Melakukan identifikasi pola-pola penggalangan dana, pengetahuan , kerelawanan dan jaringan sosial untuk pengembangan sumber daya Pundi Hijau
Menyiapkan rencana kerja operasional (work plan) dan anggaran kegiatan atau program di lingkup Pundi Hijau dengan capaian target penggalangan daya.
Bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan atau program Pundi Hijau sesuai ketentuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan strategis IKa sesuai visi dan misi IKa.
Memberikan pelayanan, asistensi, dan penguatan kapasitas kepada organisasi mitra dalam bidang penggalangan dan pengelolaan sumber daya sesuai yang mereka butuhkan.
Mengembangkan kerja sama dan kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka penggalangan sumber daya sesuai model kerja IKa (komunitas pemberdaya).
Mengkoordinasikan tercapainya kegiatan pemantauan dan evaluasi atas program/kegiatan Pundi HIjau untuk memastikan adanya pembelajaran yang transformatif dan berkelanjutan.
Mengedepankan kerja tim (teamwork) di dalam divisi pengembangan sumber daya dan lintas divisi di dalam lembaga IKa.
Menyusun laporan-laporan kegiatan/program yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab program/kegiatan Pundi Hijau bagi pengembangan dan pembelajaran yang berkelanjutan.
Kualifikasi:
Lulus S1 dengan pengalaman bekerja di LSM minimal 3 tahun
Memiliki wawasan dan pengetahuan mengenai lingkungan hidup, utamanya perubahan iklim.
Memiliki pemahaman manajemen organisasi dan manajemen program
Memiliki pengalaman dalam menjalankan program di LSM.
Lancar menggunakan program Microsoft office (Ms. Word, Ms. Excell, dan lainnya) dan aplikasi kerja online (Zoom, Teams, dll.).
Memiliki ketekunan, kedisiplinan, tanggung jawab dan loyalitas dalam menyelesaikan tugas.
Memiliki kepedulian dan wawasan ke-LSM-an serta transformasi sosial.
Memiliki kemampuan berkomunikasi, motivasi dan persuasi kepada orang lain yang berhubungan dengan bidang tugasnya.
Fasih berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Memiliki pengalaman bekerja dalam tim dengan beragam karakter.
Bagi calon pelamar yang berminat, silakan kirim surat lamaran, CV termasuk referensi (minimal 2 orang) dan gaji yang diharapkan ke email: sekretariat@indonesiauntukkemanusiaan.org, paling lambat tanggal 31 Agustus 2023.
Hanya pelamar yang memenuhi kualifikasi yang akan dihubungi.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan kembali membuka Hibah Pundi Perempuan. Hibah akan diberikan pada komunitas/organisasi masyarakat sipil yang memberikan layanan dan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan di Indonesia. Selanjutnya disebut dengan komunitas/organisasi.
Kami mengundang komunitas/organisasi untuk mengirimkan proposal yang akan masuk dalam proses seleksi penerimaan Hibah Pundi Perempuan termin I tahun 2023. Penerimaan proposal akan dilaksanakan pada tanggal 13 September tahun 2023.
Komunitas/organisasi yang terpilih akan memperoleh Hibah maksimal sebesar Rp 25.000.000, – (dua puluh lima juta rupiah) yang dapat digunakan untuk mendanai pendampingan hukum dan pemulihan psikososial (termasuk di dalamnya kegiatan diskusi berbagi pengetahuan untuk pemberdayaan ekonomi perempuan korban kekerasan).
Kriteria Penerima Dana Hibah Pundi Perempuan:
Komunitas/organisasi masyarakat sipil (spesifik kepada lembaga pengada layanan/WCC).
Memberi layanan bagi perempuan korban kekerasan, minimal 5 kasus perbulannya.
Tidak sedang menerima dana bantuan program baik dari pemerintah maupun lembaga donor lainnya.
Memiliki sistem kerja yang menjamin adanya akuntabilitas, dan diharapkan komunitas/organisasi dapat menunjukkan kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan dan keuangan dengan baik.
Diutamakan memiliki rumah aman bagi perempuan korban kekerasan.
Bersedia berkontribusi dalam mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan korban kekerasan melalui pengadaan diskusi, lokakarya, maupun pelatihan.
Menyertakan dua nama referensi beserta kontak yang dapat dihubungi dalam proposal.
Komunitas/organisasi yang mendapatkan hibah Pundi Perempuan akan diumumkan melalui email dan media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).
Komunitas/organisasi yang telah memasukkan proposal untuk mengakses hibah Pundi Perempuan akan diseleksi dan diputuskan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan.
Batas pengajuan proposal hibah Pundi Perempuan pada tanggal 13 September Tahun 2023.
