Mengembangkan Konsep Sumber Daya Transformatif, Pendekatan Ekonomi Solidaritas:  Sebagai Sarana Ekonomi dan Tujuan Gerakan Sosial Politik

Forum Belajar Sumber Daya Baru ke lima (FAJAR #5) berlangsung pada Rabu, 5 Juni 2024 dengan tema:”AKAR DAYA: Mengembangkan Konsep Sumber Daya Transformatif, Pendekatan Ekonomi Solidaritas:  Sebagai Sarana Ekonomi dan Tujuan Gerakan Sosial Politik. Forum yang berlangsung secara daring ini menghadirkan aktivis dan penggerak gerakan sosial yang sudah menerapkan pendekatan ekonomi solidaritas guna memastikan keberlanjutan gerakan sosial yang sedang dilakukan masing-masing. Dina Lumbantobing dari Perkumpulan Sahda Amo (Pesada) Sumatera Utara, Romlah dari Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Jakarta Timur, Stefanus Masiun dari Credit Union (CU) Keling Kumang, Pontianak, Kalimantan Barat, Ngurah Termana dari Taman 65, Bali hadir sebagai pembicara selain juga Komunitas Pemberdaya, Pengurus serta Badan Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Kamala Chandra Kirana juga hadir sebagai fasilitator.

Forum Belajar Sumber Daya Baru (FAJAR) adalah ruang belajar untuk mengembangkan konsep sumber daya transformatif bagi gerakan sosial, merespon penyempitan ruang gerak masyarakat sipil. Forum sudah berlangsung sejak akhir 2023 ini mendiskusikan lima isu utama: aset, pemanfaatan, pengembangan, ekosistem, keberlanjutan, dan penyebaran inisiatif ke komunitas lain. Salah satu pendekatan alternatif yang sangat relevan dan penting dalam ruang perbincangan dan pencarian sumber daya transformatif tersebut adalah bagaimana menemukan, membangun dan merawat keberlanjutan gerakan masyarakat sipil yang berbasis pada pendekatan ekosistem sosial ekonomi yang berlandaskan pada asas saling percaya, saling merawat dan saling bahu-membahu (solidaritas). Bagaimana pendekatan, model dan praktik ekonomi solidaritas seperti koperasi atau alternatif lainnya dapat menjadi sarana ekonomi untuk tujuan gerakan.

Dina Lumbantobing sebagai pembicara pertama membuka forum dengan cerita mengenai tantangan yang dihadapi saat bertemu dengan wilayah suku minoritas, Pakpak yang jarang dikenal di Sumatera Utara pada tahun 90-an dan melihat kemiskinan di sana  yang memengaruhi perempuan sehingga kemudian memulai pendekatan melalui program untuk anak-anak dan memperhatikan betapa berat beban perempuan dalam masyarakat. Dengan dukungan Ashoka dan pengalaman di Bina Swadaya, Dina mengedukasi perempuan tentang menabung, pengelolaan ekonomi, dan hak asasi manusia. Gerakan tersebut berkembang menjadi kelompok simpan pinjam dan Credit Union (CU), yang memberdayakan perempuan secara ekonomi dan politik. Kini, perempuan Pakpak terlibat aktif di politik lokal, dan gerakan ini terus berdampak positif di berbagai kabupaten.

Romlawati dari PEKKA berbagi pengalaman bagaimana awal aktivitas PEKKA yang dirintis oleh Nani Zulminarnsi. Bermula dari mendokumentasikan kehidupan perempuan kepala keluarga, para perempuan ini kemudian diajak berorganisasi, dan kegiatan simpan pinjam dipilih sebagai pintu masuk untuk memberdayakan perempuan yang sebagian besar sangat miskin. Simpanan awal yang sangat kecil  dan ternyata mengikat mereka sebagai perempuan kepala keluarga. Setelah melakukan kegiatan simpanan selama tiga bulan, simpanan tersebut bisa digunakan sebagai pinjaman, termasuk untuk pendidikan dan kesehatan. Pada 2004, kelompok-kelompok simpan pinjam mulai bergabung di tingkat kecamatan hingga kabupaten. Pekka juga mengembangkan usaha grosir melalui PekkaMart untuk kebutuhan dasar anggota, dan di tahun 2016, Koperasi Artakarya dibentuk untuk membantu pemasaran produk ibu-ibu Pekka. Pekka membangun rantai pasok lokal dan mengadakan pasar-pasar yang tidak hanya menggunakan uang tetapi juga barter. Pekka menekankan ekonomi yang adil, mendukung pendidikan, dan advokasi kebijakan lokal yang mendorong kesejahteraan anggotanya.

