Gerakan Kolaborasi untuk Keadilan Iklim, Menemukan Harapan di Tengah Perubahan Iklim

Pernahkah kamu berpikir bagaimana masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil menghadapi dampak perubahan iklim? Mereka yang tidak menjadi penyebab utama krisis ini justru menanggung beban paling berat. Namun, di tengah kesulitan itu, muncul inisiatif inspiratif dari berbagai pihak yang berjuang membawa keadilan iklim bagi mereka yang paling rentan.

Dalam keresahan itu, sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dalam menghadapi tantangan perubahan iklim terutama di tengah komunitas masyarakat rentan, IKa terlibat aktif dalam Program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” yang juga dikenal sebagai Program Kolaborasi Multipihak untuk Keadilan Iklim. Program ini merupakan bagian dari Pundi Hijau, sebuah inisiatif inti IKa yang bertujuan mendukung komunitas akar rumput menuju masa depan yang adil dan berkelanjutan.

Melalui program ini, IKa berfokus membangun kolaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan kesepahaman bersama tentang keadilan iklim. Ini bukan hanya tentang mengatasi dampak perubahan iklim, tetapi juga memastikan manfaat adaptasi dan mitigasi dirasakan secara adil oleh masyarakat yang paling terdampak.

Keadilan Iklim dan Dukungan IKa

Perubahan iklim adalah masalah global, tetapi dampaknya dirasakan secara tidak merata. Masyarakat di tingkat akar rumput sering kali menghadapi ancaman seperti kelangkaan sumber daya, gangguan ekosistem, dan bencana alam yang semakin sering terjadi. Padahal, mereka bukan kontributor utama emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim. Keadilan iklim bertujuan untuk memastikan bahwa mereka yang paling rentan mendapat dukungan yang layak. Ini termasuk pendekatan yang adil dalam mengurangi risiko, mendukung adaptasi, dan mengadvokasi perubahan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Salah satu cara IKa mendukung keadilan iklim adalah melalui hibah Pundi Hijau, yang mengembangkan keterhubungan antar komunitas dan mendukung berbagai inisiatif solusi yang telah dikembangkan di tapak. Sejak 2023, program ini fokus pada inisiatif yang berkaitan dengan keadilan iklim di komunitas tapak dengan fokus tema tertentu. Tahun 2024, tema utama yang diusung adalah kedaulatan pangan dan kesehatan, dua elemen kunci dalam menghadapi perubahan iklim. Hibah diberikan kepada sejumlah mitra komunitas dari berbagai daerah di Indonesia, dimana masing-masing mitra membawa pendekatan unik yang sesuai dengan kebutuhan lokal. 

Selain itu, IKa juga mengembangkan jaringan komunikasi dengan belasan gerakan di komunitas tapak lainnya, dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jaringan ini diharapkan dapat saling bertukar informasi terkini kondisi yang dihadapi masyarakat tapak, dan juga upaya-upaya solusi dan mitigasi yang dilaksanakan oleh masyarakat. 

Dampak yang Lebih Luas

Melalui program ini, IKa tidak hanya mendukung komunitas lokal, tetapi juga menciptakan sumber referensi dan pengetahuan yang dapat digunakan oleh berbagai pihak. Informasi dari program ini diharapkan bisa memandu perubahan transformatif dalam kebijakan dan praktik keadilan iklim di Indonesia. Karena keadilan iklim adalah tanggung jawab bersama, IKa juga mendorong keterlibatan semua pemangku kepentingan di tengah masyarakat, termasuk juga kaum muda. Kamu bisa mendukung gerakan ini antara lain dengan:

  • Meningkatkan kesadaran tentang keadilan iklim di komunitasmu.
  • Mendukung inisiatif lokal yang berfokus pada keberlanjutan.
  • Mengadvokasi perubahan kebijakan yang mendukung keadilan iklim.

Yuk. Bersama-sama kita bisa menciptakan masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat untuk semua. Mari menjadi bagian dari gerakan ini dan tunjukkan bahwa perubahan itu mungkin!

Komunitas Muda Berdaya: Dari Aksi ke Transformasi

Indonesia saat ini sedang mendapatkan bonus sumber daya manusia usia muda atau disebut dengan istilah bonus demografi. Istilah ini mengacu pada kondisi di mana proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk non-produktif. Bonus demografi memberikan peluang besar bagi Orang Muda untuk berperan aktif dalam berbagai aspek pembangunan. Orang Muda adalah agen perubahan yang dapat membawa dampak signifikan melalui inovasi, kreativitas, dan semangat mereka. Peranan orang muda dianggap penting karena dengan langkah yang strategis yang diambil sejak saat ini akan bermanfaat bagi kehidupan orang muda saat ini dan generasi selanjutnya di masa mendata