Komunitas/organisasi diharapkan mengajukan proposal narasi dan anggaran untuk kegiatan selama 6 bulan periode Oktober 2023 – Maret 2024 sesuai dengan format proposal Pundi Perempuan.
Komunitas/organisasi terpilih bersedia mengirimkan cerita-cerita lapangan, laporan narasi kegiatan dan keuangan,beserta informasi pendukungnya.
Proposal yang masuk akan diseleksi oleh panitia pengarah dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan.
*Format proposal dan anggaran biaya dapat anda unduh pada link berikut:
Peer-learning Event #ShiftThePower oleh Global Fund for Community Foundations (GFCF) yang diselenggarakan di Tewa Center, Kathmandu Nepal pada bulan Mei 2023 dihadiri aktor filantropi dari berbagai negara.
Pertemuan peer-learning #ShiftThePower yang diselenggarakan oleh Global Fund for Community Foundations (GFCF) di Tewa Center, Kathmandu, Nepal pada Mei 2023, menjadi ajang berkumpulnya beragam aktor filantropi dari berbagai penjuru dunia. Tanpa saya duga, begitu saya melangkahkan kaki ke ruang yang penuh dinamika ini, timbul perjalanan mendalam menuju introspeksi dan telaah ketat mengenai dinamika kekuasaan dalam ranah filantropi. Diskusi dan wawasan yang dihasilkan menjadi pengalaman yang menantang pemikiran, mendorong saya untuk mengevaluasi pemahaman sebelumnya mengenai pentingnya organisasi semacam Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dalam kapasitas kami sebagai Organisasi Sumber Daya Masyarakat Sipil (OSMS).
Pertemuan ini memberikan pencerahan, memperlihatkan dinamika kekuasaan yang sering kali terabaikan dan tertanam kuat dalam organisasi perantara (intermediaries). Kami terdorong untuk mengurai dengan cermat kompleksitas ini – dan dengan penuh kesadaran mengevaluasi pengaruh kami terhadap komunitas yang kami layani. Kami merasa terpanggil untuk merenungkan apakah niat baik kami tanpa disadari memperkuat narasi yang menegasikan otonomi dan sumber daya komunitas lokal. Kini, jelas bagi saya bahwa kita harus menghapus stigmatisasi ini dan membina lingkungan di mana komunitas diakui sebagai agen perubahan aktif dan pengambil keputusan dalam pandangan mereka sendiri.
Dalam pertemuan, ditegaskan pentingnya mendepak dinamika ‘pemberi dan penerima’ sumber daya yang konvensional, serta merekonseptualisasikan kemitraan sebagai kolaborasi yang adil. Kita harus melepaskan kacamata yang sarat prasangka eksternal dan merangkul pendekatan yang lebih mengakar. Tak boleh lagi kita memaksakan solusi yang bersifat menggurui, tetapi harus berkomitmen untuk mendengarkan dengan aktif, beradaptasi, dan memberikan dukungan sejati.
Menjaga lokalitas dan kepemilikan lokal memang memiliki sejumlah tantangannya sendiri. Ini memerlukan rasa rendah hati dan dedikasi yang teguh untuk keterlibatan berkelanjutan. Namun, imbalannya sangatlah besar: lanskap filantropi yang adil dan berkelanjutan, yang memberdayakan komunitas untuk menjadi arsitek perkembangan mereka sendiri.
Seiring para peserta saling berbagi pengalaman dan wawasan, pemahaman bersama pun muncul – bahwa masyarakat sipil di wilayah selatan memiliki kapasitas luar biasa untuk menantang dan membentuk kerangka kerja berbasis otoritas dan solidaritas. Namun, untuk memahami gagasan ini, kita harus melampaui batasan ruang pertemuan konvensional dan berkomitmen untuk mewujudkan idealisme yang kita genggam. Terbatas dalam diskusi dan perumusan strategi saja tidak cukup; kita harus bersikap seperti gerakan.
Untuk mewujudkan esensi sebuah gerakan, kita harus melampaui partisipasi pasif. Untuk benar-benr membuat perbedaan, kita harus menunjukkan kemauan untuk keluar dari zona nyaman, menantang status quo, dan mengajak orang lain untuk bergabung dalam perjuangan kita menuju keadilan dan kesetaraan.
Sebagai warga Global Selatan, saya meyakini bahwa kita memiliki kewajiban yang khas untuk mendorong gerakan ini. Penting bagi kita untuk mengoptimlakna kekuatan kolektif kita, memanfaatkan kekayaan berbagai keahilan dan pengalaman untuk mendorong transformasi yang bermakna. Perubahan yang kita usahakan tidak diandalkan pada aktor atau institusi eksternal. Sebagai gantinya, kita harus beratnggung jawab atas trajektori kita sendiri dan menjadi agen transformasi dalam kapasitas kita masing-masing. Hal ini melibatkan memanfaatkan jaringan kita, baik daring maupun luring, membangun jaringan, bertukar sumber daya, dan memupuk kerja sama. Penting bagi kita untuk tak gentar menghadapi sistem dan struktur yang telah mengakar kuat dan mempertuasi ketidaksetaraan dan eksploitasi.