Integrasi Islam dan Ekologi: Inovasi Kurikulum Green Islam di Pesantren Ath Thaariq

“Kami percaya bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab spiritual kita sebagai umat Islam. Dengan pemikiran itulah, kami merancang kurikulum berbasis Green Islam untuk mendidik santri dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam sesuai dengan ajaran Islam,” ujar Nisya Saadah, pendiri Pesantren Ekologi  Ath-Thaariq Garut pada Jumat, 2 Agustus 2024, melalui pertemuan online bersama Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

Nisya Saadah, atau yang akrab disapa teh Nisya menyampaikan bahwa kurikulum ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga pada bagaimana ajaran Islam dapat diterapkan dalam konteks perlindungan lingkungan dan bertujuan untuk mengintegrasikan ajaran Islam dengan prinsip-prinsip ekologi, agroekologi, ekofeminisme serta menegaskan peran penting pesantren dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat hubungan manusia dengan alam berdasarkan nilai-nilai keislaman. Atau dengan kata lain kurikulum ini menjadi bagian dari upaya untuk menjadi rahmatan lil alamin, atau rahmat bagi seluruh alam.

Melalui integrasi tiga komponen utama, yaitu Kurikulum Agama Islam sebagai Agama Semesta, Kurikulum Ekologi, dan Kurikulum Ekofeminis, Teh Nisya mengajarkan para santri di Pesantren Ath-Thaariq untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam menjaga lingkungan, seperti konsep Tauhid, Khalifah (wakil di muka bumi), dan Fitrah (kesucian).

Sejak 2008, Pesantren Ath-Thaariq telah dikenal sebagai pelopor dalam pendidikan berbasis ekologi di Indonesia. Pesantren ini mengajarkan santri untuk bertani, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, dan memperkuat hubungan antara manusia dan alam sebagai bagian dari ibadah mereka.

“Kami berharap kurikulum ini tidak hanya bermanfaat bagi santri di pesantren, tetapi juga dapat diimplementasikan oleh masyarakat luas yang peduli terhadap lingkungan,” tambah Nisya.

Kurikulum Green Islam  sendiri merupakan gagasan  teh Nisya bersama Salwa Khanza (putrinya) dan Tarmizi, Ketua Ekologi Indonesia sejak 15 September hingga 24 November 2023. Hal yang membedakan kurikulum Green Islam yang disusun teh Nisya dan tim terletak pada Kurikulum Ekofeminis yang disampaikan. Hal ini karena kerap kali Green Islam hanya dipandang sebagai kepanjangan Fiqih Lingkungan. Padahal lingkup Green Islam lebih luas karena mengartikulasikan nilai-nilai dan elemen dalam Islam, di antaranya Tauhid, Fiqih Lingkungan, Akhlak Lingkungan, Kesetaraan, Amanah, Keadilan, Amal Sholeh, dsb. 

Dasar dari penulisan kurikulum ini sendiri berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama. Kurikulum berbasis epistemologi ini dapat dikatakan sebagai pengantar karena masih ada beberapa pembahasan lebih jauh. Meski demikian, kurikulum ini sangat penting dipelajari baik dari kalangan santri, mahasiswa, umum, hingga konsultan Pembangunan karena menggunakan pendekatan Islam yang holistik dan universal. Pesantren At-Thariq adalah salah satu mitra Pundi Hijau Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) tahun 2023 yang  mendapat dukungan dari ClimateWorks Foundation.