Sebagai organisasi sumber daya bagi masyarakat sipil, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) membawa visi mempromosikan kehidupan yang adil, bermartabat, dan sejahtera untuk semua, berlandaskan hak asasi manusia, demokrasi, dan kelestarian alam. Orang Muda adalah salah satu fokus perhatian dukungan IKa sejak tahun 2022. Bersama Asian Community Trust,  IKa mendorong inisiatif-inisiatif  baik dari komunitas orang muda sehingga dalam kurun waktu 2022-2024 berhasil mendukung  17 komunitas dalam bentuk hibah untuk Komunitas Muda Berdaya dan pengetahuan (capacity building). Komunitas-komunitas Muda ini bergerak dengan mengangkat isu-isu yang berakar pada konteks lokal masing-masing, sekaligus menjembatani keterkaitan yang kompleks antara berbagai isu, seperti lingkungan, HAM, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, komunitas muda memiliki peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan berkat pengetahuan lokal yang mereka miliki.

Komunitas Muda Berdaya tersebar di seluruh lndonesia, mulai dari ujung Barat: Komunitas Kompak, (Batam) Forest is Our Friend (Tangerang Selatan), Balad Kawit (Bandung), Youthfel Indonesia (Sleman) Tanah Tumbuh (Yogyakarta), Narasi Perempuan Sekolah Ekofeminisme(Banjarmasin), Wajah Literasi (Kapuas Hulu), Himba alam nusantara (Barito Kuala), Satu Dalam Perbedaan /SADAP(Pontianak), Sekolah Pesisi Juang (Mataram), Sikola Bajalan (Wakatobi), Rumah Bacarita Sejarah (Seram), Mangente Forest Rover Mangente (Ambon), Bio Natural (Ambon) Sekolah Mimpi (Kepulauan Aru), Komunitas Peduli Papua (Sorong), Suara Grina (Jayapura).

Kesempatan mengimplementasikan kegiatan yang sudah direncanakan secara lebih baik, kesempatan berjejaring lebih luas untuk kelanjutan organisasi serta tertib administrasi menjadi poin yang paling banyak muncul saat tim IKa berdiskusi secara online bersama tujuh Komunitas Muda Berdaya pada awal tahun 2025. Rumah Bacarita Sejarah, Komunitas Muda Berdaya dari Kab. Seram, mengatakan bahwa kegiatan penghijauan dan edukasi ke sekolah-sekolah terkait kegiatan penanaman yang mereka lakukan menjadi lebih terstruktur, dapat menjangkau dan melibatkan lebih masyarakat terutama edukasi yang mereka lakukan tidak melulu berbasis text-book namun juga berdasarkan pengalaman. Sementara itu Sekolah Pesisi Juang dari Kota Mataram bercerita bahwa sejak mendapatkan hibah Komunitas Muda Berdaya secara internal meningkatkan kepercayaan diri untuk mencoba mengirimkan proposal hibah untuk kegiatan organisasi dan lebih berani berkompetisi guna mendapatkan hibah tersebut.

Pemanfaatan hibah berlangsung bukan tanpa tantangan. Wajah Literasi, Komunitas Muda Berdaya dari Kab. Kapuas Hulu, bercerita tentang pengelolaan sumber daya berbasis relawan dan memiliki profesi berbeda seperti dokter dan peneliti sehingga dalam perencanaan kegiatan dan penjadwalan membutuhkan proses yang panjang untuk mengakomodir kebutuhan dan jadwal yang sesuai. Narasi Perempuan, Komunitas Muda  Berdaya berbasis di Banjarmasin, bercerita mengalami tantangan terkait kehadiran peserta yang tidak konsistensi hadir selama rangkaian workshop ekosistem lahan gambut. Tantangan lain yang dihadapi oleh komunitas yang menggunakan pendekatan eko-feminisme dalam kegiatannya adalah  lebih terkait manajemen keuangan organisasi

Keberlanjutan adalah satu hal yang menjadi poin juga mengemuka pada diskusi online ini. Komunitas Muda Berdaya yang menggunakan teknologi AI dalam memantau hutan Mangrove, Mangente Forest dari Ambon, berbagi bahwa melalui kegiatan pemanfaatan Hibah Muda Berdaya membuka kesempatan berjejaring untuk keberlanjutan organisasi.  Pihak CSR dari salah satu BUMN  serta lembaga akademik lokal menjadi jejaring yang membuka peluang untuk keberlanjutan organisasi baik dari sisi pendanaan dan ketrampilan di bidang teknologi.  Sementara itu Sekolah Mimpi, Komunitas Muda Berdaya dari Kepulauan Aru, setelah melakukan kegiatan yang mengajarkan anak-anak sekolah untuk melindungi lautan mereka dan hidup dalam harmoni dengan lingkungan selama pemanfaatan hibah, kemudian berhasil menggandeng sekolah menengah yang berada di wilayah dampingannya untuk mengadopsi kegiatan tersebut menjadi bagian dari Masa Orientasi Sekolah (MOS) setiap memasuki tahun ajaran baru. Selain itu, Sekolah Mimpi juga melibatkan masyarakat setempat, termasuk di dalamnya merangkul orang tua sehingga dapat bersama-sama membangun lingkungan yang lebih inklusif.

