdiri dari Solo, Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, dan Magelang. Tahun 2012,  SekBer mengadakan Kongres dan terbentuklah dengan nama baru, yaitu SekBer ’65. SekBer tidak hanya beranggotakan korban 65, tapi keluarga dan orang-orang diluar korban yang berempati pada atau mendorong proses penyelesaian, khususnya dengan mekanisme rekonsiliasi.

Wilayah SekBer ’65 meliputi Solo, Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, dan Magelang. Dalam menghidupi organisasi tidak ada modal tetap. Uang untuk menghidupi organisasi didapat pada saat Didik dan Mbah Narso menjadi pembicara di beberapa tempat. Uang dari menjadi narasumberlah untuk dipakai organisasi. Jika tidak menjadi narasumber, mereka akan melakukan saweran/iuran untuk menghidupi organisasi. Didik muda sempat ingin bekerja di salah satu stasiun televisi di Jakarta sebagai jurnalis, tetapi harapan itu ia urungkan karena para si mbah menangis tersedu-sedu tidak mau ditinggal. Karena siapa lagi yang mau mengurus para si mbah?

Perjumpaan Didik yang pada saat itu menjadi ketua jaringan dokumentasi bersama 65 dengan Direktur Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) saat itu yang menjabat Anik Wusari,  itulah momen pertama kali perkenalan dimulai pada acara Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK). Kerja sama dengan IKa untuk pertama kalinya terjalin pada suatu program di tahun 2014. Dan kerja sama ini kembali terjalin pada Voice dengan program #bettertogether yang dimulai di akhir tahun 2021 hingga sekarang.

Didik menjadi Kartini bagi para pendamping di SekBer. Tiga puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi dan tetap konsisten dalam melakukan pendampingan (mengurusi si mbah), karena tidak semua para si mbah mempunyai keluarga. Ada si mbah yang mempunyai keluarga tetapi anaknya acuh karena ia merasa malu mempunyai orang tua dengan tuduhan anggota 65. Ada yang tidak peduli karena turunan dari tuduhan PKI tidak bisa menjadi PNS pada saat bekerja. Ada pula si mbah yang hidupnya sebatang kara. Hal itulah yang membuat Didik tetap bertahan menjadi pendamping.

Bekerja dan memperjuangkan hak para lansia pada saat berbicara dengan orang lain sangat susah sekali, tutur beliau.  Mereka memberikan stigma, belum lagi para si mbah takut berbicara, baik ke orang lain maupun ke keluarga sendiri, bahwa mereka korban yang dikirim ke Pulau Buru, Nusakambangan. Padahal, yang perlu dilakukan secara terukur yaitu terbuka dengan keluarga, terbuka dengan masyarakat, dan menyampaikan informasi yang benar bahwa dirinya sebagai korban. Para korban yang sudah terstigma secara politik belum lagi pada saat membahas persoalan 65 untuk menyelesaikan persoalan tersebut sangat susah karena mereka/orang yang mau berbicara tentang 65 takut dicap PKI/ komunis. Perlu memutar otak bagi Didik untuk menyelesaikan persoalan tersebut, sehingga munculah ide berbicara isu pelanggaran HAM masa lalu bukan dari sisi ’65, tetapi  dari sisi kemanusiaan, bahwa ada orang tua yang miskin, terlantar, tidak punya apa-apa, orang terbuang, orang nomor dua. Jadi dari situlah sisi kemanusiaan itu yang diraih baru empati akan muncul dari pribadi masing-masing orang.

Namun, walaupun sisi kemanusiaan dapat diraih, tetapi tetap ada tantangan tersendir. Tidak hanya dari eksternal tetapi juga dari internal seperti semua lansia di atas 65 tahun mereka lemah miskin, jarak geografis jauh jadi apabila ada pertemuan simbah yang rumahnya jauh dia akan datang kalau dia sehat dan mempunyai ongkos, belum lagi masih banyak kecurigaan dari masyarakat, aparat masih mengintai, di perempatan jalan di Solo masih ada banner tentang PKI, tetapi di masa pandemi  ini banner tersebut sudah berkurang, dan masih banyak lainnya

Selain tantangan juga ada capaian sampai saat ini yang diperoleh, seperti Didik aktif berjejaring dengan siapapun sehingga banyak keuntungan yang diperoleh pada saat berjejaring secara baik-baik dan melalui rekonsiliasi. Dari sini terlihatlah pencapaian seperti pemberian Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPHAM) dari Komnas HAM  menjadi pembersih karena negara menyatakan telah terjadi pelanggaran pada korban dengan nama, alamat yang berdomisili, yang kedua SekBer menerima buku hijau kisaran 1.500 yang nantinya buku ini diperuntukan bagi para simbah untuk berobat gratis di Rumah Sakit, Pemkot Surakarta memberi bantuan seperti PKH BLT  2 bedah rumah kepada para si mbah.