Solidaritas bagi Bu Betet:  Ketegaran Hati yang Menginspirasi

Kamis 18 Juli 2024, musibah kebakaran menimpa rumah Bu Betet (nama panggilan untuk Ibu Sumiyati) seorang penyintas 65. Peristiwa kebakaran terjadi pada sore hari, saat Ibu sedang beribadah ke gereja. Kebakaran berhasil dipadamkan dengan bantuan warga setempat bersama pemadam kebakaran dan hanya menyisakan tembok pada beberapa sisi rumah dan beberapa kursi yang masih cukup layak untuk digunakan. Bu Betet pada masa mudanya adalah juga seorang perias pengantin, Ibu tidak segan memberi pengurangan bahkan tidak keberatan ketika pengantin tidak memiliki dana tidak ada bayaran bagi pekerjaannya. Beberapa waktu ini, rumah Bu Betet kerap kali digunakan untuk menjadi tempat tinggal bagi  mahasiswa yang tengah melangsungkan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desanya. Tak mengherankan jika dibalik musibah yang terjadi, muncul kehangatan yang tak terduga. Tetangga dan kerabat segera berdatangan untuk memberikan simpati dan dukungan. 

Sehari selepas musibah kebakaran, bantuan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) datang. Bersama dengan tetangga, mereka bahu-membahu membangun kembali rumah Bu Betet. Hal ini menggerakkan hati Mas Ari, salah satu tetangga Bu Betet yang juga seorang kontraktor yang dengan sukarela menanggulangi  biaya pembangunan kembali rumah tersebut. Sebuah tim bahkan dibentuk oleh masyarakat sekitarnya, untuk memperlancar proses pembangunan, mengurus dapur umum, dan mengelola segala bantuan yang masuk.

Bu Betet merupakan sosok yang tangguh, baginya, “Derita jika dijalankan memang menyakitkan namun kalau dihayati indah pada waktunya.” Ia selalu menebar senyum dan tidak sedikitpun memperlihatkan kesedihannya saat para relawan datang menemuinya. Selama proses pembangunan kembali rumahnya Bu Betet memilih tinggal di tenda yang diberikan Kemensos walau beberapa warga menawarinya bermalam di rumah mereka. Namun Ia menolak dan memilih tetap tinggal dan bermalam di halaman rumahnya. Rumah yang penuh kenangan. 

Bu Betet adalah juga seorang yang tak pernah lepas dari doa dan syukur. Atas solidaritas yang mengalir dari banyak orang, melampaui yang dia bayangkan, Ibu mengucapkan banyak terima kasih dan mendoakan para relawan dan donatur. Menurut Ibu, yang pernah hampir kehilangan nyawa karena ditangkap dalam tragedi 65, kehilangan materi bukanlah hal yang terberat. Sikap Ibu yang tegar ini mengundang rasa takjub dari relawan ataupun donatur yang berkunjung, alih-alih menghibur Bu Betet, malah mereka yang belajar banyak dari kearifan beliau.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) sebagai organisasi dengan  visi memperjuangkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan sejahtera bagi semua , melakukan penggalangan donasi. Dan mengumpulkan bantuan sebesar Rp. 8.500.000 yang disalurkan kepada Bu Betet melalui mitra IKa, Sekretariat Bersama (Sekber) 65. Sekber 65 sendiri merupakan organisasi paguyuban para penyintas 65 yang kegiatannya fokus pada pendampingan lansia penyintas. IKa juga menyempatkan diri hadir mengunjungi Bu Betet, sebelum meninggalkan lokasi, Ibu berpesan,”Jadilah orang yang berguna”.