Dinamika yang diperoleh Komunitas Muda Berdaya selama masa pemanfaatan hibah, menjadi sebuah pembelajaran berharga bahwa inisiatif dari komunitas lokal merupakan modal berharga dalam menemukan solusi bagi berbagai isu yang terjadi di komunitas masing-masing. Dukungan yang diberikan IKa dan ACT menjadi katalis dan membuka peluang Komunitas Muda Berdaya untuk dapat beraksi untuk membawa transformasi bagi lingkungan sekitar. Lebih jauh lagi, keberlanjutan menjadi satu hal mungkin bagi Komunitas Muda Berdaya.

Mengenal Desa Pedawa: Kolaborasi Adat, Budaya, dan Alam

Tahun 2025 agaknya menjadi tahun yang tepat bagi Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) untuk melakukan banyak eksperimentasi di setiap kegiatan dalam rangka 30 tahun berkiprah. Di bulan Maret ini, IKa memperkenalkan inisiatif baru dalam penyelenggaraan Festival Orang Muda. Festival yang biasanya diadakan di Jakarta kali ini dipindahkan sejauh 1.100 km ke Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Menggandeng jaringan Yayasan Wisnu dan Komunitas Kayoman, festival ini berhasil melibatkan banyak orang muda serta kelompok dan komunitas lain yang memiliki visi serupa. Desa Pedawa sebagai lokasi festival merupakan salah satu desa adat tertua di Bali, yang letaknya berada pada 650 meter di atas permukaan laut. Menurut Bli Wayan, Ketua Komunitas Kayoman, desa ini memiliki bahasa yang unik dan berbeda dari dialek Bali pada umumnya, sehingga hanya masyarakat Pedawa yang bisa memahaminya.

Selain keunikan budaya dan tradisi, Desa Pedawa juga dikenal dengan mitos yang beredar di masyarakat kota. Bli Wayan Sukarta, selaku tetua adat Desa Pedawa, menceritakan bahwa banyak orang menganggap desa ini mistis dan menyeramkan. Letaknya yang jauh dari perkotaan dengan lika-liku perjalanan untuk bisa sampai kesana, membuat mitos tersebut kian santer di kalangan masyarakat awam Bali. Bahkan, seorang mahasiswa KKN bercerita bahwa temannya sempat bertanya, “Apa kamu tidak takut KKN di Desa Pedawa? Nanti nggak bisa pulang, lho!”.

Terlepas dari mitos-mitos tidak nyata itu, Desa Pedawa sebagai desa adat memiliki keswadayaan dengan mengandalkan iuran adat dari warga yang dikenal sebagai Krama Adat, seperti dalam pembangunan Pura. Keswadayaan ini tercermin dalam sistem sosial yang mengedepankan otoritas pengelolaan desa secara tradisional dengan prinsip ‘tata lilungguh‘, yakni prinsip yang menekankan pentingnya perilaku yang selaras dengan aturan adat untuk mencapai keharmonisan dan keseimbangan. Namun, prinsip tersebut bukan berarti bahwa Desa Pedawa tidak  berpaku terhadap peraturan negara, Desa Pedawa sebagai desa dinas juga menjalankan tata kelola yang diharuskan oleh NKRI.

Desa Pedawa merupakan desa yang mempunyai banyak sumber daya yang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah pemanfaatan air dalam kehidupan sehari-hari yang sejalan dengan tema Festival Orang Muda Berdaya tahun ini. Hasil kajian dari Sekolah Adat Manik Empul memperlihatkan keberadaan 33 jenis air yang dimiliki oleh Desa Pedawa dan masing-masing memiliki kegunaannya tersendiri. Oleh karena itu, air memiliki peranan mendasar dalam kebutuhan ritual keagamaan yang merepresentasikan manusia dan alam. Sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui, seringkali kita lupa bahwa suatu hari air yang kita anggap tak terbatas bisa saja habis jika tidak ada yang menjaga.