Kita bisa mengambil inspirasi dari sejarah yang telah membentuk dunia kita, dari perjuangan hak-hak sipil hingga perjuangan tak henti melawan kolonialisme dan penindasan sistemik. Gerakan-gerakan ini didorong oleh indiviu-individu biasa yang menolak tatanan yang ada dan berani membayangkan masa depan alternatif.
Pada akhirnya, fokus ini melampaui IKa atau lembaga lainnya. Ini mencakupi upaya kolaboratif yang melebihi batas geografis dan memberdayakan komunitas-komunitas yang kami berdedikasi untuk mendukung.
Kita harus terus berjalan bersama, menghadirkan perubahan yang berarti dan mengatasi tantangan bersama-sama. Kita menggengam tanggung jawab bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan inklusif bagi seluruh masyarakat.
Tidak satupun dari kita yang hanya menjadi peserta pasif dalam skema besar kehidupan; karena kita adalah katalis perubahan dan arsitek perkembangan kita sendiri.
Artikel ini merupakan tulisan reflektif dari kegiatan Peer-learning Event GFCF tentang gerakan #ShiftThePower. Tulisan ini juga tayang dalam Bahasa Inggris dan dapat diakses melalui website GFCF.
JAKARTA – Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), sebuah Organisasi Sumber Daya Masyarakat Sipil (OSMS) mempersembahkan Give Back Sale. Kegiatan penggalangan dana publik untuk program Pundi Perempuan ini akan berlangsung selama tiga hari, yakni Kamis (6/7) hingga Sabtu (8/7) di Ke:kini ruang bersama, Cikini, Jakarta Pusat.
Give Back Sale yang telah diprakarsai IKa sejak tahun 2016 berfungsi sebagai kegiatan menggalang dana dengan melibatkan partisipasi masyarakat, baik itu individu, komunitas, maupun lembaga atau perusahaan. Hasil penggalangan dana ini disalurkan untuk mendukung Lembaga Pengada Layanan atau Women’s Crisis Centers (WCC) yang memberikan pendampingan hukum dan pemulihan psikosial bagi perempuan terdampak Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Melalui donasi publik, barang-barang preloved seperti pakaian, tas, sepatu, aksesoris, hingga peralatan rumah tangga dikumpulkan, dikurasi, dan dijual kembali sebagai bentuk nyata partisipasi kolektif konkret dari masyarakat sipil untuk berkontribusi melawan KBG.
Give Back Sale mendorong dan menekankan pentingnya perilaku konsumsi berkesadaran berupa thrifting, sebagai alternatif cara mendukung WCC. Belanja barang preloved memang kini tengah naik daun sebagai praktik gaya hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, setiap barang yang dibeli di Give Back Sale mewakili donasi untuk mendukung WCC agar memungkinkan lembaga-lembaga pengada layanan terus melayani dan mendampingi perempuan korban KBG. Keberadaan Give Back Sale menjadi salah satu strategi penggalangan sumber daya publik, tidak hanya dari segi dana, tetapi juga pengetahuan dan kerelawanan dalam upaya menjagakeberlangsungan WCC.
“Keberadaan WCC seringkali hasil inisiatif dan solidaritas penyintas ataupun orang yang peduli dengan isu KBG. Tapi keberlanjutannya sering terkendala bentuk WCC yang tidak berbadan hukum. Hasil donasi publik dari Give Back Sale sangat membantu di situasi ini,” ujar Koordinator Program dan Penggalangan Sumber Daya Stella Anjani.
Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan di tahun 2022 dan 2023, tercatat lebih dari 400.000 kasus KBG yang menimpa perempuan. Ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk mendukung WCC. Tak sedikit lembaga pengada layanan yang menyediakan layanan krusial seperti konseling, bantuan hukum, dan tempat berlindung bagi para korban kekerasan dengan dana sukarela anggota. Ditambah dengan disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), diprediksi bahwa pengaduan ke WCC akan meningkat. Ini mengindikasikan lebih banyak sumber daya yang akan dibutuhkan oleh WCC.