Mengembangkan Konsep Akar Daya; Pengelolaan Sumber Daya Mandiri dan Berkelanjutan di Komunitas Lokal

Forum Belajar ke-empat (FAJAR #4) diadakan pada Kamis, 30 Mei 2024, di kantor Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Acara ini menghadirkan pakar yang terdiri dari penggerak, aktivis, dan akademisi yang berbagi pengalaman dalam pengelolaan sumber daya gerakan sosial berbasis kemandirian, keswadayaan, dan keberlanjutan. Para pembicara termasuk Prof. Dr. Melani Budianta dari Jaringan Kampung Nusantara, Noer Fauzi Rahman Ph.D, Farida dan Wakhit Hasyim dari Wangsakerta, serta Hambali dari Mitra Aksi, dengan Kamala Chandra Kirana sebagai fasilitator.

FAJAR #4 merupakan ruang belajar untuk mengembangkan konsep sumber daya transformatif bagi gerakan sosial, merespon penyempitan ruang gerak masyarakat sipil. Forum ini mendiskusikan lima isu utama: aset, pemanfaatan, pengembangan, ekosistem, keberlanjutan, dan penyebaran inisiatif ke komunitas lain.

Noer Fauzi Rahman berbagi pengalaman mengelola sumber daya advokasi agraria melalui Perhutanan Sosial dengan pendekatan agro-ekologi, sedangkan Farida dan Wakhit Hasyim dari Wangsakerta menceritakan pengorganisasian ekonomi komunitas berbasis agro-kultur di Cirebon. Hambali dari Mitra Aksi berbagi tentang kapitalisasi aset transformatif yang mencakup pengembangan aset lembaga dan komunitas. Prof. Dr. Melani Budianta membahas pengalaman Jaringan Kampung dalam memaknai aset sebagai pusat perjuangan melawan kemiskinan dan penaklukan kota.

FAJAR #4 juga membahas pembangunan keberlanjutan dan ekosistem pengembangan sumber daya transformatif serta pentingnya pewarisan pengetahuan. Forum ini merekomendasikan pemetaan komunitas berbasis kolektivitas dan keterkaitan dengan misi gerakan sebagai langkah awal untuk membangun model praktik komunitas dalam pengembangan sumber daya mandiri dan berkelanjutan.

Galang Relawan untuk Berdaya

Dalam dunia yang semakin terhubung dan dinamis, relawan memainkan peran penting dalam mendukung dan memperkuat organisasi nirlaba serta inisiatif-inisiatif kemanusiaan. Buku ini hadir
untuk memberikan panduan mengenai manajemen relawan, dengan fokus khusus pada transformasi daya komunitas, peran relawan millennial dan Gen Z, serta pengelolaan yang terstruktur untuk mencapai dampak sosial yang berkelanjutan.


Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) telah menginisiasi model “Catur Daya” yang mencakup dana, pengetahuan, jejaring, dan kerelawanan sebagai pilar utama dalam ekosistem komunitas pemberdaya.
Kerelawanan dalam model ini bukan hanya sekedar kontribusi tenaga, tetapi juga penyaluran semangat solidaritas dan berbagi daya yang penting bagi pemberdayaan dan transformasi komunitas.

Rekrutmen Terbuka (Manajer Galang Daya dan Komunikasi)

Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

Galang Daya:

  • Mengembangkan dan mengkoordinasi pelaksanaan inisiatif penggalangan dana, termasuk crowdfunding, fundraising individu/regular, dan kegiatan Give Back Sale.
  • Membangun dan mengelola kemitraan dengan perusahaan dan lembaga donor untuk mendukung kegiatan dan program organisasi.
  • Menyusun proposal untuk kegiatan dan program jangka menengah dan panjang yang memerlukan pendanaan.
  • Mengembangkan dan merawat hubungan antara IKa dengan lembaga donor, perusahaan, dan donatur.

Komunikasi dan Publikasi:

  • Mengembangkan strategi komunikasi dan menyusun materi publikasi yang mendukung pengorganisasian sumber daya.
  • Menyelenggarakan forum dan seminar yang melibatkan relawan dan pihak terkait untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap organisasi.
  • Melakukan rebranding dan promosi aktivitas organisasi kepada publik.