Pemuda Komunitas Kayoman (Sumber: Dokumentasi IKa, 2025)

Atas dasar keberlangsungan hidup bagi anak cucu, orang-orang muda yang mewarisi konsep Gama Tirta dalam tradisi Bali Aga, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga sumber air yang sangat penting bagi spiritualitas dan kehidupan mereka. Konsep pelestarian air yang tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi melibatkan kawasan dari hulu (Catur Desa) hingga hilir (Panca Desa Bali Aga), memberi kesempatan bagi pemuda untuk berinteraksi dan berdiskusi dalam acara “rembug”. Acara ini bertujuan memperkuat kerjasama antar desa dan memperkokoh semangat konservasi air di kalangan generasi muda.

Festival Orang Muda Berdaya: Merawat Air, Menjaga Kehidupan Suara Anak Muda dari Hulu ke Hilir

Festival Orang Muda Berdaya bukan sekadar perayaan, melainkan ruang bertemunya gagasan dan aksi nyata para pemuda dalam menjaga lingkungan, khususnya konservasi air. Di tengah semangat gotong royong dan kebersamaan, festival ini menjadi ajang berbagi inspirasi, berkolaborasi, dan memperkuat komitmen terhadap kelestarian alam.

Pada siang itu 14 Maret, kami melakukan perjalanan ke Desa Pedawa; dimana desa ini menjadi tempat untuk diselenggarakannya festival; kami tiba di lokasi sore hari. Festival Orang Muda Berdaya merupakan kelanjutan dari Festival Wiradewari yang sebelumnya diselenggarakan di Jakarta. Acara puncak festival berlangsung pada 15 Maret 2025 di Wantilan Desa Pedawa, Banjar Dinas Desa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

Acara ini diselenggarakan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bekerja sama dengan Yayasan Wisnu, Komunitas Kayoman, dan Sekolah Adat Manik Empul, dengan dukungan dari Asian Community Trust (ACT). Festival ini menjadi ruang bagi orang muda untuk bertukar pikiran dan memperkuat komitmen konservasi serta revitalisasi air.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai komunitas, termasuk kawasan hulu (Catur Desa), penyangga (Panca Desa Bali Aga), serta komunitas muda hilir. Selain secara luring, festival ini juga berlangsung dalam format hybrid dengan partisipasi komunitas penerima hibah Muda Berdaya seperti Sekolah Pesisi Juang, Rumah Bacarita Sejarah, Mangente Forest, Himba Alam Nusantara, Wahana Jelajah Literasi, SADAP Indonesia, Sekolah Mimpi, Narasi Perempuan, Bio Natural, Youthfel Indonesia, dan Fiof.

Acara ini dihadiri sekitar 85 peserta dengan latar belakang beragam, mulai dari pemuda desa, siswa SMP dan SMA, mahasiswa, ketua adat, hingga aparat desa. Festival berlangsung dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA, diawali dengan pembakaran dupa/sesaji sebagai simbol doa agar acara berjalan lancar.

Tahun ini tema yang diusung adalah “GERAKAN PEMUDA HULU UNTUK KONSERVASI AIR” dengan subtema “Aksi Nyata Pemuda Hulu dalam Pelestarian Lingkungan dan Konservasi Mata Air.” Air memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat Bali, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun ritual spiritual, terutama dalam konsep Gama Tirta di desa-desa Bali Aga. Relasi erat antara manusia dan lingkungan tercermin dalam berbagai tradisi dan ritual yang selalu melibatkan air suci.

Bali sendiri memiliki sumber air yang melimpah berasal dari empat danau yakni Batur, Buyan, Tamblingan dan Beratan, serta memiliki banyak gunung antara lain Gunung Agung, Abang dan lainnya. Gunung-gunung yang memiliki hutan lebat merupakan sumber kehidupan dengan mata air yang banyak. Kekayaan alam membuat masyarakat Bali memungkinkan mendapatkan kehidupan yang tenteram karena penduduk bisa mengelola lahan dengan air yang memadai. Semua itu dapat terwujud oleh kearifan lokal masyarakat. Putu Yuli Supriyandana (narasumber).

Dari hal tersebut, kita tau mengapa pentingnya perlu menjaga air, selain menjaga kita juga harus mengupayakan bahwa mengelola sampah juga penting karena sampah yang belum dikelola dengan baik akan membuat air tercemar, belum lagi Bali menjadi destinasi turis asing maupun lokal yang dimana semakin banyak orang akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.

Untuk itu Sita Supomo, Direktur IKa, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga lingkungan dengan mengelola sampah, melindungi sumber air, serta menjaga sungai dari pencemaran. Sementara itu, Gede Patra Santika, ketua panitia, menyoroti peran anak muda dalam menghadapi krisis air dan pentingnya konservasi.