Salah satu aspek penting dari Give Back Sale adalah keterlibatan “Penggalang” sumber daya IKa yang merupakan kelompok integral dari Komunitas Pemberdaya IKa. Individu-individu yang berdedikasi ini memainkan peran dalam GBS, menyumbangkan waktu, tenaga, dan keterampilan dari proses perencanaan hingga pelaksanaan. Singkatnya, Penggalang menjadi tulang punggung dari GBS yang memastikan seluruh rangkaian proses GBS berjalan lancar.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) didirikan pada tahun 1995 di masa tahun-tahun terakhir rezim otoriter Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun. Ketika itu gerakan pro-demokrasi mulai berkembang. Saat IKa didirikan, perannya ditujukan untuk mendukung gerakan pro-demokrasi melalui hibah kecil/mikro. IKa menyebut dirinya sebagai Civil Society Resource Organization (CSRO) dengan visinya dalam pemberdayaan masyarakat sipil yang memperjuangkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan sejahtera untuk semua, dalam kerangka hak asasi manusia dan kelestarian lingkungan. Program IKa mencakup isu-isu keadilan gender (Pundi Perempuan), hak asasi manusia (Pundi Insani), keragaman dan toleransi (Pundi Budaya), dan ketidakadilan pengelolaan ekosistem (Pundi Hijau) dengan ciri membangun kerja kolaboratif dengan organisasi masyarakat sipil dan komunitas terpinggirkan dari Aceh hingga Papua.
Pundi Perempuan adalah women’s fund (dana hibah perempuan) pertama di Indonesia yang hadir dalam merespon kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang semakin meningkat pelaporan kasus dari tahun ke tahun. Pundi Perempuan digagas oleh Komnas Perempuan pada tahun 2001, dan mulai tahun 2003 dikelola bersama IKa. Pundi Perempuan menghadirkan model hibah yang memberdayakan, sesuai dengan nilai-nilai perubahan sosial yang diharapkan. Pundi Perempuan melakukan penggalangan sumber daya publik khusus untuk mendukung Lembaga Pengada Layanan (Women’s Crisis Center/WCC) yang membantu perempuan dan anak korban kekerasan, perempuan pekerja kemanusiaan di situasi darurat, dan komunitas/organisasi perempuan di Indonesia. Hingga tahun 2022, Pundi Perempuan telah mendukung 132 WCC di Indonesia.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan kembali mengadakan Give Back Sale (GBS) Pundi Perempuan yang digelar secara offline.
Kami mengajak para sahabat IKa untuk berbelanja sambil berdonasi untuk membantu perempuan korban kekerasan di Indonesia.
Yuk ajak pasanganmu, sahabatmu, kerabatmu untuk turut belanja sambil berdonasi pada: Tanggal : 6 – 8 Juli 2023 Waktu : 10.00 – 20.00 WIB Tempat : IKa/Ke:Kini Ruang Bersama Jl.Cikini Raya 43-45 Menteng Jakarta Pusat
Give Back Sale merupakan sebuah acara galang dana melalui penjualan barang-barang pre-loved yang telah diselenggarakan sejak tahun 2016. Seluruh hasil donasi ini akan digunakan untuk membiayai kerja-kerja pemulihan perempuan korban kekerasan di Indonesia oleh lembaga pengada layanan/WCC.
Untuk info lebih lanjut hubungi nomor WhatsApp +62 813-8673-5816 (Admin IKa)
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui Pundi Budaya mempersembahkan “Ngulik Budaya: Batik Tulis sebagai Bentuk Keberagaman, Kelestarian, dan Kearifan Lokal”, sebuah diskusi budaya yang diadakan pada Jumat (14/4) silam. Diskusi ini dirancang oleh Humaira Sentosa, Prysafella Deviena, dan Tariska Salsabila, tiga mahasiswa Universitas Indonesia yang sedang melakukan praktikum di IKa. Ngulik Budaya dilaksanakan secara daring via Zoom dan menghadirkan Kwan Hwie Liong (William Kwan), Direktur Institut Pluralisme Indonesia (IPI) sekaligus pemerhati batik.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pembaharuan fokus untuk melestarikan batik tulis sebagai salah satu identitas budaya Indonesia. “Ngulik Budaya” hadir sebagai respon atas pergulatan batik tulis untuk tetap relevan hari ini. Pasalnya, batik tulis kini harus bersaing dengan tren fast fashion dan tuntutan industri akan metode produksi yang lebih cepat dan murah. William Kwan pun mengeksplorasi pelestarian batik tulis sebagai refleksi keberagaman dan signifikansinya dalam budaya Indonesia, khususnya di era modern ini.
William menjelaskan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki gaya batik yang unik, mencerminkan budaya lokal, sejarah, dan lingkungan alam. Penggunaan batik tidak terbatas pada pakaian, karena juga digunakan untuk berbagai keperluan, seperti dekorasi hingga ritual keagamaan. Motif batik dapat bervariasi dari desain geometris sederhana hingga adegan naratif yang kompleks, masing-masing dengan simbolisme dan maknanya sendiri.