Pemahaman dan Kemampuan Teknologi Informasi:

  • Mengintegrasikan solusi teknologi informasi terkini untuk mendukung upaya penggalangan dana dan komunikasi.
  • Memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk memperluas jangkauan dan efektivitas kampanye penggalangan dana.
  • Mengelola dan mengoptimalkan penggunaan basis data dan sistem serupa dengan CRM untuk memastikan manajemen hubungan yang efisien dengan donor dan relawan.

Koordinasi dan Perencanaan:

  • Mengkoordinasikan penyusunan dan revisi Rencana Strategis dan Rencana Kerja Operasional tahunan bersama dengan Dewan Pengurus dan unit-unit kerja terkait.
  • Membuat dan melaksanakan Rencana Operasional Program serta anggaran tahunan.

Monitoring dan Evaluasi:

  • Melakukan monitoring dan supervisi berkala terhadap pelaksanaan program kerja dan anggaran.
  • Menyusun laporan berkala dan tahunan tentang realisasi kegiatan dan anggaran.

Melakukan Evaluasi atas Kinerja Program dan Mengidentifikasi Area untuk Supervisi dan Pengembangan Kapasitas Tim:

  • Mengawasi dan memberikan arahan kepada tim Divisi Sumber Daya untuk memastikan pelaksanaan tugas sesuai dengan standar yang ditetapkan.
  • Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan keterampilan tim, serta mengorganisir sesi pelatihan dan pengembangan profesional untuk meningkatkan efektivitas tim.
  • Mendorong inovasi dan pertumbuhan pribadi di antara anggota tim, dan memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka.

Kriteria Kandidat untuk Manager Galang Daya dan Komunikasi

Pendidikan dan Pengalaman:

  • Gelar sarjana atau magister di bidang Komunikasi, Manajemen, Bisnis, atau bidang terkait.
  • Memiliki pengalaman bekerja baik di organisasi profit dan non-profit.
  • Pengalaman minimal 3-5 tahun dalam penggalangan daya termasuk dana, komunikasi.
  • Pengalaman minimal 3-5 tahun mengelola proyek/program di organisasi nirlaba atau sektor terkait.
  • Memiliki pengalaman menulis proposal donor internasional.

Keterampilan dan Kompetensi:

  • Keahlian dalam merancang dan mengimplementasikan strategi penggalangan dana.
  • Keterampilan komunikasi yang kuat, baik lisan maupun tertulis, dan kemampuan untuk menyusun publikasi yang efektif.
  • Kemampuan koordinasi dan kerja sama tim yang baik, serta keterampilan manajerial dan kepemimpinan yang efektif.
  • Pengalaman dan penguasaan teknologi, termasuk menggunakan alat dan platform digital yang dapat mengakselerasi kerja-kerja galang dana dan komunikasi.
  • Kemampuan dalam menggunakan dan mengelola platform digital, media sosial, dan sistem CRM sederhana.
  • Keterampilan analitis yang baik dengan pemahaman tentang data dan analisis untuk memandu keputusan strategis.
  • Memiliki kemampuan membaca, menulis dan bercakap-cakap dengan bahasa Inggris yang baik.

Kualitas Pribadi:

  • Inisiatif tinggi, motivasi diri, dan kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan dengan tenggat waktu yang ketat.
  • Dedikasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial-gender, menghormati HAM, dan kelestarian lingkungan.
  • Kemampuan untuk berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menghadapi tantangan.
  • Memiliki kemampuan manajemen tim yang kuat dan pengalaman dalam supervisi serta pengembangan keterampilan tim.
  • Terbuka, menginspirasi dan mudah bergaul dengan berbagai kalangan.

Manajer Galang Daya dan Komunikasi ini harus mampu mengintegrasikan visi organisasi dengan praktik penggalangan dana yang efektif dan komunikasi yang inspiratif, memastikan sumber daya yang berkelanjutan dan dukungan yang meningkat dari berbagai pihak. Manajer Galang Daya dan Komunikasi juga harus memiliki kemampuan untuk memimpin, menginspirasi, dan mengembangkan anggota tim.