Pendampingan hingga kini masih dilakukan oleh Didik serta tim dari SekBer, yang tadinya Didik turun ke wilayah kini ia melakukan pertemuan rutin sebulan sekali dan pertemuan lagi kalau ada asesmen dari Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) dan yang turun ke lapangan dan melakukan visit ke rumah-rumah kini tim dari SekBer. Tapi, tetap para antusias para simbah patut diapresiasi semangatnya karena lansia yang hadir jika melakukan pertemuan sekitar 25 orang dari 40 lansia.

Tidak ada duka yang dirasakan oleh Kartini Solo itu, karena ia merasa bahagia di setiap momen kebersamaan dengan para simbah. Karena baginya kemanusiaan, rasa cinta kasih sayang ke mereka adalah sebuah keharusan yang dilakukan dan ia tidak lupa hal kebaikan yang dilakukan merupakan bagian dari iman kepada Tuhan.

Harapan untuk para simbah baginya yaitu, agar simbah selalu sehat, tetap kuat, karena perjuangan belum selesai. Dan untuk tim SekBer ’65 ini, terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga SekBer jangan lemah harus semakin kuat, karena organisasi kuat akan sangat membantu para simbah.

Dialah perempuan Kartini di Era Modern bagi para Lansia di Jawa Tengah, melalui kepedulian dia beserta tim SekBer ’65 banyak para si mbah yang terbantu untuk menikmati masa tuanya walaupun perjuangan belum usai, tidak sedikit pula simbah yang sudah mendahului dipanggil oleh Tuhan.

Ekonomi Solidaritas Dalam Meningkatkan Keberlangsungan Organisasi Masyarakat Sipil

Dalam rangka memperkuat gerakan ekonomi solidaritas, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) kembali menyelenggarakan webinar kedua pada 25 Agustus 2021 lalu dengan tajuk “Keterhubungan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam Ekosistem Ekonomi Solidaritas”. Webinar ini mengupas bagaimana relasi antara gerakan sosial dan gerakan ekonomi yang dituangkan dalam sebuah organisasi masyarakat sipil. Sebagai sebuah prinsip, ekonomi solidaritas dapat diterapkan dalam sebuah gerakan sosial dengan memperhatikan nilai-nilai solidaritas, kerja sama, kesetaraan, keberlanjutan, demokrasi, hingga pluralisme. Pemaparan ekonomi solidaritas dan OMS disampaikan oleh Direktur Eksekutif IKa, Sugiarto Arif Santoso. Ekonomi solidaritas merupakan gerakan sedunia untuk membangun ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Sugiarto juga menambahkan bahwa ekonomi solidaritas mensyaratkan adanya pergeseran dalam paradigma ekonomi dari yang mengutamakan keuntungan dan pertumbuhan menjadi yang mengutamakan hidup yang selaras dengan sesama manusia dan dengan alam.

Gambar: Slide Presentasi Theresia Eko (Pamong Ibu Jamu Sragen). Webinar #2

OMS sebagai entitas dari gerakan masyarakat sipil sejalan dengan ekonomi solidaritas yang meletakkan keberpihakannya pada manusia dan alam. Sugiarto melanjutkan, bahwa koperasi (credit union) sebagai entitas dari ekonomi solidaritas mempunyai beberapa pola keterhubungan antara OMS sebagai entitas dari gerakan masyarakat sipil. Setidaknya ada tiga pola yang ditemukan. Pertama, OMS yang mengintegrasikan ekonomi solidaritas menjadi salah satu misi organisasi. Pola pertama ini cukup populer digunakan oleh OMS, namun tidak banyak yang dapat berlanjut setelah terjadi krisis dalam penataan organisasi. Kedua, ekonomi solidaritas yang mendedikasikan sebagian besar keuntungannya untuk pembiayaan gerakan sosial dan lingkungan hidup. Pola ini tidak banyak digunakan oleh credit union dalam beberapa isu seperti pelestarian alam dan peningkatan ekonomi. Namun untuk isu kesetaraan gender dan hak asasi manusia (HAM) belum populer. Ketiga, hubungan ketersalingan (reciprocity) antara OMS dan Koperasi (credit union). Pola ketiga ini belum populer diterapkan oleh OMS ataupun Koperasi. Tantangan pola ini adalah niat dan strategi organisasi yang sering dianggap belum sejalan dengan arah organisasi. 