Kami kagum dengan semangat peserta festival. Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik seperti tarian Sekar Jagat, berbagi cerita gerakan pemuda hulu oleh Ketut Santi Adnyana dan Putu Yuli Supariyandana serta musik oleh BRASTI, serta testimoni dari komunitas Muda Berdaya tentang produk dan inisiatif mereka serta testimoni dari komunitas Muda Berdaya tentang produk dan inisiatif mereka yang diwakili oleh Sekolah Pesisi Juang, Rumah Bacarita, serta Youthfel, termasuk keripik tenggiri dan produk lokal lainnya. Selain itu, ada sesi inspiratif bersama Bu Jro Jemiwi, seorang life coach dan NLP Trainer yang ditemani oleh I Wayan Sadyana sebagai penanggap, yang membahas pentingnya mencintai diri sendiri.

Menariknya, saat makan siang hujan deras turun, seolah mengingatkan kami pada tema festival: air. Namun, hujan berhenti tepat setelah acara selesai, seakan alam merestui pertemuan ini.

Peningkatan Kapasitas Komunitas Muda Berdaya: Semangat Muda, Penggerak Solusi Bangsa

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) sebagai organisasi sumber daya masyarakat sipil, mendorong inisiatif baik yang dilakukan komunitas orang muda melalui Hibah Komunitas Muda Berdaya, yang didukung Asian Community Trust (ACT Japan). Dalam pelaksanaannya, IKa mengaplikasian pendekatan Participatory Grant Making, yang mengedepankan partisipasi pemrakarsa muda untuk memperkuat kapasitas dan kemampuan memanfaatkan sumber daya mereka sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing komunitas. 

Untuk memperkuat kapasitas sumber daya komunitas muda, khususnya dalam semangat catur daya (dana, pengetahuan, jejaring, dan kerelawanan), IKa menyelenggarakan 5 seri Peningkatan Kapasitas bagi Komunitas Muda Berdaya, sebagai sarana menggerakkan generasi muda, juga membangun rasa solidaritas dan kebersamaan di kalangan orang muda.

Pemrakarsa Hibah Muda Berdaya tersebar seluruh Indonesia, dari pulau Sumatera hingga Papua. Isu yang didampingi komunitas juga beragam, dengan konteks yang merumput setiap wilayahnya. Untuk menghadapi hal ini, IKa memanfaatkan platform daring untuk tetap menjalankan kegiatan Peningkatan Kapasitas bagi Komunitas Muda Berdaya ini agar berjalan interaktif, partisipatif dan inklusif lintas-isu lintas-komunitas. 

Berdasarkan polling bersama pemrakarsa komunitas muda berdaya, isu HAM dan lingkungan menjadi prioritas utama. Materi masing-masing topik dilakukan dalam 2 pertemuan; dengan pertemuan pertama untuk pengenalan isu. Pengenalan Isu HAM dengan pemateri Alif Nurwidiastomo dari YLBHI Jakarta, dan Pengenalan Isu Lingkungan dengan pemateri Ahmad Baihaqi dari Belantara Foundation. Sementara itu pertemuan kedua tentang pengorganisasian terkait isu , yaitu pengorganisasian untuk isu HAM dengan pemateri Daniel Winarta dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, dan pengorganisasian untuk isu Lingkungan dengan pemateri Ahmad Baihaqi dari Belantara Foundation. Selanjutnya, dengan semangat memastikan keberlangsungan komunitas, IKa mengintegrasikan dua isu tersebut dengan materi tentang Tata Kelola Program dengan pemateri Ririn Habsari dari REMDEC. Masing-masing pemateri adalah profesional dalam isu HAM, lingkungan dan manajemen administrasi organisasi. YLBHI sebagai lembaga yang konsisten memperjuangkan penegakan hukum, HAM, dan gerakan pro-demokrasi; Belantara Foundation sebagai lembaga yang bergerak dalam upaya konservasi skala luas sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat; dan REMDEC sebagai konsultan spesialis Organisasi Sipil Masyarakat (OMS).

Benang merah dalam Sesi Peningkatan Kapasitas ini adalah untuk menginisiasi penyadaran sosial orang muda, dimulai dari individu kemudian berkembang ke tingkat komunitas, dan memerlukan pengorganisasian yang solid untuk mengatasi berbagai tantangan. Utamanya, tantangan yang merumput memerlukan pemecahan masalah yang kontekstual terhadap siapa yang didampingi. Proses ini melibatkan strategi jangka pendek dan panjang, dengan pendekatan berbasis komunitas. 

Pendekatan akan berbeda, karena berdasarkan konteks lokal yang berbeda. Misalnya dalam hal perizinan dan mengorganisir kegiatan: Rumah Bacarita Sejarah (Kota Sirih, Maluku) yang kegiatannya banyak melibatkan anak-anak. Dalam pengorganisasiannya, Rumah Bacarita Sejarah memilih menggunakan inkorporasi budaya lokal, seperti dengan mengaitkan dengan kegiatan olahraga. Berbeda dengan Youthfel Indonesia (Sleman, Yogyakarta), yang salah satu kegiatannya berbentuk edukasi ke anak usia Sekolah Dasar. Pengorganisasian yang mereka lakukan juga mengintegrasikan budaya lokal, tetapi dalam konteks Jogja yang banyak seniman, dengan kegiatan yang berbentuk Artivism (gabungkan antara seni dengan aktivisme).