*Klik link di bawah ini untuk pengisian lowongan kerja secara lengkap

Forum Belajar FAJAR 3: Mengupayakan Sumber Daya Baru dalam Gerakan Organisasi Masyarakat Sipil

Forum Belajar (FAJAR) 3 yang diselenggarakan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) pada 6 Mei 2024, menarik perhatian banyak pihak yang peduli dengan gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Dengan tema “Akar Daya dan Urgensi Agenda Transformatif di Tengah Penyempitan Ruang Gerak Masyarakat Sipil,” forum ini menjadi wadah refleksi dan diskusi mengenai pentingnya menumbuhkan sumber daya baru yang transformatif untuk mencapai keadilan sosial dan hak asasi manusia.

Bagian Pertama: Akar Daya dan Urgensi Agenda Transformatif

Kamala Chandra Kirana, Ketua Badan Pembina Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), menjadi narasumber utama yang memaparkan situasi ekonomi politik sumber daya organisasi masyarakat sipil (OMS). Dalam pemaparannya, Kamala menggarisbawahi ketergantungan OMS pada donor internasional, di mana 85% pendanaan OMS bergantung pada sumber luar negeri. Salah satu yang menjadi sorotan adalah ketimpangan alokasi dana, dengan 88% pendanaan hak asasi manusia mengalir ke negara-negara global utara, sementara Asia Pasifik hanya menerima sebagian kecil dari alokasi tersebut.

Kamala juga membahas inisiatif global seperti The Grand Bargain dan gerakan #ShiftThePower yang berupaya mengubah pola relasi kuasa dalam pendanaan OMS. Ia menekankan perlunya merefleksikan akar daya dan menemukan sumber daya selain dana, seperti jaringan, kerelawanan, dan pengetahuan yang menjadi bagian dari Catur Daya IKa.

Bagian Kedua: Cara Pandang Reflektif dan Kritis

Pada bagian ini, Kamala mengajak peserta FAJAR yang berasal dari berbagai organisasi masyarakat sipil yang berbasis di Jakarta dan sekitarnya untuk merenungkan dan mencari pendekatan alternatif dalam mengupayakan sumber daya transformatif. Ia menyoroti pentingnya kesadaran kritis dalam menghadapi ketimpangan sistem pendonoran dan menekankan perlunya gerakan masyarakat sipil untuk merefleksikan akar daya mereka sendiri.

Kamala juga memperkenalkan Catur Daya IKa yang meliputi dana, jaringan, kerelawanan, dan pengetahuan. Menurutnya, ketersediaan dana tanpa didukung oleh sumber daya lainnya tidak akan efektif dalam mencapai dampak yang diinginkan. Ia mendorong gerakan masyarakat sipil untuk membongkar mindset mereka mengenai sumber daya dan menemukan jalan baru ke depan.

Bagian Ketiga: Berbagi Pandangan dan Praktik Baik

Proses belajar bersama dalam FAJAR 3 membuka ruang bagi peserta untuk berbagi pandangan, refleksi kritis, dan praktik baik mengenai pengelolaan sumber daya OMS. Diskusi interaktif ini menyoroti ketergantungan OMS pada donor internasional dan ketimpangan relasi kuasa yang terjadi. Peserta juga merefleksikan pentingnya kesadaran kritis dalam menghadapi tantangan ini.

Beberapa praktik baik yang dibahas termasuk pengorganisasian gerakan berbasis iuran anggota, peluang terkait keanggotaan Indonesia dalam G20 dan OECD, serta penggunaan platform digital untuk penggalangan dana. Ide untuk menumbuhkan lebih banyak intermediary organization juga muncul sebagai salah satu solusi untuk memperkuat sumber daya OMS.