Banyaknya kendala yang dihadapi OMS, tidak luput dari bagaimana penerapan ekonomi solidaritas dalam suatu organisasi dapat membuat perubahan-perubahan di internal maupun eksternal organisasi. Adanya relasi yang kuat antara OMS dengan entitas ekonomi seperti koperasi maupun social enterprise dapat membuat tumbuhnya kemandirian organisasi dan berputarnya arus ekonomi dalam aktualisasi kegiatan-kegiatan bersama bersama komunitas yang terpinggirkan.Hal ini turut dilakukan oleh kelompok Ibu Jamu yang menerapkan proses pengorganisasian para Ibu pengelola jamu yang mengembangkan bagaimana pemberdayaan dan pendanaan dilakukan melalui proses produksi jamu. Menurut Theresia Eko, Pamong Ibu Jamu Empu Sragen, dengan menerapkan ekonomi solidaritas yang memperhatikan kesejahteraan para ibu jamu di masa pandemi. Melalui prinsip-prinsip pemberdayaan yang diterapkan, gerakan menjadi sebuah strategi peningkatan ekonomi melalui pemaksimalan pemanfaatan kompetensi produksi jamu dan penjualannya, hingga pengembangan diri untuk menjadi maju bersama dalam masa sulit selama pandemi ini. Tidak hanya memperhatikan peningkatan penjualan, tetapi bagaimana para ibu jamu dapat meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan terhadap alam dan kelestariannya.

Gambar: Slide Presentasi Lian Gogali (Direktur Institut Mosintuwu). Webinar #2

Selain itu, prinsip ekonomi solidaritas yang diterapkan melalui Pesada Perempuan yang turut menguatkan aspek politik perempuan terutama di Sumatera Utara. Berdasarkan keterangan Ramida Sinaga, Koordinator keuangan dan fundraising Pesada, gerakan ekonomi dan politik perempuan diwujudkan dalam koperasi yang meningkatkan arus ekonomi dan mewujudkan kepemimpinan perempuan. Pesada mengasah keterampilan para kadernya untuk turut menjadi perempuan pemimpin yang mampu menguatkan ekonomi politik akar rumput yang setara & adil gender, inklusif, berkelanjutan, serta berpengaruh dari lokal hingga internasional. Gerakan ekonomi solidaritas juga diterapkan dengan menerapkan prinsip sederhana melalui perputaran ekonomi di desa, membangun perekonomian desa dengan mengembangkan produksi agar uang dari luar desa bisa masuk ke dalam desa, hingga menyeimbangkan kerja sama alam dan manusia dengan memaksimalkan potensinya masing-masing dan tetap memperhatikan kelestarian ekosistemnya. Lian Gogali, sebagai pendiri dan direktur institut Mosintuwu, percaya bahwa bagaimana kerja sama di desa dengan pengorganisasian di dalamnya dapat menyediakan kebutuhan sehari-hari tanpa bergantung dari produksi luar desa. Gerakan ini akan membantu meningkatkan rasa kuat kepemilikan seseorang terhadap komunitas hingga ke desanya sendiri. Hal ini akan berpengaruh pada penjagaan kelestarian alam untuk memastikan kesejahteraan masyarakat desa tersebut..

Beragamnya solusi nyata yang telah dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil terhadap keberhasilan ekonomi solidaritas menunjukkan bahwa kunci dari penerapan prinsip ekonomi solidaritas menjadi salah satu yang mendorong keberhasilan gerakan tersebut. Selain itu, organisasi juga harus dapat bekerja sama dalam mengelola model ekonomi solidaritas yang akan diterapkan. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan lebih banyak menambah jaringan melalui webinar, workshop, dan terus melakukan diskusi yang substansial untuk meningkatkan keberhasilan dari gerakan ekonomi yang dilakukan.

Bila Anda tertarik mengembangkan ekonomi solidaritas bersama-sama Indonesia untuk Kemanusiaan, mari bergabung dalam komunitas pembelajaran ekonomi solidaritas. Silakan mengklik link di bawah ini.

Menemukenali Gerakan Masyarakat Sipil dalam Ekonomi Solidaritas

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) menyelenggarakan webinar “Koperasi dan OMS: Titik Temu Gerakan Ekonomi dan Sosial dalam Praktik” pada 3 Agustus 2021. Webinar ini hadir menanggapi keresahan akan disrupsi ekonomi hulu ke hilir yang dihadapi oleh seluruh elemen masyarakat di Indonesia. Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang menjadi motor penggerak gerakan sosial yang berpotensi dalam mengikat solidaritas masyarakat untuk bersama memerangi kegelisahan akibat turbulensi ekonomi yang dihadapi.