Komunitas muda sering menghadapi kendala seperti jumlah anggota yang terbatas, keterbatasan waktu, dan rendahnya tingkat keterlibatan dalam kegiatan berbasis kerelawanan. Namun, di level komunitas, orang muda perlu sadar bahwa semua individu memiliki peran dalam proses check and balance agar kebijakan lokal tidak hanya berbasis perhitungan finansial, tetapi juga pro-lingkungan dan bersifat berkelanjutan. Kekuatan individu inilah yang perlu diorganisir menjadi suara komunitas.

Untuk lebih memperkuat kapasitas komunitas muda, pengembangan melalui ruang belajar seperti Peningkatan Kapasitas ini sangat penting. Dengan bertambahnya pemahaman tentang isu dan kemampuan tentang tata kelola program dan organisasi, mereka semakin matang dalam menghadapi tantangan yang merumput di komunitas masing-masing dan diharapkan bisa berkolaborasi lintas-isu, lintas-komunitas, untuk mencapai tujuan yang lebih besar di masa depan.

Hibah Komunitas Muda Berdaya: Ajak Orang Muda Bawa Perubahan di Komunitasnya

Orang muda adalah harapan bagi masa depan Indonesia, terlebih lagi di tengah gencarnya fokus pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini berdampak positif pada banyaknya keterlibatan orang muda dalam menyuarakan kegelisahannya dan aktivismenya, baik secara pribadi ataupun dengan dukungan pemerintah, NGO, maupun Perusahaan. Sayangnya di tengah semaraknya pelibatan orang muda, beberapa orang muda masih merasa tidak memiliki ruang yang optimal dan pelibatan mereka hanya sekadar selebrasi tanpa makna. Belum lagi ketimpangan sosial ekonomi yang masih menjadi PR utama di Indonesia.

Indonesia untuk Kemanusiaan sebagai Organisasi Sumber Daya Masyarakat Sipil (OSMS) mencoba mengembangkan Program Orang Muda. Hal ini sejalan dengan visinya, Masyarakat yang berdaya dalam memperjuangkan kehidupan yang adil, bermartabat dan sejahtera bagi semua sebagai tanggung jawab bersama untuk pemenuhan HAM dan kelestarian alam. Program Orang Muda IKa mengoptimalkan kepemimpinan orang muda di komunitasnya dengan dukungan Asian Community Trust Jepang melalui Hibah Komunitas Muda Berdaya.

Hibah diberikan kepada komunitas terpilih melalui seleksi proposal. Pada 2023, IKa memberikan hibah kepada delapan komunitas yaitu Sikola Bajalan, Balad Kawit Seja, Forest is Our Friends, Youthfel Indonesia, Komunitas Peduli Papua, Tanah Tumbuh, Suara Grina, dan KOMPAK Batam. Lalu pada 2024, IKa memberikan hibah kepada sepuluh komunitas muda yaitu Himba Alam Nusantara, Sekolah Mimpi, Narasi Perempuan, SADAP Indonesia, Rumah Bacarita Sejarah, Bio Natural, Wahana Jelajah Literasi, Sekolah Pesisi Juang, Mangente Forest dan Kader Hijau Muhammadiyah. Meskipun pada prosesnya, Kader Hijau Muhammadiyah mengundurkan diri.

IKa fokus menguatkan catur daya (dana, jaringan, pengetahuan, dan kerelawanan) pada komunitas muda penerima hibah. IKa mengadakan Kick Off Meeting pada penerima hibah untuk memberikan pemahaman bagaimana pengelolaan dana hibah, khususnya terkait pelaporan narasi dan keuangan. Hal ini tentu menjadi bekal bagi teman-teman komunitas untuk memperkuat akuntabilitas komunitasnya. Selain itu, mereka juga mendapatkan peningkatan kapasitas melalui workshop dan penguatan jaringan melalui Community of Practice.

Rakha Katresna, pendiri Balad Kawit Seja, komunitas yang mengupayakan pengelolaan wawasan komunitas berbasis kearifan lokal dan aplikasinya dalam kehidupan berterima kasih dan mengapresiasi program hibah bagi komunitas orang muda yang digalang IKa. Menurutnya, hal ini merupakan dukungan yang sangat berarti dan jarang ada lembaga yang memberikan kepercayaan pendanaan bagi komunitas orang muda untuk mereka membawa perubahan bagi komunitas mereka.