Kesejahteraan pengrajin batik tulis memiliki kaitan yang erat dengan pelestarian batik tulis sebagai warisan budaya. Para pengrajin mewarisi tradisi dalam membuat desain batik dari para leluhur mereka. Mata pencaharian mereka pun bergantung pada kemampuan untuk terus mempraktekkan kerajinan ini. Munculnya tekstil yang diproduksi secara massal menjadi tantangan lainnya bagi para pengrajin batik tulis. Karenanya, keberlanjutan komunitas pengrajin batik tulis turut menjadi sorotan dalam diskusi budaya ini.
Namun, William menuturkan realitanya adalah kebanyakan pembatik tulis hanya menerima upah di angka puluhan ribu rupiah saja setiap bulannya. Ini tentu tak sebanding jika melihat bagaimana para pembatik tulis adalah pahlawan budaya yang berperan penting dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.
William melihat bahwa salah satu alasan minimnya upah pembatik tulis karena kurangnya riset untuk memahami permintaan dan ketertarikan pasar di mana batik tulis dikembangkan. “Selama ini pembuatan batik dan pengupahan di level lokal kurang dikaitkan dengan pasar besarnya, entah itu di Indonesia atau di luar negeri. Misalnya negara Swedia, di sana orang suka apa, motif apa. Kalau bisa pahami itu, maka kita bisa punya value yang tinggi,” tuturnya.
Lebih jauh lagi, William meneropong situasi kecilnya upah pembatik tulis dapat berdampak pada ketertarikan orang muda untuk menjadi generasi baru pembatik tulis. Karenanya, pemerintah perlu membuat upaya pemetaan daerah potensial sebagai pasar batik tulis dan memelajari preferensi dan tuntutan pasar di daerah tersebut. Dari situ bisa dibuatkan perencanaan untuk membuat pengembangan batik yang dapat menggerakkan orang muda agar terlibat di dalamnya.
Mendorong upaya menumbuhkan ketertarikan akan batik tulis pun bisa dimulai walau pemerintah belum pasang kuda-kuda. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kegemaran orang muda masa kini untuk mengikuti workshop – khususnya di wilayah urban. Penyelenggara workshop dapat mengadakan kelas membatik tulis. Dengan demikian, orang muda tak hanya menyalurkan keinginan mereka untuk mencoba hal baru tapi juga berpartisipasi pada pelestarian budaya. Nantinya, ketika rasa cinta orang muda akan batik tulis sudah mengakar, mentransformasi kesukaan tersebut menjadi sumber penghaasilan pun jadi lebih terbuka. “Harapannya batik ini bisa menjadi salah satu sumber penghasilan anak muda,” kata William.
IKa sebagai organisasi sumber daya masyarakat sipil mendukung keberlanjutan para pengrajin batik tulis dan pegiat pelestariannya. Diskusi budaya ini sekaligus adalah ajakan untuk berdonasi melalui Pundi Budaya, sebuah program mobilisasi sumber daya IKa yang didedikasikan untuk mendukung seniman, aktivis, dan pembela budaya dan keberagaman.
“Khusus di IKa sendiri kita ada program Pundi Budaya sehingga harapannya melalui kegiatan yang proaktif bisa mendorong pelestarian batik maupun pelestarian budaya Indonesia yang lainnya. Harapannya, di IKa kita akan mengembangkan komunitas pemberdaya, termasuk di dalamnya di bidang batik ini,” papar William.
Membatik bukan hanya sebagai bentuk kesenian; ini juga merupakan cerminan keragaman budaya Indonesia. Selain menjaga keberlanjutan para pengrajin batik, pelestarian batik juga untuk memastikan generasi mendatang masih dapat menyaksikan keindahan batik dan keragaman budaya Indonesia masih terus dirayakan.
Give Back Sale lebih dari sekadar kegiatan penggalangan dana. Ini menjadi simbol persatuan, kepedulian, dan resiliensi. Dari awal perjalanannya di tahun 2016 hingga saat ini, Give Back Sale telah tumbuh menjadi satu kekuatan untuk perubahan. Hingga saat ini, kami telah berhasil menyelenggarakan sembilan acara Give Back Sale secara offline.
Selama pandemi COVID-19, kami menyesuaikan pembatasan dengan mengubah Give Back Sale menjadi acara penggalangan dana online. Dari tahun 2020 hingga 2022, kami berhasil mengadakan 12 acara Give Back Sale online. Melalui penjualan langsung (live)di halaman Facebook IKa, kami mengajak pemirsa dan memberikan kesempatan bagi donatur dari kota lain untuk berpartisipasi dan mendukung gerakan kami.
Selain Give Back Sale online, kami mendirikan toko virtual di Instagram yang menyediakan cara lain untuk mempromosikan dan menjual barang-barang preloved. Platform digital ini memungkinkan kami menjangkau audiens yang lebih luas dan mengembangkan dukungan kami kepada perempuan korban kekerasan di luar batas fisik acara offline kami.