Gambar: Slide Presentasi Romlawati (Co-Director PEKKA). Webinar #1

Webinar menghadirkan tiga narasumber yang kompeten dalam gerakan ekonomi solidaritas yaitu(1) Suroto dari kalangan, peneliti, pemerhati, dan praktisi Koperasi; (2) Ukke R. Kosasih selaku Pengurus Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa); (3) Romlawati selaku Co-Director Pelaksana untuk Penguatan Gerakan Ekonomi PEKKA. Webinar berlangsung selama tiga jam membahas mengenai berbagai keterkaitan antara Koperasi dan OMS dengan lebih kurang 100 peserta yang antusias mengikuti hingga selesai.

Manusia yang kerap menjadi pelaku, penerima manfaat, hingga korban dalam kegiatan ekonomi harus memiliki beragam cara untuk terus bertahan dan meningkatkan kemandirian. Hal ini akan mendorong bagaimana manusia bisa terbebas dari permainan ekonomi oleh pemilik modal besar yang mengancam kemaslahatan hidup manusia pada umumnya. Adanya relasi kuasa asimetris dalam mengendalikan ekonomi posisi masyarakat terus melemah dalam secara ekonomi. Ketergantungan terhadap ekonomi global menunjukkan bukti bahwa pelemahan secara terstruktur telah terjadi.

Oleh karena itu gerakan ekonomi solidaritas harus dapat mendorong terciptanya kemandirian komunitas yang menguatkan solidaritas dalam inisiatif ekonomi masyarakat. Koperasi sebagai salah satu lembaga keuangan, menjadi elemen yang dapat membantu masyarakat Indonesia untuk membangun sebuah komunitas yang mandiri dan tidak serta merta mengeksploitasi manusia dan lingkungan hidup.

Temuan FGD menunjukkan beberapa pendamping masih melakukan kerja pendampingan secara langsung. Ini artinya Peranan dunia usaha untuk pengembangan komunitas secara kompetensi dipengaruhi dari bagaimana sebuah badan usaha dapat mengutamakan manusia di atas modal. Melalui peranan model usaha yang memperhatikan keberdayaan komunitas, konsep profit oriented yang dapat merusak nilai dalam seseorang kemudian mengalami pergeseran perspektif menjadi benefit oriented. Bagaimana dalam kedua konsep ini, perbedaan yang mencolok di antaranya adalah ketika sebuah usaha memperhatikan keuntungan dalam segi nilai maupun kompetensi yang diberikan dan diterima oleh mereka, dibandingkan dengan keuntungan secara besaran pendapatan yang dihadapi. Hal ini dilihat dari bagaimana ketika sebuah model usaha memperhatikan kesejahteraan para elemen pekerja di dalamnya, sebuah faktor keuntungan akan dapat tercapai. 

Model koperasi yang mengembangkan perspektif peningkatan kompetensi bukan kompetisi, menciptakan solidaritas dan kerja sama antar pelaku usaha di dalamnya. Selain kepada para pelaku usaha, konsumen turut dijadikan sebagai elemen co-producer yang memiliki peranan sebagai pemilik modal dan tidak hanya sebagai objek target pasar semata. Terciptanya sebuah demokrasi ekonomi di masyarakat mempengaruhi peningkatan perhatian akan meningkatnya hingga memperkuatnya nilai-nilai kemanusiaan, kearifan budaya, hingga kelestarian ekologi.

Keuntungan dari hasil usaha menjadi sebuah bahan bakar dalam gerakan ekonomi solidaritas yang dapat memperkuat sumber daya untuk melakukan advokasi. Dalam organisasi masyarakat sipil yang kerap dilandasi oleh sistem crowdfunding membuat OMS tidak memiliki pondasi yang kuat untuk mempertahankan gerakan yang sedang diperjuangkan. Melalui pendirian koperasi, kegiatan usaha dengan pendapatannya dapat memperkokoh gerakan sosial yang akan diperjuang oleh para organisasi masyarakat sipil.

PBH Nusra, Tetap Berdaya di Tengah Pandemi Covid-19 di Sikka

Perkumpulan Bantuan Hukum Nusa Tenggara (PBH Nusra) selama April hingga Juni 2020 mengalami hambatan dalam melakukan pendampingan dan pertemuan berkala bersama kelompok dampingan karena adanya pandemi Covid-19. PBH Nusra merespon pandemic ini dengan melakukan pengadaan masker dan baliho, serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Covid-19.