Natal: Kasih dan Harapan Si Mbah

Natal adalah momen untuk berbagi kasih dan kepedulian dalam tindakan nyata. Dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), kami mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada para donatur atas dukungan mereka yang tiada henti bagi Si Mbah Penyintas ’65—para penyintas tragedi 1965 yang kini telah lanjut usia. Berkat donasi yang diberikan, kami dapat menyalurkan 97 paket bantuan dan santunan tunai kepada Si Mbah di Banyumas, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Banyak dari Si Mbah Penyintas ’65, yang kini berada di usia senja, masih menanggung luka ketidakadilan negara yang mereka alami saat muda. Di Banyumas, mereka membentuk komunitas “Paguyuban 10 November”, di mana mereka berkumpul setiap bulan secara bergantian di rumah-rumah anggota atau di warung kopi milik para sponsor dan mentor mereka. Pertemuan ini menjadi ruang terapi emosional, tempat mereka bernyanyi, menari, dan berbagi kisah—menemukan ketenangan dan kekuatan dalam kebersamaan. Untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, komunitas ini juga mendirikan Koperasi Simpan-Pinjam.

Kunjungan kami ke Si Mbah saat Natal membawa banyak momen haru. Saat menyerahkan hadiah Natal, banyak dari mereka mengenang masa lalu seolah baru terjadi kemarin. Beberapa berbagi cerita tentang bagaimana keluarga mereka dijauhi, diusir dari lingkungan, dan dilarang bersekolah. Didera emosi yang mendalam, beberapa di antara mereka menangis dan tidak mampu menyelesaikan cerita mereka.

Salah satu Si Mbah, seorang perempuan yang hingga kini belum menikah, berbagi bagaimana stigma masa lalu telah merampas masa depan yang pernah ia impikan. Tunangannya saat itu, seperti banyak orang lain, menolak menikahinya dan berkata:

“Kamu seorang komunis, seorang kriminal, dari keluarga yang tercela. Aku tidak ingin berhubungan denganmu atau keluargamu.”

Kata-kata itu tertanam dalam ingatannya, menjadi luka yang terlalu dalam untuk sembuh—sebuah trauma yang membuatnya memilih untuk menjalani hidup dalam kesendirian.

Namun, di antara kepedihan, ada pula momen kebahagiaan dan rasa syukur. Si Mbah Sanjan, salah satu penyintas, mengungkapkan keterkejutannya sekaligus rasa terima kasihnya saat menerima bantuan Natal:

“Terima kasih kepada Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan para donatur yang peduli kepada saya. Saya tak menyangka ada yang mau berdonasi, memperhatikan, bahkan mengunjungi kami. Biasanya, yang datang menemui kami hanya LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). IKa, semoga terus maju dalam perjuangan kemanusiaan. Saya sungguh heran bahwa yang membantu kami justru pekerja biasa—orang-orang dengan gaji UMR—bukan pemerintah yang katanya kaya.”

Di tengah semangat berbagi, IKa turut berduka atas berpulangnya salah satu Si Mbah yang menerima bantuan Natal, hanya beberapa minggu kemudian, pada 21 Januari. Saat kami mengunjungi beliau, ia berkali-kali mengungkapkan keterkejutan dan rasa syukur bahwa ada orang yang masih peduli padanya. Kata-kata terima kasihnya kini menjadi kenangan yang mengingatkan kami betapa berharganya tindakan kecil kepedulian bagi mereka yang telah lama dilupakan.

Kami sadar bahwa tak ada bantuan yang bisa sepenuhnya menyembuhkan luka masa lalu Si Mbah. Namun, komitmen kami terhadap kemanusiaan dan keadilan akan terus berjalan, memastikan mereka mendapatkan dukungan, martabat, dan pengakuan yang layak. Dengan kedermawanan para donatur, dukungan dari platform GlobalGiving, serta kolaborasi dengan berbagai mitra, kami akan terus mendampingi Si Mbah Penyintas ’65.

Saat kita merenungkan makna Natal, mari kita terus menyalakan semangat solidaritas—menyebarkan kasih sayang bukan hanya di momen Natal, tetapi juga dalam setiap kesempatan berbagi kemanusiaan. Jangan biarkan ketidakpedulian memadamkan cahaya keteguhan hati Si Mbah atau membuat perjuangan mereka sia-sia.

Call for Proposal Pundi Perempuan Termin I 2025

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan membuka kesempatan pengajuan Hibah Pundi Perempuan bagi komunitas/organisasi masyarakat sipil yang memberikan layanan dan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan di Indonesia. 

Untuk itu, kami mengundang komunitas/organisasi untuk mengajukan proposal Hibah Pundi Perempuan termin pertama I di tahun 2025 dengan dana hibah maksimal sebesar Rp 25.000.000, – (Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Dana hibah ini dapat digunakan untuk mendanai pendampingan hukum dan pemulihan psikososial.