Dalam tiga tahun terakhir, Give Back Sale, baik online maupun offline, berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp262.850.670.
Sumber Barang Preloved Give Back Sale
Melalui upaya kolektif dari para donatur yang dermawan, Give Back Sale bertujuan untuk mendukung Lembaga Pengada Layanan/Women’s Crisis Center (WCC) dalam misi mereka untuk memberikan bantuan hukum dan pemulihan psiko-sosial bagi perempuan korban kekerasan.
Give Back Sale menjadi kesempatan bagi individu, komunitas, dan perusahaan untuk berkumpul dan menunjukkan komitmen mereka dalam memberdayakan perempuan dan membangun harapan. Kami menghargai setiap kontribusi, berapapun nilainya. Karena setiap donasi memiliki kekuatan untuk mengubah hidup dan menciptakan dampak positif.
Kami berterima kasih atas dukungan dan keterlibatan komunitas lokal, seperti komunitas religius di Jakarta, Lajnah Imailah, yang mendukung tujuan kami. Selain kontribusi komunitas, kami juga menerima donasi berharga dari perusahaan ternama seperti The Body Shop, Blibli.com, dan TLSContact. Komitmen dan dedikasi mereka untuk membuat perubahan telah memberikan dampak yang signifikan terhadap kesuksesan Give Back Sale.
Pelibatan Kerelawanan
Kami juga beruntung untuk mendapat dukungan tak ternilai dari para relawan berdedikasi yang menjadi tulang punggung Give Back Sale. Relawan ini adalah bagian dari Komunitas Penggalang IKa dan berasal dari berbagai latar belakang seperti aktivis perempuan dan anak, pelajar, ibu rumah tangga, dan banyak lainnya.
Upaya para relawan di belakang layar sangat penting dalam menciptakan acara penggalangan dana yang terorganisir dan berjalan lancar. Mereka bekerja tanpa lelah untuk memastikan bahwa setiap barang donasi telah dievaluasi, dikategorikan, dan diberi harga dengan hati-hati. Mereka memastikan bahwa para pendonor dapat menemukan barang-barang preloved berkualitas sambil mendukung tujuan mulia.
Pelaksanaan Give Back Sale
Give Back Sale berlangsung selama tiga hari di Ke:kini ruang bersama, berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat. Ruang yang semarak ini menyediakan lingkungan yang ramah bagi para donatur.
Give Back Sale menarik beragam donor. Namun, mayoritas peserta kami adalah perempuan berusia 25 hingga 45 tahun. Demografi yang antusias ini mencerminkan komitmen perempuan untuk saling memberdayakan dan memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka yang membutuhkan.
Di Give Back Sale, kami sangat percaya dalam mendukung pemberdayaan dan kewirausahaan perempuan. Sebagai bentuk komitmen, kami mengundang pengusaha perempuan yang menawarkan barang atau jasa untuk memamerkan dan menjual produk mereka di acara kami. Kolaborasi ini tidak hanya menyediakan platform bagi mereka untuk mengembangkan bisnis, tetapi juga memperkuat jaringan pendukung pemberdayaan perempuan. Beberapa contoh pengusaha perempuan yang telah berpartisipasi dalam Give Back Sale antara lain tarot reading, kelas kecantikan, dan kelas yoga.
Memaksimalkan Dampak: Mengurangi Sampah dan Memberdayakan Masyarakat
Setelah pelaksanaan Give Back Sale, kami kerap menemukan bahwa ada barang-barang preloved yang belum terjual. Guna memastikan barang-barang ini tidak terbuang sia-sia, kami menerapkan dua pendekatan untuk mengurangi jumlahnya.
Pendekatan pertama adalah melalui donasi atau menyerahkan barang ke organisasi lain yang mengadakan acara serupa seperti Give Back Sale. Ini tidak hanya menguntungkan organisasi dengan menyediakan inventaris untuk acara mereka, tetapi juga berkontribusi pada tujuan keseluruhan untuk mendukung inisiatif organisasi masyarakat sipil lain.
Pendekatan kedua melibatkan pemberian barang tersebut kepada individu atau masyarakat yang kurang mampu di sekitar lokasi Give Back Sale. Ini memperpanjang kebergunaan barang dan membantu komunitas lain.
Melalui inisiatif ini, kami menunjukkan dedikasi kami terhadap pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dan bijaksana. Bersama-sama, kita dapat membuat perubahan dengan memberikan kembali kepada masyarakat dan mempromosikan budaya kepedulian dan saling mendukung.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) sebagai Sekretariat Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) menjadi salah satu penyelenggara di Open Government Week (OG Week) yang diselenggarakan oleh Open Government Indonesia (OGI). Kegiatan ini bertujuan mendorong percepatan pelembagaan KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) yang menjadi komitmen bersama Kementerian/Lembaga terkait dan organisasi masyarakat. Turut mendukung kegiatan ini Yayasan TIFA. Diskusi publik diselenggarakan pada Rabu 10 Mei 2023.