Sosialisasi yang dilakukan oleh PBH Nusra terjadi berkat adanya pertemuan koordinasi bersama Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) yang membahas Penanggulangan Bencana Demam Berdarah Dengue (DBD) dan antisipasi penularan Covid-19. Kegiatan ini berlangsung di Sekretariat Caritas Keuskupan Maumere pada 23 Maret 2020 dengan peserta dari Caritas Keuskupan Maumere, Wahana Tani Mandiri, PBH-Nusra, BPBD, PMKRI dan PMI.

Pundi Insani adalah wadah penggalangan dana untuk pemulihan serta pemberdayaan korban pelanggaran HAM. Saat ini, Pundi Insani didukung oleh Program Peduli, yang bertujuan mewujudkan gerakan inklusi sosial untuk mendorong masyarakat untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari.

Pundi Insani: Membangun Inklusi Sosial bagi Korban Talangsari Lampung

Paguyuban Keluarga Korban Talangsari Lampung (PK2TL) mengadakan pertemuan dengan warga Desa Rajabasa Lama untuk mendiskusi strategi penguatan komunitas melalui akses dana desa dan berkolaborasi dengan mahasiswa. Pertemuan ini berlangsung pada 29 Januari 2020 di Mushalla Talangsari, dusun Subing Putra III, Lampung.

Selain itu, PK2TL juga mengadakan Studi Banding ke Kelompok Perempuan Rajabasa Lama untuk mempelajari Kain Tapis pada 27 Februari 2020 di Sanggar Tapis Jejama. Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sudi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam. Studi banding ini penting dilakukan mengingat bahwa Sanggar Tapir Jejama sering menjadi rujukan untuk pameran Tapis di berbagai kesempatan sehingga komunitas bisa banyak hal tentang Kain Tapis.

PK2TL juga mengadakan audiensi ke Audiensi ke Dinas Sosial Kab. Lampung Timur pada 6 Maret 2020 untuk untuk membahas percepatan pemulihan terhadap keluarga dan korban Talangsari yang ada di Lampung Timur. Adapun beberapa hal bantuan sosial di Dinas Sosial yang harus ditindaklanjuti yaitu:

  • Bantuan sosial untuk pengembangan kearifan lokal di daerah yang pernah terjadi konflik sosial (pengadaan alat untuk kesenian atau kebudayaan);
  • Bermacam-macam bantuan untuk kelompok usaha warga;
  • Bantuan BPJS-PBI yang bekerjasama antara Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan pihak BPJS bagi keluarga korban dan warga dusun Talangsari yang belum mendapat KIS.

Pundi Insani adalah wadah penggalangan dana untuk pemulihan serta pemberdayaan korban pelanggaran HAM. Saat ini, Pundi Insani didukung oleh Program Peduli, yang bertujuan mewujudkan gerakan inklusi sosial untuk mendorong masyarakat untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari.

FGD Perwali Lansia Surakarta dan MoU Buku Hijau bersama LPSK

Sekber 65 melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk diseminasi Perwali Kesejahteraan Sosial Lansia Kota Surakarta 12 Februari 2020. FGD ini dihadiri oleh OPD dan Komda Lansia serta Paguyuban Lansia di Surakarta dan perwakilan Ketoprak Srawung Bersama. FGD ini bertujuan untuk mewujudkan Perwali Baru tentang Kesejahteraan Lansia di Surakarta, khususnya lansia yang terdiskriminasi setelah munculnya Perda No. 4 Th 2019 tentang Penyelenggaraan Lansia di Surakarta.

Selain itu, Sekber 65 bekerja sama dengan LPSK telah menekan MoU untuk memberikan fasilitas bantuan medis dan psikologis untuk berobat gratis di RSUD Moewardi dengan mekanisme buku hijau dan dengan rujukan berjenjang menggunakan mekanisme BPJS. Serta memberikan uang kerohiman/santunan kematian bagi korban yang masih terlindung.

Sayangnya, dengan adanya pandemic Covid-19, anggota SekBer’65 tidak bisa berobat di rumah sakit Moewardi, karena rumah sakit ini adalah rujukan penanganan virus corona. Sebagai akibatnya, meskipun dalam kondisi sakit dan memegang buku hijau untuk berobat gratis, korban tidak bisa berobat. Pundi Insani adalah wadah penggalangan dana untuk pemulihan serta pemberdayaan korban pelanggaran HAM. Saat ini, Pundi Insani didukung oleh Program Peduli, yang bertujuan mewujudkan gerakan inklusi sosial untuk mendorong masyarakat untuk bertindak setara-semartabat dalam kehidupan sehari-hari.