Kriteria Penerima Dana Hibah Pundi Perempuan: 

1. Komunitas/organisasi masyarakat sipil (khususnya Lembaga Pengada Layanan/Women Crisis Center).

2. Menyediakan layanan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan, minimal 5 kasus perbulan dan melibatkan orang muda dalam kegiatan layanannya.

3. Tidak sedang menerima dana bantuan program baik dari pemerintah maupun lembaga donor lainnya.

4. Memiliki sistem kerja yang menjamin adanya akuntabilitas dan diharapkan dapat menunjukkan kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan dan keuangan dengan baik.

5.Diutamakan memiliki rumah aman bagi perempuan korban kekerasan.

6. Menyertakan dua nama referensi beserta kontak yang dapat dihubungi dalam proposal.

Mekanisme Pelaksanaan Penyaluran Hibah Pundi Perempuan:

1. Komunitas/organisasi mengajukan proposal melalui tautan berikut https://s.id/CallforProposalPP2025

2. Komunitas/organisasi dapat mengajukan proposal narasi dan anggaran untuk kegiatan selama 6 bulan untuk periode Maret 2025 – Agustus 2025.

3. Batas pengajuan proposal hibah Pundi Perempuan pada tanggal 20 Februari 2025.

4. Proposal akan diseleksi oleh panitia pengarah Pundi Perempuan, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan.

5. Pengumuman penerima hibah Pundi Perempuan akan dilakukan pada bulan Maret 2025 di media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan penerima hibah akan menerima email konfirmasi.

6. Komunitas/organisasi terpilih bersedia mengirimkan cerita-cerita lapangan, laporan narasi kegiatan dan keuangan, beserta informasi pendukung lainnya.

Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Perempuan, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan.

*Klik link di bawah ini untuk pengisian proposal naratif dan template anggaran secara online:

Call for Proposal Pundi Hijau

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) membuka kesempatan pengajuan Hibah Pundi Hijau bagi komunitas/organisasi untuk mendukung gerakan masyarakat di akar rumput di Indonesia yang berupaya mewujudkan keadilan iklim.

Untuk itu, kami mengundang komunitas/organisasi untuk mengajukan proposal Hibah Pundi Hijau di tahun 2025 dengan dana hibah maksimal sebesar Rp 30.000.000, – (Tiga Puluh Juta Rupiah). Dana hibah ini dapat digunakan untuk mendanai kerja-kerja perubahan iklim dalam konteks kedaulatan pangan air dan energi.

Kriteria Penerima Hibah Pundi Hijau:

1. Organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal.

2. Memiliki rekam jejak sebagai organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal yang berkecimpung pada isu perubahan iklim minimal 3 (tiga) tahun dan melibatkan perempuan serta orang muda dalam program kegiatannya.

3. Proposal yang diusulkan fokus pada isu ketahanan pangan, air dan energi.

4. Memiliki sistem kerja yang menjamin adanya akuntabilitas, dan kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan dan keuangan dengan baik.

5. Menyertakan 2 (dua) nama referensi beserta kontak yang dapat dihubungi dalam proposal.

6. Bersedia menggunakan aplikasi INCLINE dalam kegiatannya dan secara rutin melakukan pembaharuan (update) data.

Mekanisme Pelaksanaan Penyaluran Hibah Pundi Hijau:

1. Organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal mengajukan proposal melalui tautan berikut https://s.id/HibahPH2025

2. Organisasi/kelompok/komunitas masyarakat lokal dapat mengajukan proposal narasi dan anggaran untuk kegiatan selama 6 bulan untuk periode 1 Maret 2025 – 31 Agustus 2025.

3. Proposal akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Hijau dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

4. Pengumuman penerima Hibah Pundi Hijau akan disampaikan akhir Februari 2025 melalui media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), dan penerima akan mendapatkan konfirmasi via email.

5. Batas pengajuan proposal hibah Pundi Hijau: 17 Februari 2025.

Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Hijau dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

*Klik link di bawah ini untuk pengisian proposal naratif dan template anggaran secara online:

Donasi Bingkisan Natal Si Mbah

Setiap Natal adalah momen berbagi kasih yang dirayakan.

Dalam rangka berbagi Bingkisan Natal untuk Simbah pada tanggal 29 November – 20 Desember 2024, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) menggalang donasi melalui Pundi Insani.

Donasi berhasil terkumpul sebesar Rp67.007.100. dari 11 donatur dan telah didistribusikan pada 23-30 Desember kepada 97 Si Mbah di wilayah Banyumas, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan NTT.

Terima kasih telah memberikan kehangatan Natal yang berkesan di hati para Si Mbah Lansia.

Salam damai Natal di bumi manusia.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!