Diskusi berlangsung secara luring dan daring di Hotel Grand Hyatt yang diikuti dari komponen organisasi masyarakat sipil, komunitas pendamping korban, kementerian/lembaga terkait dan masyarakat umum. Harapan IKa sebagai Sekretariat KKPK agar OGI terus mengawal komitmen lahirnya pelembagaan KKR sebagai jalan penyelesaian non-yudisial pelanggaran HAM dengan partisipasi dari masyarakat sipil.
Global Inklusi untuk Perlindungan HIV & AIDS (GIPA) merupakan penerima Hibah Pundi Perempuan Termin I Tahun 2022 yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan. GIPA memiliki fokus pada advokasi dan pendampingan bagi kasus kekerasan yang terkait langsung dengan HIV dan AIDS dan reformasi kebijakan HIV di Sulawesi Selatan dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) dan feminisme. GIPA berdiri pada tahun 2008 dan terdaftar secara resmi di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) pada tahun 2012.
Pada tahun 2009, GIPA menginisiasi pembentukan Aliansi HAM untuk HIV dan AIDS Sulawesi Selatan/Barat sebagai wadah bersama dalam melakukan advokasi kasus dan kebijakan reformasi HIV dan AIDS di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. GIPA juga mengorganisir 25 Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di isu HAM dan perempuan.
Interseksionalitas kekerasan dan HIV/AIDS menimbulkan tantangan yang signifikan bagi perempuan yang mengalami keduanya. Perempuan yang mengalami kekerasan mungkin mengalami kesulitan meninggalkan pelaku karena takut akan ancaman atau kekurangan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hidup dengan HIV/AIDS juga dapat mempersulit akses bantuan hukum, karena diskriminasi dan stigma dapat mencegah perempuan menerima perlakuan yang adil dalam sistem hukum. Memahami ini, Global Inklusi untuk Perlindungan HIV dan AIDS (GIPA) memberikan pendampingan bagi perempuan rentan atau dengan HIV/AIDS.
Selama periode pemanfaatan Hibah Pundi Perempuan, GIPA mendampingi 30 kasus kekerasan berbasis gender. Di tahap awal, GIPA akan melakukan penjangkauan langsung dengan pendekatan peer outreach, di mana penjangkauan korban dilakukan oleh penyintas dengan kapasitas paralegal.
Dalam implementasi perlindungan korban HIV dan kekerasan berbasis gender, GIPA memberikan pelayanan gender equity justice dengan mekanisme rujukan kepada Lembaga Bantuan Hukum, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, kepolisian, dan termasuk dukungan pemulangan korban ke kota dan/atau provinsi tujuan di dalam dan luar wilayah Sulawesi Selatan. Kasus-kasus yang masuk dalam ranah pendampingan GIPA adalah perempuan dan individu dengan identitas LGBT korban kekerasan dengan atau rentan HIV, hingga perempuan korban eksploitasi dan/atau penyalahgunaan narkoba.
GIPA melibatkan Organisasi Bantuan Hukum (OBH) yang tergabung dalam Aliansi HAM untuk HIV dan AIDS Sulawesi Selatan/Barat melalui sistem rujukan (referral system) untuk melakukan pendampingan. Pendekatan berjejaring yang dilakukan GIPA adalah upaya melawan hambatan yang disebabkan lambatnya pelayanan Aparat Penegak Hukum (APH), serta untuk saling menguatkan dan melengkapi ketidakcukupan kapasitas OBH dalam memberikan pelayanan akibat situasi kelembagaan atau tekanan pihak eksternal.
Tak hanya memberikan pendampingan kasus, GIPA juga mendukung pemberdayaan para penyintas yang pernah didampingi. Dalam kisahnya untuk pemanfaatan Hibah Pundi Perempuan, sebanyak 2 perempuan penyintas dengan HIV telah bersedia untuk bisa membantu dalam penguatan korban lain dan terlibat dalam kerja-kerja serupa di GIPA.
Dalam rangka mengajak orang muda untuk lebih memahami tentang krisis iklim, Forum Orang Muda untuk Kemanusiaan (FORA) mengadakan acara diskusi dan nonton bareng film Climate Witness yang bertajuk “Cerita Inspirasi dari NTT untuk Orang Muda” pada Kamis (16/03) pukul 13.00 WIB yang bertempat di Kekini CoWorking Space, Jakarta Pusat. Kegiatan ini didukung oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).
Krisis iklim merupakan isu yang sangat mendesak yang menuntut untuk segera ditangani. Hal ini disebabkan perubahan iklim yang terjadi dapat mempengaruhi banyak hal, seperti kesehatan, lingkungan, hingga kelangsungan hidup manusia di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan peran orang muda, sebagai pewaris planet ini, dalam menangani masalah tersebut.