Bagian Keempat: Konsensus FAJAR ke Depan

Pada bagian akhir, FAJAR 3 membahas konsensus mengenai waktu, proses, dan substansi isu/topik yang akan dibahas ke depan. Tiga hal substansi yang disepakati adalah pentingnya FAJAR sebagai ruang belajar bersama yang harus terus dilakukan, memfasilitasi berbagi pengalaman dan pengetahuan melalui tulisan, dan mengumpulkan pengalaman kecil di tingkat lokal/desa.

Dalam hal proses dan waktu, disepakati bahwa FAJAR dapat diadakan setiap 2-3 bulan sekali dengan media pertemuan yang fleksibel, baik online maupun offline. Tempat dan lokasi penyelenggaraan dapat bergilir untuk memastikan keterlibatan jaringan dan komunitas akar rumput di luar Jakarta.

Forum Belajar FAJAR 3 berhasil menjadi platform penting untuk refleksi kritis dan berbagi pengetahuan dalam upaya mengatasi tantangan yang dihadapi oleh organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Dengan konsensus yang tercapai, diharapkan FAJAR dapat terus menjadi ruang bersama yang efektif untuk mengupayakan sumber daya baru yang transformatif demi keadilan sosial dan hak asasi manusia.

PENGUMUMAN Hibah Komunitas Muda Berdaya

Hi Sahabat IKa,

Terima kasih buat kalian yang udah ikutan dalam Call for Youth Community Komunitas Muda Berdaya yang kita buka kemarin. Maaf ya kalau pengumumannya agak telat dari jadwal. Setelah seleksi yang panjang, terpilih 10 komunitas dari 3 wilayah Kalimantan, NTB, dan Maluku.

Selamat buat 10 komunitas keren yang udah terpilih jadi bagian dari Komunitas Muda IKa!

Give Back Sale (GBS) Pundi Perempuan

Hi sahabat IKa,

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan kembali mengadakan Give Back Sale (GBS) Pundi Perempuan. Barang preloved yang tersedia berupa tas lokal dan branded, sepatu, baju, pakaian dewasa baik etnik maupun modern, kain tradisional (batik, tenun, ulos, songket), peralatan bayi, mainan anak, aksesoris (anting, bros, kalung, kacamata, jam tangan), buku berbagai tema, peralatan rumah tangga dll.

GBS Pundi Perempuan diadakan pada:

Waktu: Rabu – Sabtu, 24 – 27 Juli 2024
Pukul: 10.00 – 20.00 WIB
Tempat: Ke:Kini Ruang Bersama
Jl. Cikini Raya No. 43-45 Menteng, Jakarta Pusat

Give Back Sale merupakan sebuah acara galang dana publik melalui penjualan barang-barang pre-loved yang hasilnya digunakan untuk kerja-kerja pendampingan perempuan korban kekerasan di Indonesia yang dikelola oleh lembaga pengada layanan atau Women Crisis Center (WCC).

Yuk hadir, jangan sampai terlewatkan!

Info lebih lanjut : 0813-8673-5816 (IKa)

Give Back Sale (GBS)

Hallo, Sahabat IKa!

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan mengajak kamu mendonasikan barang-barang preloved untuk Give Back Sale (GBS) yang akan dilaksanakan secara offline. Hasil dari penjualan GBS, akan disalurkan kepada lembaga pengada layanan atau Women Crisis Centre (WCC) yang memberikan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan di Indonesia.

Jenis dan ketentuan barang preloved yang bisa kamu donasikan dapat dilihat pada poster!

Kamu juga bisa antar atau kirimkan barang preloved kamu ke kantor Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa)
Ke:kini Ruang Bersama
Jl. Cikini Raya No. 43-45, Menteng,
Jakarta Pusat
Kontak: 0813-8673-5816

Mohon pengantaran/pengiriman dilakukan:
Senin-Jumat, Pkl. 10.00-17.00 WIB
Sabtu, Pkl. 10.00-15.00 WIB

Batas pengumpulan barang preloved:
18 – 28 Juni 2024

Jangan sampai terlewat, ya! Yuk kosongkan lemarimu dan ajak teman-temanmu berdonasi.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!