Untuk menyemarakkan acara diskusi, FORA turut mengundang tiga narasumber yang bergerak di isu lingkungan, yakni Eulis Utami dari Hutan Itu Indonesia, Arya Pramuditha dari Extinction Rebellion Indonesia, dan Rivani yang merupakan perwakilan dari Koprol Iklim serta dipandu oleh Alva Maldini selaku koordinator FORA.
Acara ini diawali dengan nonton bareng film Climate Witness yang terbagi menjadi empat potongan film dengan masing-masing membawa solusi isu iklim yang berbeda. Kemudian, dilanjutkan dengan perkenalan komunitas FORA dan kegiatan fundraising Pundi Hijau, salah satu program pemberdayaan dari IKa.
“Pundi Hijau bergerak dengan mengembangkan komunitas pemberdaya sebagai ekosistem pendukung. Pundi Hijau juga mengembangkan ketahanan pangan lokal berbasis komunitas yang terkena dampak kebencanaan,” terang Alva Maldini, Koordinator FORA sekaligus moderator acara, menjelaskan program Pundi Hijau kepada para peserta dan mengajak mereka untuk melakukan donasi sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.
Selanjutnya adalah sesi diskusi dan sesi tanya jawab dengan peserta. Tak ketinggalan, acara tersebut juga diselingi dengan sesi perkenalan masing-masing komunitas, baik yang dibawa oleh narasumber maupun peserta diskusi.
Sekilas tentang Climate Witness
Climate Witness merupakan film dokumenter yang menceritakan tentang empat tokoh inspiratif dari Nusa Tenggara Timur yang telah melakukan berbagai inisiatif aksi iklim, mulai dari pengelolaan hutan mangrove, pendampingan warga pesisir terdampak, kearifan lokal masyarakat adat hingga keterlibatan anak muda dalam memberikan edukasi di lingkungan sekitarnya.
“Banyak inisiatif dari orang NTT dalam melakukan aksi iklim yang kurang dipublikasikan,” jelas Eulis Utami, perwakilan dari Hutan Itu Indonesia, saat ditanya alasan memilih orang NTT sebagai tokoh utama dalam film ini. “Yang mereka lakukan sudah berkontribusi untuk global,” tambahnya.
Film yang berdurasi 60 menit ini diharapkan bisa menghadirkan inspirasi positif kepada publik dan menjadi pembelajaran bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk mulai melakukan aksi yang bisa menghadirkan dampak positif terhadap iklim.
“Dari film ini kita bisa belajar bahwa masyarakat lokal malah bisa menjadi contoh bagi masyarakat transnasional,” komentar Arya Pramuditha, narasumber dari Extinction Rebellion Indonesia.
Apa yang Bisa Orang Muda Pelajari?
Film ini memberikan pelajaran kepada orang muda bahwa krisis iklim benar-benar sedang terjadi dan perubahan iklim itu nyata adanya, bahkan sampai dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di daerah kecil yang notabene jauh dari hiruk pikuk kehidupan di perkotaan.
Pelajaran selanjutnya adalah bahwa untuk menangani krisis iklim sebenarnya bisa dimulai dengan melakukan langkah-langkah kecil yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan menanam pohon, sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat pesisir NTT yang berinisiatif untuk mengembangkan dan melestarikan hutan mangrove.
Selain itu, pendidikan merupakan senjata utama yang bertujuan, selain menambah pengetahuan bagi manusia, juga bisa menjadi jembatan dalam menyatukan gap yang terjadi antar generasi yang berbeda, generasi muda dan generasi tua.
“Dari pendidikan bisa bersinergi antara satu sama lain, antar generasi tanpa adanya intervensi,” tutur Rivani dari Koprol Iklim.
Adapun gambaran mengenai peran pendidikan dalam menangani krisis iklim bisa kita saksikan dalam film ini melalui kisah perjuangan Selia saat mendirikan dan menggerakkan Cahaya Anak Sumba, wadah yang menjadi pusat kegiatan belajar holistik bagi masyarakat Sumba, terutama anak-anak dan orang muda.
Terakhir, acara yang berlangsung kurang lebih dua jam ini menjadi ajang berkenalan dan bertukar perspektif antar sesama orang muda. Mereka memperkenalkan diri dan komunitasnya serta menceritakan pengalaman terkait hal kecil yang sudah mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga lingkungan dan menangani krisis iklim.
“Semoga ke depannya FORA bisa menjadi wadah diskusi bagi orang muda terkait berbagai isu dan dari diskusi tersebut bisa menciptakan solusi dan aksi nyata,” tutup Alva Maldini menandai berakhirnya acara nobar dan diskusi.